Kisah Masyayikh Ponpes Tambakberas Jombang, Cuci Beras Jadi Emas

Kisah Masyayikh Ponpes Tambakberas Jombang, Cuci Beras Jadi Emas

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Minggu, 09 Agu 2026 11:20 WIB
MA Unggulan Bahrul Ulum di Tambakberas Jombang
MA Unggulan Bahrul Ulum di Tambakberas Jombang/Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim
Jombang -

Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum, Jombang yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU, menyimpan banyak kisah inspiratif dari masyayikh. Cerita tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk kepada para alumninya.

PP Bahrul Ulum di Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang diyakini sebagai pesantren paling tua di Kota Santri. Pesantren ini didirikan KH Abdus Salam tahun 1825 atau 201 tahun yang lalu.

Alumni PP Bahrul Ulum, H Muhammad Syuaib (56) menyebut, Kiai Salam merupakan panglima perang wilayah Jatim bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro. Ulama asal Demak, Jateng ini memimpin satu pleton pasukan untuk perang gerilya melawan Belanda sampai Wonosalam, Jombang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selanjutnya, Kiai Salam masuk ke Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo untuk mendirikan pesantren. Pada zaman itu, pesantren rintisan tersebut dijuluki Pondok Telu karena hanya mempunyai tiga bangunan. Julukan lainnya Pondok Selawe sebab santrinya 25 orang.

ADVERTISEMENT

1. Kisah Buyut Gus Dur Mencuci Beras jadi Emas dan Lahirnya PP Tebuireng

Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU), Faizun Amir menuturkan, masyayikh PP Bahrul Ulum melahirkan PP Tebuireng di Desa Cukir, Diwek, Jombang. Yaitu KH Usman, menantu Kiai Salam. Kiai Usman merupakan santri yang menikah dengan Nyai Layyinah, putri Kiai Salam.

Buah pernikahan Kiai Usman dan Nyai Layyinah melahirkan Halimah. Selanjutnya, Nyai Halimah menikah dengan Kiai Asy'ari, santri Kiai Usman. Barulah Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah melahirkan Hasyim yang kelak bergelar Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari, pendiri PP Tebuireng.

Maka, Kiai Usman merupakan canggah Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh sebab itu, pembangunan makamnya di Dusun Tambakberas Timur diresmikan Gus Dur pada 17 April 2001.

Menurut Faizun, kediaman buyut Gus Dur, Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah di lahan yang kini menjadi Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Bahrul Ulum. Tempat ini menyimpan kisah tirakat Nyai Halimah dengan cara puasa selama 3 tahun berturut-turut.

"Di situlah tempat dulu Mbah Nyai Halimah itu puasa 3 tahun berturut-turut itu. Saya membaca tulisannya Gus Ishom Hadziq (Cucu KH Hasyim Asy'ari). Beliau menulis buku tentang puasanya Mbah Nyai Halimah, istri dari Mbah Kiai As'ari," kata Faizun saat berbincang dengan detikJatim, Minggu (9/8/2026).

Tirakat puasa Nyai Halimah, lanjut Faizun, ditujukan kepada keluarga, para santri, serta dirinya sendiri. Suatu ketika dalam proses tirakat tersebut, Nyai Halimah konon mendapatkan ujian dari Allah SWT. Yaitu beras yang ia cuci tiba-tiba saja berubah menjadi emas.

"Itu berasnya kan berubah jadi emas, tapi Mbah Nyai Halimah itu menyebut 'Bukan ini ya Allah yang aku minta. Bukan emas, tapi generasi Emas'. Makanya kan Mbah Hasyim jauh lebih mahal dari emas, Mbah Wahid Hasyim jauh lebih mahal dari emas, Mbah Abdurrahman Wahid jauh lebih mahal dari emas," ungkapnya.

2. Kisah Kedermawanan KH Hasbullah Said dan Asal Nama Tambakberas

Kiai Hasbullah merupakan generasi ketiga pengasuh PP Bahrul Ulum. Sebab, Kiai Hasbullah merupakan putra Kiai Said. Sedangkan Kiai Said adalah menantu Kiai Salam yang mendirikan pesantren ini tahun 1825.

Semasa hidupnya, Kiai Hasbullah dikenal kaya raya di sebuah dusun yang dulunya bernama Gedang Barat. Ayah KH Abdul Wahab Hasbullah ini mempunyai lumbung atau gudang beras yang besar.

"Saat musim paceklik, beliau (Kiai Hasbullah) memberi kesempatan kepada orang-orang yang kesulitan makan, itu dipersilakan ambil beras di lumbung berasnya itu. Sampai kemudian masyhur Dusun Gedang Barat itu sebutan Tambakberas. Tambaknya beras karena di sana banyak beras, ada juga yang seperti itu mengatakan," terangnya.

