4 Tempat Memorabilia di Arena Muktamar NU Ponpes Tambakberas Jombang

4 Tempat Memorabilia di Arena Muktamar NU Ponpes Tambakberas Jombang

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Jumat, 07 Agu 2026 14:00 WIB
Masjid Jami PP Bahrul Ulum yang dibangun pada masa KH Hasbullah Said, ayah Kiai Wahab tahun 1904
Masjid Jami PP Bahrul Ulum yang dibangun tahun 1904 (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Jombang -

Tak sekadar musyawarah, Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang menjadi ajang nostalgia para alumni lembaga pendidikan tersebut.

Setidaknya terdapat 4 tempat memorabilia di pesantren ini, salah satunya tanah kelahiran KH Hasyim Asy'ari, pendiri Ponpes Tebuireng.

1. Ndalem Kasupuhan/Kediaman KH Abdul Wahab Hasbullah

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kediaman Kiai Wahab terletak di Gang Pondok, Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Lambang Nahdlatul Ulama menjadi ciri khas rumah pahlawan nasional ini. Di bawah asuhan Kiai Wahab, Ponpes Tambakberas beras berganti nama menjadi Bahrul Ulum atau lautan ilmu.

H Muhammad Syuaib (56) salah satu santri yang pernah mengabdi di rumah ini. Setelah tamat Madrasah Ibtidaiyah (MI), warga Desa/Kecamatan Ploso, Jombang ini menimba ilmu di Pesantren Bahrul Ulum tahun 1985. Kala itu, Kiai Wahab telah wafat.

ADVERTISEMENT
Kediaman KH Abdul Wahab Hasbullah di Gang Pondok, Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten JombangKediaman KH Abdul Wahab Hasbullah di Gang Pondok, Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)

"Zaman dulu saya berangkat niatnya mondok sambil ngabdi di ndalem kiai-kiai, utamanya di Mbah Kiai Wahab Hasbullah. Jadi, saya pernah ketemu langsung dengan garwanya (istri) Mbah Wahab, Nyai Rahmah itu, meladeni beliau di dalam itu. Termasuk meladeni santri," kata Syuaib ketika berbincang dengan detikJatim di MA Bahrul Ulum, Jumat (7/8/2026).

Selama setahun mengabdi di kediaman Kiai Wahab, Syuaib mengaku mendapatkan 2 pelajaran berharga. Satu, ia wajib mengamalkan ilmu yang didapatkan. Dua, kewajiban santri setelah mendapatkan ilmu adalah mengabdi dan melayani. Baik kepada orang tua di rumah, kiai di pesantren, maupun guru di sekolah.

"Dengan melayani itu, ternyata akan diangkat derajatnya. Nah, itu terjadi pada diri saya, alhamdulillah saya sempat jadi kepala MTS Negeri dua periode, tahun 2014 sampai 2022, Kepala MAN 9 Jombang, lalu saya resign karena mengasuh Ponpes Al Hamid Ploso, Jombang," ungkap alumni Mualimin PP Bahrul Ulum tahun 1991.

2. Masjid Al Ustmany dan Jejak Pondok Selawe

Masjid Al Ustmany terletak di lingkungan Ribath Al Ustmany, PP Bahrul Ulum, Dusun Tambakberas Timur, Desa Tambakrejo. Jaraknya sekitar 20 meter dari makam KH Usman, Canggah Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Al Ustmany merupakan masjid tertua di PP Bahrul Ulum.

Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum (IKABU), Faizun Amir menuturkan, Masjid Al Ustmany dibangun pada masa KH Usman. Dari Kiai Usman, lahirlah pendiri Ponpes Tebuireng. Kiai Usman merupakan santri yang dinikahkan dengan Nyai Layyinah, putri KH Abdus Salam.

Masjid Al Ustmany terletak di lingkungan Ribath Al Ustmany, PP Bahrul UlumMasjid Al Ustmany terletak di lingkungan Ribath Al Ustmany, PP Bahrul Ulum Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Buah pernikahan Kiai Usman dan Nyai Layyinah melahirkan Halimah. Selanjutnya, Halimah menikah dengan Kiai Asy'ari, santri Kiai Usman. Barulah Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah melahirkan Hasyim yang kelak bergelar Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari, pendiri PP Tebuireng di Desa Cukir, Diwek, Jombang.

