Kondisi ekonomi Iran 'mati lemas' dalam suasana demonstrasi besar-besaran. Tidak hanya merosot, mata uang Iran (rial) ambles total sehingga nilai tukarnya begitu kecil.
Penelusuran detikJogja pada Rabu (14/1/2026) pukul 09.21 WIB menunjukkan 1 rial Iran punya nilai tukar 0,00 euro. Begitu juga bila dikonversi ke dolar Amerika Serikat (AS).
Laman Bonbast menyebut 1 dolar Amerika Serikat sama dengan 141.950 toman. Berhubung 1 toman bernilai 10 rial, maka 1 dolar AS sebanding dengan 1.419.500 rial. Adapun dikonversi ke Indonesia, data Google menyebut 1 rial setara dengan 0,015 rupiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tanda tanya muncul dari seantero masyarakat global. Apa yang menyebabkan mata uang Iran anjlok? Baca sejumlah penyebabnya melalui uraian di bawah ini, yuk!
Poin Utamanya:
- 1 dolar Amerika Serikat setara dengan 1,4 juta rial Iran. Dikonversi ke rupiah, 1 rial setara dengan 0,015 rupiah.
- Keambrukan mata uang Iran bukan proses yang terjadi dalam semalam, melainkan puluhan tahun. Berbagai faktor saling 'bahu-membahu' sebagai penyebabnya.
- Di antara penyebab mata uang Iran anjlok adalah tingkat inflasi tinggi bertahun-tahun, sanksi bertubi-tubi, dan peran IRGC di perekonomian.
Penyebab Mata Uang Iran Anjlok
Keambrukan rial Iran tidak terjadi akibat satu masalah dalam waktu singkat semata, melainkan kombinasi sejumlah faktor yang kompleks. Berikut beberapa di antaranya:
1. Tingkat Inflasi Tinggi
Inflasi praktis dikatakan sebagai musuh utama mata uang negara mana pun, termasuk rial. Data Trading Economics menunjukkan inflasi Iran menjadi parah dalam 8 tahun terakhir.
Pada November 2015, rate inflasinya masih ada di angka 10%. Angka ini mungkin tampak kecil. Faktanya, laman Investopedia menyebut inflasi di angka 5% lebih tergolong high inflation. Adapun bila menembus 50% lebih, suatu negara bisa dikatakan mengalami hiperinflasi.
Pada April 2018, inflasi Iran sempat turun ke 7,9%. Namun, langsung memburuk beberapa bulan kemudian. Pada Mei 2019, penurunan nilai mata uang Iran sudah bisa dikatakan mengalami hiperinflasi karena berada di rate 52,1%.
Setahun kemudian, yakni pada April 2021, inflasinya tidak membaik karena tetap ada di 49,5%. Titik tertinggi terjadi pada April 2023, di mana rate-nya menyentuh 55,5%. Catatan terakhir Trading Economics, per Oktober 2025, inflasi Iran ada di titik 48,6%.
Sebagaimana detikers ketahui, inflasi menyebabkan kenaikan harga bahan pangan, perumahan, maupun benda-benda lain. Hal ini menyebabkan tekanan pada setiap rumah tangga dan bisnis Iran.
2. Sanksi Bertubi-tubi yang Mendera
Situs Nine News menyoroti peran sanksi yang dikenakan kepada Iran selama puluhan tahun. Sanksi bertubi-tubi yang seperti tanpa akhir ini menyebabkan perubahan kebijakan Iran. Hasilnya, perekonomian negara terdampak.
Sanksi pertama yang didapat Iran datang dari Amerika Serikat pada tahun 1979. Disadur dari Aljazeera, pada tahun itu, mahasiswa Iran menyerbu kedutaan besar AS di Teheran dan menyandera warga sipil.
Atas aksi itu, juga karena Revolusi Islam yang menggulingkan Mohammad Reza Pahlavi, AS menghentikan impor minyak dari Iran sekaligus membekukan asetnya sebesar 12 miliar dolar. Produk-produk Iran juga dilarang masuk Negeri Paman Sam.
Bukan hanya AS, Iran juga menderita di bawah sanksi Uni Eropa/European Union (EU). Berdasar penjelasan dari laman Council of the European Union, sanksi ini dijatuhkan karena Iran 'melanggar hak asasi manusia, ekspansi nuklir, dan mendukung agresi Rusia terhadap Ukraina'.
Sanksi yang diberikan meliputi pembekuan aset untuk individu dan entitas, larangan jual-beli, larangan perjalanan, hingga larangan penyediaan dana atau sumber daya ekonomi. Efek domino sanksi-sanksi ini begitu terasa, ditunjukkan dengan terus melemahnya nilai mata uang rial Iran, melonjaknya inflasi, serta menurunnya daya beli masyarakat.
Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) alias UN Security Council juga memberi sanksi kepada Iran berupa pembatasan program nuklir, pemberlakuan embargo senjata, hingga pembekuan aset.
3. Situasi Ekonomi Paralel
Menurut penjelasan dari Euronews, Islamic Revolutionary Guard Corps alias IRGC Iran bukan sebatas kekuatan militer, tetapi juga gurita ekonomi. Bahkan, IRGC mendominasi sebagian besar perekonomian Iran.
Semua bermula pada rekonstruksi pascaperang tahun 1990-an. Perusahaan-perusahaan yang berafiliasi dengan IRGC berhasil mendapat kontrak-kontrak besar dari negara. Keuntungan itu kemudian dipergunakan untuk ekspansi ke pelbagai sektor, seperti minyak, gas, infrastruktur, transportasi, telekomunikasi, dan pertambangan.
Proyek-proyek dari pemerintahan sering kali tidak melalui proses tender yang kompetitif. Hal ini diperparah dengan pengawasan sipil terbatas. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari kinerja sayap paramiliter IRGC, Basij, yang bertugas 'mengontrol' masyarakat.
Akibatnya bisa diduga: bisnis-bisnis swasta perlahan-lahan mati. Sektor sipil formal Iran berjuang habis-habisan di bawah peraturan ketat. Belum lagi menghadapi masalah inflasi mata uang. Sementara itu, bisnis yang terkoneksi dengan IRGC mendapat 'perlindungan' dan 'keamanan' dalam menjalankan roda ekonominya.
"Ketika perusahaan asing meninggalkan Iran dan perusahaan domestik mengalami kesulitan, entitas yang terkait dengan IRGC berada dalam posisi yang lebih baik untuk beroperasi di bawah pembatasan. Mereka mendapat keuntungan dari akses ke mata uang asing, jalur perdagangan informal, dan perlindungan keamanan," tulis Euronews, dikutip pada Rabu (14/1/2026).
Demikian penjelasan ringkas mengenai 3 penyebab mata uang Iran, rial, anjlok nilainya. Semoga bermanfaat.
(sto/apl)












































Komentar Terbanyak
Sultan HB X Angkat Bicara soal Pembubaran Ibadah Gereja di Bantul
Terungkap Detik-detik Pelajar Tewas Dibacok 6 Gangster di Dekat SMAN 3 Jogja
Polisi Minta Ortu Serahkan Buron Pembunuhan di Dekat SMAN 3 Jogja