4 Makam yang Bisa Diziarahi di Area Muktamar NU Ponpes Tambakberas

4 Makam yang Bisa Diziarahi di Area Muktamar NU Ponpes Tambakberas

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Rabu, 05 Agu 2026 08:30 WIB
Makam KH Abdul Wahab Chasbullah di lingkungan Ponpes Bahrul Ulum  Tambakberas
Makam KH Usman di lingkungan Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Jombang -

Selain pahlawan nasional, KH Abdul Wahab Hasbullah, banyak kiai yang dimakamkan di kawasan Pondok Pesantren (PP) Bahrul Ulum Tambakberas. Setidaknya terdapat 4 pemakaman (Maqbarah) di pesantren tuan rumah Muktamar ke-35 NU ini. Salah satunya makam pendiri pesantren tertua di Jombang.

"Maqbarah tempat makam para muasis dan masyayikh. Maqbarah yang paling sentral karena di sana banyak dimakamkan para muasis dan masyayikh ya Maqbarah Mbah KH Abdul Wahab Hasbullah," kata Ketua Umum Ikatan Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum (IKABU), Faizun Amir kepada detikJatim, Rabu (5/8/2026).

Di pemakaman pertama, selain Kiai Wahab, juga terdapat makam KH Abdus Salam, pendiri pesantren tertua di Jombang yang kini menjadi PP Bahrul Ulum Tambakberas. Tahun 1825, pesantren ini masih bernama Pondok Telu karena mempunyai 3 bangunan. Sebutan lainnya Pondok Selawe karena jumlah santrinya 25 orang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah Kiai Salam wafat, pengasuhan pesantren dilanjutkan 2 menantunya, yaitu KH Usman dan KH Said. Namanya menjadi Pesantren Tambakberas. Ada pula yang menyebut Pondok Gedang karena kala itu, pesantren ini terletak di Dusun Gedang, Desa Tambakrejo. Begitu pula ketika diasuh cucu Kiai Salam, KH Hasbullah Said.

ADVERTISEMENT

"Ada yang mengatakan dulu dusunnya itu Gedang. Maka pondok ini kan Pondok Gedang. Kalau saya dulu waktu masih Madrasah Ibtidaiyah, waktu ujian Ma'arif tahun 1985, pesantren tertua di Jombang, jawabannya yang benar adalah Pesantren Tambakberas di Gedang. Maksudnya Pesantren Tambakberas yang ada di Dusun Gedang," terang Faizun.

Sedangkan Kiai Abdul Wahab Hasbullah, lanjut Faizun, merupakan cucu Kiai Salam. Sebab Kiai Wahab putra dari Kiai Hasbullah Said. Kiai Hasbullah sendiri putra dari Nyai Fatimah dan Kiai Said. Menurutnya, Kiai Said merupakan santri yang menjadi menantu Kiai Salam. Begitu pula Kiai Usman.

"Baru ke Mbah Kiai Wahab, nah ini kemudian semacam membuat sayembara kepada santri-santrinya untuk penamaan pesantren ini. Yang diterima Mbah Wahab adalah Bahrul Ulum yaang artinya lautan Ilmu," ungkapnya.

Di pemakaman pertama, kata Faizun, juga terdapat makam KH Abdul Wahib Wahab, putra Kiai Wahab yang menjabat Menteri Agama dua periode era Presiden Soekarno. Makam pendiri IPNU, KH Ali Ubaid, serta makam KH Najib Wahab, Ketua PP Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) yang juga Wakil Rais Syuriyah PBNU.

Di pemakaman atau Maqbarah kedua terdapat makam KH Abdul Hamid Hasbullah, adik Kiai Wahab. Menurut Faiuzun, Kiai Hamid mengelola pesantren selama Kiai Wahab berkiprah di luar, baik di pemerintahan maupun di Nahdlatul Ulama (NU).

Sedangkan di pemakaman ketiga kawasan PP Bahrul Ulum Tambakberas, kata Faizun, terdapat makam KH Abdul Fattah Hasyim. Kiai Fattah menikah dengan Nyai Musyarrofah, putri KH Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Mambaul Maarif Denanyar, Jombang.

"Salah satu jasanya Mbah Kiai Fattah Hasyim mendirikan Madrasah Muallimin Muallimat, madrasah yang sangat tua itu," jelasnya.

Pemakaman (Maqbarah) keempat tak kalah menarik. Sebab terdapat makam Kiai Usman, canggah Presiden Keempat RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh sebab itu, pembangunan makamnya diresmikan Gus Dur pada 17 April 2001. Kiai Usman merupakan santri yang menikah dengan Nyai Layyinah, putri Kiai Salam.

Buah pernikahan Kiai Usman dan Nyai Layyinah melahirkan Halimah. Selanjutnya, Halimah menikah dengan Kiai Asy'ari, santri Kiai Usman. Barulah Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah melahirkan Hasyim yang kelak bergelar Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari, pendiri PP Tebuireng di Desa Cukir, Diwek, Jombang.

"Dari Hasyim melahirkan anak namanya Wahid, Wahid melahirkan Abdurrahman, disebut Abdurrahman Wahid. Jadi, Tebuireng itu ya cicitnya Tambakberas kalau dinisbatkan kepada Mbah KH Abdus Salam," ujar Faizun.

Alumni PP Bahrul Ulum Tambakberas, H Muhammad Syuaib (56) menuturkan, Kiai Salam merupakan panglima perang wilayah Jatim bagian dari pasukan Pangeran Diponegoro. Ulama asal Demak, Jateng ini gerilya melawan Belanda sampai Wonosalam, Jombang.

"Beliau Mbah Abdus Salam kan panglima perang Jawa Timur, pusatnya di Wonosalam. Turun di sini mendirikan pesantren," terang Alumni Mualimin PP Bahrul Ulum Tahun 1991 ini.

Syuaib menambahkan, terkait tradisi ziarah makam para muassis dan masyayikh PP Bahrul Ulum, para alumni mempunyai ciri khas. Pengasuh Ponpes Al Hamid Ploso, Jombang ini menyebut para alumni ziarah ke pemakaman sesuai tujuan yang ingin dicapai.

"Yang ingin sukses secara politik, jadi bupati, presiden, itu wasilahnya ke Mbah Wahab Hasbullah. Kalau ingin membangun madrasah, wasilahnya ke Mbah Fattah. Kalau ingin buat pondok pesantren, ke Mbah Kiai Hamid. Kalau ingin jadi PNS, ke Mbah Usman. Tapi kan semua tergantung keyakinan masing-masing," tandasnya.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads