Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum, Jombang yang menjadi tuan rumah Muktamar ke-35 NU, menyimpan banyak kisah inspiratif dari masyayikh. Cerita tersebut diwariskan dari generasi ke generasi, termasuk kepada para alumninya.
PP Bahrul Ulum di Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang diyakini sebagai pesantren paling tua di Kota Santri. Pesantren ini didirikan KH Abdus Salam tahun 1825 atau 201 tahun yang lalu.
Alumni PP Bahrul Ulum, H Muhammad Syuaib (56) menyebut, Kiai Salam merupakan panglima perang wilayah Jatim bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro. Ulama asal Demak, Jateng ini memimpin satu pleton pasukan untuk perang gerilya melawan Belanda sampai Wonosalam, Jombang.
Selanjutnya, Kiai Salam masuk ke Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo untuk mendirikan pesantren. Pada zaman itu, pesantren rintisan tersebut dijuluki Pondok Telu karena hanya mempunyai tiga bangunan. Julukan lainnya Pondok Selawe sebab santrinya 25 orang.
1. Kisah Buyut Gus Dur Mencuci Beras jadi Emas dan Lahirnya PP Tebuireng
Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU), Faizun Amir menuturkan, masyayikh PP Bahrul Ulum melahirkan PP Tebuireng di Desa Cukir, Diwek, Jombang. Yaitu KH Usman, menantu Kiai Salam. Kiai Usman merupakan santri yang menikah dengan Nyai Layyinah, putri Kiai Salam.
Buah pernikahan Kiai Usman dan Nyai Layyinah melahirkan Halimah. Selanjutnya, Nyai Halimah menikah dengan Kiai Asy'ari, santri Kiai Usman. Barulah Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah melahirkan Hasyim yang kelak bergelar Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari, pendiri PP Tebuireng.
Maka, Kiai Usman merupakan canggah Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh sebab itu, pembangunan makamnya di Dusun Tambakberas Timur diresmikan Gus Dur pada 17 April 2001.
Menurut Faizun, kediaman buyut Gus Dur, Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah di lahan yang kini menjadi Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Bahrul Ulum. Tempat ini menyimpan kisah tirakat Nyai Halimah dengan cara puasa selama 3 tahun berturut-turut.
"Di situlah tempat dulu Mbah Nyai Halimah itu puasa 3 tahun berturut-turut itu. Saya membaca tulisannya Gus Ishom Hadziq (Cucu KH Hasyim Asy'ari). Beliau menulis buku tentang puasanya Mbah Nyai Halimah, istri dari Mbah Kiai As'ari," kata Faizun saat berbincang dengan detikJatim, Minggu (9/8/2026).
Tirakat puasa Nyai Halimah, lanjut Faizun, ditujukan kepada keluarga, para santri, serta dirinya sendiri. Suatu ketika dalam proses tirakat tersebut, Nyai Halimah konon mendapatkan ujian dari Allah SWT. Yaitu beras yang ia cuci tiba-tiba saja berubah menjadi emas.
"Itu berasnya kan berubah jadi emas, tapi Mbah Nyai Halimah itu menyebut 'Bukan ini ya Allah yang aku minta. Bukan emas, tapi generasi Emas'. Makanya kan Mbah Hasyim jauh lebih mahal dari emas, Mbah Wahid Hasyim jauh lebih mahal dari emas, Mbah Abdurrahman Wahid jauh lebih mahal dari emas," ungkapnya.
2. Kisah Kedermawanan KH Hasbullah Said dan Asal Nama Tambakberas
Kiai Hasbullah merupakan generasi ketiga pengasuh PP Bahrul Ulum. Sebab, Kiai Hasbullah merupakan putra Kiai Said. Sedangkan Kiai Said adalah menantu Kiai Salam yang mendirikan pesantren ini tahun 1825.
Semasa hidupnya, Kiai Hasbullah dikenal kaya raya di sebuah dusun yang dulunya bernama Gedang Barat. Ayah KH Abdul Wahab Hasbullah ini mempunyai lumbung atau gudang beras yang besar.
"Saat musim paceklik, beliau (Kiai Hasbullah) memberi kesempatan kepada orang-orang yang kesulitan makan, itu dipersilakan ambil beras di lumbung berasnya itu. Sampai kemudian masyhur Dusun Gedang Barat itu sebutan Tambakberas. Tambaknya beras karena di sana banyak beras, ada juga yang seperti itu mengatakan," terangnya.
Simak Video "Video: Cak Imin-Nusron Wahid Bicara soal Konsolidasi Jelang Muktamar NU"
(irb/hil)