Pahlawan Nasional sekaligus salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari pernah dipenjara di Mojokerto. Pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang ini rela ditahan dan disiksa tentara kolonial Jepang demi mempertahankan akidah.
Dari luar, kamar nomor 2 di blok tahanan Lapas Kelas IIB Mojokerto ini berbeda dengan sel lainnya. Sebab terdapat lambang NU pada sisi kanan dan kiri pada atas pintu sel. 'Kapasitas 5 Orang' terukir persis di atas pintunya. Namun, kenyataannya kamar ini dihuni 13 orang tahanan.
Begitu memasukinya, ciri khas bangunan bikinan Belanda sangat jelas. Yaitu dindingnya tebal dan jendelanya besar. Kamar berukuran 5x4 meter setinggi 5,5 meter ini dilengkapi 2 ventilasi udara dan teralis besi yang masih kokoh. Mayoritas bangunan sel ini tetap sama sejak dibangun pada zaman penjajahan.
Kecuali lantai keramik putih, toilet di sebelah kiri pintu, warna dinding, serta perkakas di dalamnya. Kehadiran KH Hasyim Asy'ari atau Mbah Hasyim begitu terasa di dalamnya. Sejumlah foto kakek KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dipajang rapi di tembok. Beberapa kitab suci Al-Qur'an juga tertata rapi di rak.
Bahkan, warna dinding dipertahankan hijau karena identik dengan warna NU, organisasi masyarakat terbesar di Indonesia. Kepala Lapas Mojokerto Rudi Kristiawan menjelaskan, pihaknya sengaja menjaga sel nomor 2 ini menjadi tempat yang bersejarah. Sebab di sel ini lah Mbah Hasyim pernah ditahan oleh tentara kolonial Jepang.
"Sebagai penghormatan kami kepada beliau sebagai tokoh dan pahlawan nasional pendiri NU. Seperti kata Bung Karno, jasmerah, jangan melupakan sejarah," terangnya kepada wartawan di lokasi, Sabtu (22/3/2025).
Rudi menjelaskan, Mbah Hasyim ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh tentara kolonial Jepang karena menolak seikerei. Yaitu ritual membungkuk ke matahari saat terbit sebagai penyembahan ke Dewa Matahari atau Amaterasu, serta penghormatan kepada Hirohito, Kaisar Jepang zaman itu.
Tentu saja pendiri Ponpes Tebuireng ini tegas menolaknya karena bertentangan dengan akidah Islam. Awalnya, Mbah Hasyim ditahan di Lapas Jombang pada minggu kedua Maret 1942. Gelombang unjuk rasa para santri membuat penahanannya dipindahkan ke Pendjara Poerwotengah yang kini menjadi Lapas Kelas IIB Mojokerto di Jalan Taman Siswa, Kota Mojokerto pada 11 April 1942.
Selama di Pendjara Poerwotengah, Mbah Hasyim ditempatkan di sel nomor 2. Ia mengalami penyiksaan yang pedih. Jemarinya dihantam palu berulang kali oleh serdadu Nippon. Meski begitu, ia tetap teguh pada akidahnya. Bahkan, ia berulang kali khatam Al-Qur'an dan Hadist Imam Bukhari.
"Almarhum KH Hasyim Asy'ari ditahan di sini selama 4 bulan. Keteguhan dan kekuatan spiritualnya mengalahkan rasa sakit penyiksaan tentara Jepang," jelasnya.
Tentara kolonial Jepang lantas memindahkan Mbah Hasyim ke Penjara Kloben atau Bubutan di Surabaya pada 18 Agustus 1942. Sekitar 3 bulan kemudian, ia dibebaskan berkat diplomasi para kiai besar, serta perjuangan para santri dan pahlawan zaman itu. Salah satunya peran KH Abdul Wahab Chasbullah, pendiri NU dan Ponpes Tambakberas, Jombang.
Lapas Mojokerto, khususnya sel nomor 2 menjadi saksi bisu perjuangan Mbah Hasyim melawan kolonialisme. Menurut Rudi, lapas ini dibangun pemerintah Hindia Belanda tahun 1918 silam. Kini, kondisinya memprihatinkan karena over kapasitas. Lapas yang kapasitas normalnya 344 orang, saat ini dihuni 1.005 tahanan dan narapidana.
"Ini menunjukkan kriminalitas di Mojokerto termasuk tinggi. Kami imbau seluruh lapisan masyarakat lebih sadar dan taat hukum agar tidak membuat lapas ini semakin over kapasitas," ujarnya.
Simak Video "Video Ribuan Jemaah Napak Tilas NU Tiba di Surabaya Naik 30 Perahu-2Feri"
(abq/fat)