Heboh Jejak Diduga Macan, BKSDA Sebut Semanu Bukan Habitat Hewan Buas

Heboh Jejak Diduga Macan, BKSDA Sebut Semanu Bukan Habitat Hewan Buas

Pradito Rida Pertana - detikJogja
Sabtu, 03 Jan 2026 12:52 WIB
Lokasi ditemukannya jejak diduga harimau di lokasi proyek, Semanu, Gunungkidul, Jumat (2/1/2026).
Lokasi ditemukannya jejak diduga harimau di lokasi proyek, Semanu, Gunungkidul, Jumat (2/1/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Gunungkidul -

Jejak diduga dari macan yang ditemukan di lokasi pembangunan Ponpes di Panggul Kulon, Semanu, Gunungkidul, bikin heboh di media sosial. Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kawasan tersebut bukanlah habitat hewan buas.

BKSDA melalui Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto mengatakan bahwa di sekitar lokasi penemuan jejak diduga macan itu merupakan lahan pertanian.

"Jadi di situ lahan pertanian dan setiap hari ada orangnya. Nah, sementara untuk jenis binatang buas pasti habitatnya jauh dari aktivitas manusia," kata dia saat dihubungi detikJogja, Sabtu (3/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak harimau tertangkap kamera pekerja proyek di Semanu, Gunungkidul, Jumat (2/1/2026).Jejak harimau tertangkap kamera pekerja proyek di Semanu, Gunungkidul, Jumat (2/1/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja

"Meski belum bisa dipastikan, tapi kalau habitat binatang buas saya kira bukan," sambungnya.

Tugimayanto menjelaskan, jika jejak tersebut memang benar merupakan bekas tapak kaki macan, kemungkinan hewan itu hanya sebatas melintas. Mengingat ada telaga di sekitar lokasi penemuan jejak tersebut.

"Tapi kalau melintas kemungkinan bisa, karena telaga juga di sana. Jadi melintas mencari air, itu pun kalau misal benar-benar jejak itu jejak binatang buas," ujar dia.

Tugimayanto menjelaskan, sepengetahuannya hanya di Girisubo yang menjadi habitat macan tutul. Habitat itu jauh dari permukiman.

"Kalau itu (binatang buas) dari Girisubo ke Semanu sepertinya terlalu jauh ya, karena jaraknya jauh sekali," ucap dia.

Disinggung mengenai kemungkinan memasang kamera di lokasi, Tugimayanto mengatakan hal itu perlu dibahas lebih lanjut.

"Kalau itu (pemasangan kamera di lokasi penemuan jejak) perlu kami diskusikan dan konsultasikan ke pimpinan. Jika memang perlu (dipasang kamera) paling kamera trap, bukan CCTV," kata dia, Sabtu (3/1/2026).

Tugimayanto menjelaskan, BKSDA pernah melakukan pemasangan kamera trap di Panggang, Gunungkidul, terkait informasi adanya macan.

"Dulu sebelum pandemi (COVID-19) itu kami pernah pasang kamera trap di Panggang karena (info) ada macan. Tapi yang terekam di kamera itu ternyata binatang jenis anjing," pungkasnya.

Sementara itu Heru Purwanto (56), warga sekitar yang juga pekerja di proyek pembangunan Ponpes di Semanu, Gunungkidul, menyebut belum ada lagi temuan jejak di sekitar lokasi proyek.

"Pagi tadi saya cek belum ada lagi jejaknya. Biasanya beberapa hari muncul lagi, gitu. Jadi tidak setiap hari muncul," kata dia kepada detikJogja, Sabtu (3/1/2026).

Diberitakan sebelumnya, postingan video penampakan jejak diduga harimau di proyek pembangunan pondok pesantren (Ponpes) Semanu, Gunungkidul, beredar di media sosial.

"Seorang pekerja proyek pembangunan Ponpes di wilayah Kapanewon Semanu merekam penemuan jejak yang mirip dengan kaki harimau, Jumat (02/01/2026)," tulis akun Instagram @gunungkidul.update, dilihat detikJogja, kemarin.

Cerita Pekerja Bangunan di Ponpes

Video yang merekam bekas jejak kaki hewan itu beredar media sosial, salah satunya diunggah akun Instagram @gunungkidul.update, kemarin.

Salah seorang pekerja bangunan di ponpes tersebut, Heru Purwanto (56), mengatakan jejak itu ditemukan sekitar tiga hari sebelumnya.

"Tiga hari lalu, pagi-pagi saya datang ke sini mau kerja lihat jejak harimau. Itu jejaknya besar sekali, seukuran telapak sapi. Tapi jejak itu sudah hilang karena kemarin kan hujan deras sekali," kata dia saat ditemui wartawan, Jumat (2/1/2026).

Heru menyebut lokasi penemuan jejak itu di sisi timur proyek pembangunan Ponpes. Dia meyakini itu jejak kaki harimau.

"Kenapa saya yakin? Karena di sini selain harimau tidak ada jejak-jejak seperti itu, dan biasanya dia minum air bersih di sini (tampungan air hujan dekat proyek)," ujarnya.

Menurut Heru, operator backhoe di proyek pembangunan Ponpes juga pernah melihat harimau.

"Sudah (ada yang pernah lihat harimau) itu pagi-pagi operator backhoe lihat sendiri warnanya kuning hitam dengan ukuran lebih besar dari kambing, saat itu satu ekor yang dilihat," ucapnya.

Heru menyebut harimau atau macan itu tidak pernah mengganggu pekerja proyek.

"Tidak mengganggu, macan jinak maksudnya penunggu, sesepuh sini dan tidak mengganggu warga sini. Warga juga sudah biasa (melihat harimau)," katanya.

"Masih ada, yakin ada, kalau ingin lihat sendiri pasang CCTV, yakin nanti muncul," ujarnya.

Pekerja bangunan lainnya, Jono (60), juga mengaku sudah beberapa kali melihat harimau di Panggul Kulon. Menurutnya, hal itu terjadi saat musim kemarau.

"Sering (lihat), saat sudah tidak ada air, yang penting jangan diganggu. Pernah saya duduk dan lewat didiamkan saja, jangan dilempar," kata warga Gaduhan, Harjosari, Tanjungsari itu.

Penjelasan Resort Konservasi Gunungkidul

BKSDA melalui Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul telah mendatangi lokasi penemuan jejak diduga harimau tersebut. Hasilnya, BKSDA mengaku belum bisa memastikan jenis jejak tersebut karena minim data.

"Kami sudah melakukan pengecekan di lokasi dan hasilnya minim sekali data," kata Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto kepada wartawan di Semanu, Gunungkidul, Jumat (2/1/2026).

Minimnya data itu karena tanda jejak diduga harimau tersebut sudah hilang akibat hujan. Hal itu membuat BKSDA kesulitan dalam mengukur dan menganalisa jejak yang dimaksud.

"Karena tanda jejaknya sudah tidak ada akibat hujan deras yang turun kemarin. Jadi kami tidak bisa mengukur berapa besaran jejaknya, dan karena itu kita belum memastikan untuk jenis jejak apa," ucapnya.

"Tapi kami akan tetap melakukan pengawasan, maksudnya kami selalu monitor keberadaan satwa ini. Karena ini juga salah satu satwa yang dilindungi undang-undang," imbuh dia.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Virus Panleukopenia Jadi Penyebab Kematian Huru dan Hara di Bandung Zoo"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads