Playon Jogja menjadi salah satu komunitas lari tertua di Jogja yang masih eksis dan terus berkembang. Seperti apa cerita komunitas Playon Jogja yang telah 13 tahun berdiri ini?
Koordinator Playon Jogja, Robertus Indra, menceritakan komunitas ini bermula dari pendirian IndoRunners Jogja oleh Thea Rizkia pada 2012. Playon Jogja merupakan chapter dari IndoRunners Indonesia yang lebih dulu berdiri di Jakarta.
"Awalnya itu Mbak Thea dulu kerja di Jakarta dan bergabung dengan IndoRunners di sana. Setelah menikah dan kembali ke Jogja, beliau izin ke pengurus pusat untuk mendirikan IndoRunners Jogja. Itu tahun 2012," kata Indra kepada detikJogja, Jumat (9/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berawal dari hanya empat orang pelari pada 2012, komunitas ini sempat mengalami pengalaman tak terlupakan. Tepatnya pada lari perdana Playon Jogja digelar di bulan puasa pada 2012 dengan titik kumpul di salah satu resto cepat saji di Kota Jogja.
Indra menjelaskan saat itu, aktivitas lari malam masih dianggap tidak lazim. Bahkan, setelah sesi lari pertama, para peserta sempat diminta meninggalkan lokasi oleh petugas keamanan.
"Lari Kamis malam pertama itu langsung diusir satpam. Karena habis lari masih ada yang push-up dan sit-up, dianggap mengganggu tamu," ujarnya.
Usai kejadian tersebut, pengurus mencari lokasi alternatif. Berkat relasi pendiri dengan salah satu operator seluler, aktivitas Thursday Night Run (TNR) kemudian berpindah tempat.
"Akhirnya bersurat dan karena ada relasi, diizinkan. Untuk selanjutnya aktivitas TNR-nya itu di Telkomsel, yang sekarang jadi Bank Jateng," ungkap Indra.
Seiring waktu, jumlah anggota Playon Jogja terus bertambah. Dari empat orang, peserta TNR meningkat pesat pada periode 2013-2014 hingga mencapai 50-80 pelari. Indra sendiri bergabung pada 2015, saat jumlah peserta lari malam sudah puluhan orang.
Aktivitas lari komunitas Playon Jogja saat Kamis (8/1/2026) malam. Foto: dok. Playon Jogja |
Indra mengatakan lonjakan signifikan terjadi pascapandemi COVID-19. Jika sebelum pandemi jumlah peserta TNR berada di kisaran 80-120 orang, kini setiap lari Kamis malam bisa diikuti 300 hingga 400 pelari.
"Sekarang tantangannya justru mencari lokasi yang bisa menampung ratusan orang, mulai dari pemanasan sampai parkir. Di venue tertentu, peserta bisa lebih dari 400 orang," jelas Indra.
Indra menyebut Playon Jogja terbuka untuk semua kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Namun, mayoritas pesertanya berasal dari rentang usia 20-40 tahun, didominasi mahasiswa dan pekerja.
Meski tren lari kian masif, Playon Jogja tetap mempertahankan konsep sebagai komunitas non-komersial tanpa iuran dan sistem keanggotaan. Selain latihan rutin setiap Kamis malam dan Minggu pagi, Playon Jogja juga memiliki program khusus persiapan ajang lari besar seperti Borobudur Marathon.
"Agenda kalau Pelayon Jogja ini boleh dibilang kan komunitas lari yang non-komersial, yang terbuka. Terus jadi kita nggak ada sistem membership gitu, nggak ada harus daftar dulu mengisi formulir, ada iuran itu nggak ada," jelasnya.
Indra berharap Playon Jogja bisa terus bertahan dan menjadi warisan bagi generasi selanjutnya.
"Harapannya Playon Jogja tetap eksis puluhan tahun ke depan dan terus mengajak masyarakat Jogja hidup sehat lewat lari," tutupnya.
(ams/ahr)













































Komentar Terbanyak
Tersangka Ijazah Palsu Eggy Sudjana dan Damai Hari Lubis Sowan ke Rumah Jokowi
Kenapa Presiden Venezuela Ditangkap Amerika? Ini Penjelasannya
BNN Bongkar Dapur Happy Water Saset-Vape Etomidate di Ancol