Sedangkan Kiai Salam mendirikan PP Bahrul Ulum tahun 1825 masehi. Kiai Salam dikenal sebagai panglima perang wilayah Jatim untuk Pangeran Diponegoro. Pada masa itu, pesantren yang ia rintis disebut Pondok Telu karena bangunannya hanya 3, atau Pondok Selawe karena jumlah santrinya 25 orang.

"Mbah Kiai Abdus Salam itu tahun 1825 sudah mendirikan pesantren ini. Kemudian Mbah Usman itu kan menantu persis ya. Artinya ya enggak jauh-jauh dari 200 tahun (umur Masjid Al Ustmany), (pembangunan masjid) enggak jauh-jauh dari tahun 1825," terangnya.

Bangunan Masjid Al Ustmany, lanjut Faizun, telah banyak direnovasi. Zaman dirinya menjadi santri tahun 1985, masjid kuno ini masuk Dusun Gedang. Sehingga pada masa itu, jamak disebut Masjid Gedang. Namun, kini menjadi wilayah administrasi Dusun Tambakberas Timur.

Semasa menjadi santri PP Bahrul Ulum, Faizun kerap beraktivitas di Masjid Al Ustmany. Tidak hanya salat, ia juga tak jarang mencuci baju di kamar mandi masjid. Yaitu ketika para santri lainnya mengantre di tempat mencuci baju pondok induk.

"Dulu jembatannya masih dari bambu, jalan menuju masjid itu hanya setapak, pohon kelapa tinggi-tinggi, terus di bawahnya itu semacam ilalang, ada jalan setapak menuju masjid," kenangnya.

3. Tanah Kelahiran KH Hasyim Asy'ari

Faizun meyakini tanah kelahiran kakek Gus Dur di lahan yang kini ditempati Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Bahrul Ulum. Jauh sebelum Kiai Hasyim lahir, di tanah itu pula berdiri Pondok Selawe yang dirintis Kiai Salam sejak 1825.

Masjid Al Ustmany terletak di lingkungan Ribath Al Ustmany, PP Bahrul UlumMasjid Al Ustmany terletak di lingkungan Ribath Al Ustmany, PP Bahrul Ulum Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

Sebelum MA Unggulan Bahrul Ulum berdiri, terdapat sebuah rumah tua di lahan tersebut. Faizun mengaku pernah tinggal di rumah yang terkenal angker tersebut. Nah, sebelah barat rumah ini terdapat tanah kosong bekas kediaman Kiai As'ari dan Nyai Halimah, orang tua Kiai Hasyim.

"Lahirnya Mbah Hasyim, menurut para sesepuh ketika saya ke sini, itu di sebelah baratnya rumah yang saya tempati dulu. Di situ itu, konon dulu sesepuh sini namanya Pak Muhammad Toha itu mendapatkan cerita dari orang tuanya bahwa sering mendengar Mbah Hasyim Asy'ari itu menangis tuh masih dengar," ungkapnya.

Keluarga Kiai Hasyim Asy'ari, kata Faizun, lantas pindah ke Desa Keras, Kecamatan Diwek, Jombang. "Dari Keras, baru Mbah Hasyim membangun Pesantren Tebuireng. Kemudian yang berkembang yang Tebuireng. Makanya makamnya Mbah As'ari kan masih di Keras, tidak di komplek (Pesantren) Tebuireng," jelasnya.

4. Menara Masjid Jami PP Bahrul Ulum

Masjid ini terletak di Dusun Tambakberas, persis di sebelah selatan kediaman mendiang KH Abdul Wahab Hasbullah. Masjid kuno ini dibangun pada masa KH Hasbullah Said, ayah Kiai Wahab tahun 1904. Menariknya lagi, terdapat tulisan huruf arab Ha, Ra, Ta dan Mim pada menara masjid ini.

Masjid Jami PP Bahrul Ulum yang dibangun pada masa KH Hasbullah Said, ayah Kiai Wahab tahun 1904Masjid Jami PP Bahrul Ulum yang dibangun pada masa KH Hasbullah Said, ayah Kiai Wahab tahun 1904 Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim

"Salah satu yang pernah saya dengar, dulu itu semangat juangnya para muasis Bahrul Ulum, mungkin Mbah Wahab juga ya, ha, ra, ta, mim itu Harrun Tammun. Harrun kan merdeka, Tammun, sempurna. Jadi, merdeka secara sempurna. Jadi, itu mungkin melambangkan semangat juangnya Bahrul Ulum ketika itu, merdeka seutuhnya," tandas Faizun.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads