Jasa joki baca buku menjadi perbincangan di media sosial setelah sebuah akun Threads menawarkan layanan membaca buku dengan tarif mencapai Rp 1,6 juta. Layanan ini mencakup membaca buku fiksi maupun nonfiksi, memberikan highlight dan penanda halaman, hingga menyediakan foto buku untuk konten media sosial.
Tarif yang ditawarkan berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 1,6 juta, bergantung ketebalan buku dan kebutuhan pengerjaan. Fenomena ini menarik perhatian karena membaca, yang biasanya menjadi aktivitas pribadi, kini ditawarkan sebagai jasa untuk membantu orang membangun citra sebagai pencinta buku di media sosial.
Mengapa Jasa Joki Baca Buku Bisa Dibayar Mahal?
Tarif jasa joki baca buku dapat mencapai jutaan rupiah karena dipengaruhi ketebalan buku dan layanan yang ditawarkan. Berikut beberapa faktor yang dapat menjelaskan harga jasa tersebut.
1. Waktu dan Tenaga yang Dibutuhkan
Membaca buku hingga ratusan halaman membutuhkan waktu dan konsentrasi. Semakin banyak halaman yang harus diselesaikan, semakin besar pula waktu yang perlu dialokasikan penyedia jasa.
2. Jenis Layanan yang Ditawarkan
Layanan tidak hanya mencakup membaca buku, tetapi juga memberikan highlight, anotasi, dan penanda halaman. Pelanggan juga mendapatkan crochet bookmark dan sticky note sebagai bagian dari paket layanan.
3. Ketelitian dalam Memahami Isi Buku
Pemberian anotasi dan penanda membutuhkan ketelitian agar bagian-bagian tertentu mudah ditemukan kembali. Kemampuan memahami isi bacaan menjadi nilai tambah, terutama jika pelanggan menginginkan catatan yang relevan dengan isi buku.
4. Ketebalan Buku dan Kebutuhan Pengerjaan
Tarif yang ditawarkan pemberi jasa biasanya mencakup buku dengan ketebalan 100-800 halaman. Perbedaan jumlah halaman dan kebutuhan pengerjaan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan harga. Namun, tarif tersebut merupakan penawaran dari penyedia jasa tertentu, bukan standar harga umum.
Joki Baca Buku, Hobi Membaca dan Citra di Media Sosial
Media sosial kini menjadi ruang bagi pengguna untuk membagikan aktivitas membaca, ulasan buku, hingga koleksi bacaan mereka. Fenomena ini dikenal antara lain melalui tren Bookstagram, yaitu aktivitas berbagi konten tentang buku di Instagram.
Penelitian Bronwen Thomas yang diterbitkan dalam jurnal "Language Sciences" pada 2021 menjelaskan bahwa media sosial menghadirkan dimensi sosial baru dalam kegiatan membaca melalui foto, interaksi, dan berbagi pengalaman dengan pengguna lain.
Dalam konteks tersebut, jasa joki baca buku menghadirkan fenomena yang berbeda. Pada Oktober 2026, seorang pengguna Threads menawarkan jasa membaca buku sekaligus memberikan highlight dan penanda halaman agar buku terlihat telah dibaca.
Pemilik akun menyebut sasaran layanannya adalah orang yang ingin terlihat seperti bookworm atau pencinta buku di media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dalam kasus tersebut, buku tidak hanya berkaitan dengan kegiatan membaca, tetapi cara seseorang menampilkan minat dan identitasnya di ruang digital.
Meski demikian, tren berbagi konten buku di media sosial tidak selalu berarti seseorang sekadar ingin membangun citra. Konten buku juga dapat menjadi sarana bertukar rekomendasi, menemukan bacaan baru, dan berdiskusi dengan sesama pembaca.
Karena itu, jasa joki baca buku lebih tepat dipandang sebagai fenomena spesifik yang muncul di tengah budaya berbagi aktivitas membaca, bukan sebagai gambaran perilaku seluruh pengguna media sosial.
Tarif yang ditawarkan juga belum membuktikan bisnis ini menguntungkan atau memiliki pasar. Keberlanjutannya bergantung permintaan konsumen dan kualitas layanan. Karena belum tersedia data mengenai jumlah pelanggan dan pendapatan, jasa ini lebih tepat disebut sebagai potensi bisnis yang masih perlu ditelusuri.
Simak Video "Penghargaan Inovasi Birokrasi untuk Media Sosial DPR RI"
(irb/hil)