3. Peran KH Abdul Wahab Hasbullah Dirikan NU dan Selamatkan Makam Rasulullah

Alumni PP Bahrul Ulum, H Muhammad Syuaib (56) menjelaskan, Kiai Wahab merupakan saudagar yang kaya raya. Setiap Selasa atau Jumat, pahlawan nasional ini naik kereta api via Kertosono, Babat, ke Surabaya untuk berdagang.

"Nah yang mungkin belum pernah diangkat ke permukaan itu bahwa Kiai Wahab itu dipercaya oleh Hindia Belanda untuk pegang migas. Saya menduga bahwa kenapa kok beliau dipegang? Karena beliau tokoh yang berani di depan, dipegang agar tidak terlalu keras kepada pemerintah Hindia Belanda, dikasih migas gitu sehingga beliau kaya," jelasnya.

"Sehingga dengan kekayaan itulah beliau ke provinsi-provinsi untuk membangun, membikin cabang-cabang NU di daerah-daerah provinsi Indonesia. Beliau senang silaturahmi, termasuk senang sedekah. Ini juga enggak pernah diangkat. Mbah Wahab itu ketika malam hari di zaman sebelum merdeka, beliau tuh sering membawa makanan-makanan nasi bungkus gitu ke desa-desa. Siapa warga desa yang dari pagi enggak bisa makan, dikasih," imbuhnya.

Masjid Jami PP Bahrul Ulum yang dibangun pada masa KH Hasbullah Said, ayah Kiai Wahab tahun 1904Masjid Jami PP Bahrul Ulum yang dibangun pada masa KH Hasbullah Said, ayah Kiai Wahab tahun 1904 Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Sebagai alumni PP Bahrul Ulum, Syuaib meyakini Kiai Wahab sebagai inisiator Komite Hijaz sekitar tahun 1924. Kepanitian kecil ini dibentuk untuk merespons kebijakan Raja Saud, Arab Saudi yang salah satunya akan membongkar makam Rasulullah Muhammad SAW. Kiai Wabah sendiri yang menakhodai komite ini.

"Beliau (Kiai Wahab) mengumpulkan para ulama, membuat Komite Hijaz. Jadi merapatkan barisannya dari situ, seluruh Indonesia. Jaringan beliau kan banyak. Kalau menurut saya, inisiatornya Mbah Wahab masuk Komite Hijaz," ujarnya.

Nahdlatul Ulama (NU) pun dibentuk pada 31 Januari 1926 sebagai syarat formal menghadap Raja Saud. Sekitar setahun sebelumnya, menurut Syuaib, Kiai Wahab mendapatkan tugas khusus dari KH Hasyim Asy'ari untuk mengundang para ulama.

"Satu tahun sebelum launching NU, Mbah Wahab dipasrahi Mbah Hasyim Asy'ari untuk mengundang, jangan sampai terlewatkan, ulama-ulama Jawa seluruh Indonesia saat itu supaya diundang. Mbah Kiai Wahab sendiri sepeda motoran dari Banyuwangi sampai Sumatera, Kalimantan. Itu kalau enggak punya uang sendiri tidak mungkin," ungkapnya.

Setelah memenuhi syarat formal, tambah Syuaib, Kiai Wahab memimpin Komite Hijaz menemui Raja Saud. Sebelum berangkat, putra KH Hasbullah Said ini pamit sekaligus meminta para santrinya membaca burdah selama 40 hari. Yaitu setelah salat Magrib dan Subuh sebanyak 1.000 kali.

"Komite Hijaz ini berangkat ke Arab Saudi dan sowan kepada Raja Saud, diplomasi. Tentu karena Mbah Wahab orang sakti, akhirnya makam Rasulullah tidak dibongkar. Maka saya katakan Mbah Wahab itu kalau saat ini ditetapkan oleh negara sebagai Pahlawan Nasional, bagi saya beliau Pahlawan Internasional," jelasnya.

4. Kesaktian Kiai Salam Melawan Kolonial Belanda

Cerita kesaktian Kiai Salam juga disampaikan Syuaib. Alumni Mualimin PP Bahrul Tahun 1991 ini meyakini Kiai Wahab mewarisi ilmu Kiai Salam.

Salah satu kesaktian Kiai Salam, konon bisa mematikan kuda pasukan Belanda hanya dengan hentakan kaki.

"Ketika Belanda datang membawa kereta kencana ke Tambakberas, jarak 500 meter itu sudah didoakan Mbah Abdus Salam, dihentakkan kakinya, kudanya Belanda mati," tandasnya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Cak Imin-Nusron Wahid Bicara soal Konsolidasi Jelang Muktamar NU"
[Gambas:Video 20detik] (irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads