Mengenal 'Ubur-ubur Lari' Komunitas Lari Jogja yang Kalem tapi Agresif

Mengenal 'Ubur-ubur Lari' Komunitas Lari Jogja yang Kalem tapi Agresif

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Kamis, 08 Jan 2026 19:57 WIB
Mengenal Ubur-ubur Lari Komunitas Lari Jogja yang Kalem tapi Agresif
Komunitas Ubur-Ubur Lari Jogja. Foto: Dok Pribadi
Jogja -

Tren lari yang kian menjamur di Jogja ternyata sudah diawali sejak bertahun-tahun lalu. Salah satu komunitas awal di Jogja bernama Ubur-ubur Lari. Komunitas ini berdiri 2018, jauh sebelum olahraga lari menjadi gaya hidup dan konten media sosial seperti sekarang.

Salah satu pengurus Ubur-ubur Lari, Agung, menjelaskan komunitas ini berawal dari kebiasaan berlatih lari beberapa orang di kawasan Grha Sabha Pramana (GSP) UGM. Saat itu, GSP menjadi titik kumpul berbagai aktivitas olahraga warga Jogja.

"Awalnya didirikan oleh Mas Handiwa dan Koh Samuel. Mereka sering latihan lari di GSP UGM sebelum pandemi. Dari situ muncul ide saling mengajak biar konsisten olahraga," ujar Agung kepada detikJogja, Kamis (8/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nama Ubur-ubur Lari sendiri memiliki filosofi unik. Menurut Agung, istilah "ubur-ubur" diambil dari karakter hewan laut tersebut yang terlihat tenang, santai, bahkan lucu, namun sebenarnya memiliki sisi agresif.

ADVERTISEMENT

"Kalem di luar, tapi agresif dalam arti positif. Agresif untuk tetap aktif olahraga dan konsisten lari," jelasnya.

Komunitas ini resmi berdiri pada 10 Maret 2018, di saat event lari di Jogja masih sangat terbatas. Kala itu, event besar seperti Jogja Marathon atau Borobudur Marathon masih menjadi ajang utama, sementara lomba 5K atau 10K belum seramai sekarang.

Saat ini, Ubur-ubur Lari memiliki sekitar 30-50 anggota aktif yang rutin mengikuti agenda mingguan. Latihan lari biasanya digelar setiap Selasa di Mandala Krida, sementara Kamis serta akhir pekan diisi dengan lari santai yang diawali kumpul di coffee shop kawasan Kota Jogja.

"Kalau ada event besar, pesertanya bisa sampai 100 orang lebih. Bahkan dulu kami sering berangkat bareng ke luar kota," kata Agung.

Agung mengatakan, komunitas ini terbuka untuk umum tanpa syarat khusus maupun iuran keanggotaan. Siapa pun yang ingin bergabung cukup datang ke titik kumpul yang diinformasikan melalui media sosial dan ikut berlari bersama.

Meski kini banyak pelari yang mengejar konten atau medali, Agung menilai mayoritas anggota Ubur-Ubur Lari memiliki dasar kecintaan terhadap olahraga lari.

"Dulu anggota kami memang serius latihan. Banyak yang pakai coach dan training plan. Ambisius, tapi dalam arti positif," ujarnya.

Hasil dari konsistensi tersebut pun terlihat. Pada Jogja Marathon 2025, dua anggota Ubur-Ubur Lari berhasil finis di posisi lima besar, yakni Aida dan Lilian, yang juga menjabat sebagai ketua komunitas.

Selain aktif mengikuti event, Ubur-ubur Lari juga pernah menggelar lomba lari sendiri bertajuk Volcanoraun. Event ini pertama kali digelar pada 2019 dan berlanjut hingga 2024, meski kini sudah dihentikan.

"Total ada empat kali penyelenggaraan. Sekarang kami fokus ke kegiatan komunitas saja," pungkas Agung.




(afn/alg)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads