Relawan Mojokerto Digigit Ular Kobra, 2 Tangannya Harus Dioperasi

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Senin, 27 Jul 2026 22:00 WIB
Zaenal relawan Mojokerto digigit ular kobra dan tangannya dioperasi (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Achmad Zaenuri alias Zaenal (68), seorang relawan di Mojokerto digigit ular kobra. Akibatnya, pimpinan Relawan Birunya Cinta (RBC) ini harus menjalani operasi akibat gigtan ular berbisa tersebut.

Zaenuri merupakan relawan yang sudah malang melintang di Mojokerto. Wajahnya jamak terlihat di berbagai evakuasi jenazah korban kecelakaan, tindak pidana, meninggal mendadak, hingga bencana alam.

Namun, belakangan Zaenuri juga terobsesi dengan satwa liar yang mengganggu masyarakat. Sebut saja tawon vespa, kera liar, biawak, luwak dan ular. Tak jarang, Ketua RBC ini mengevakuasi ular secara serampangan.

Begitu pula ketika ia menerima informasi ular masuk rumah warga Lingkungan Mulyosari, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto pada Kamis (23/7) sekitar pukul 08.00 WIB. Zaenuri menangkap ular tanpa alat bantu maupun pelindung apapun.

"Sampai di lokasi, keterangan pemilik rumah, ularnya lari ke got. Saya cari, ternyata ular di dalam pipa dari saluran rumah menuju got, cuma kelihatan kepalanya," kata Zaenuri kepada detikJatim di kamar rawat inap Kertabumi 9, RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, Senin (27/7/2026).

Begitu mengamati kepalanya, Zaenuri sejatinya sudah mengetahui kalau ular tersebut jenis kobra. Namun, tetap saja ia nekat menangkapnya dengan tangan kosong. Meski berjalan lancar, aksinya tentu tak patut ditiru karena sangat berbahaya.

"Tidak pakai sarung tangan karena saya memang ingin menangkap ular tanpa alat. Saya kepingin seperti pawang ular," terangnya.

Tidak hanya itu, Zaenuri mengaku sempat melepas ular berbisa itu di jalan aspal depan rumah warga tersebut. "Ingin saya jinakkan dulu, itu harus dijinakkan. Jadi, kalau menangkap ular itu harus dijinakkan. Setelah jinak, lemas, baru ditangkap. Setelah itu, saya masukkan ke dalam tas rangsel abu-abu," cetusnya.

Di dalam tas rangsel tersebut rupanya sudah ada seekor ular kayu kesayangan Zaenuri. Begitu sampai di depan warung bakso Jalan RA Basuni, Sooko, Mojokerto, 2 ular tersebut terlepas. Tanpa ia sadari, rupanya bagian atas tas rangsel itu berlubang.

Beruntung tukang parkir warung bakso mengingatkannya. Zaenuri pun bergegas menangkap ular kobra karena khawatir menyerang orang di sekitarnya. Saat itulah telapak tangan kiri antara ibu jari dan jari telunjuk digigit ular tersebut.

"Langsung saya tarik pakai tangan kanan, lepas dan lari, lalu saya tangkap lagi pakai tangan kanan, jari telunjuk digigit juga. Kemudian saya masukkan ke tas rangsel satunya. Ular kayu juga saya masukkan ke tas itu," ungkapnya.

Sadar digigit ular berbisa, Zaenuri bergegas ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo. Tas rangsel berisi ular kobra dan kayu ia taruh di sepeda motornya. Baru 2 hari kemudian, kedua ular itu dievakuasi oleh tim pemadam kebakaran.

"Karena saya khawatir tas itu dicuri orang, tidak tahu kalau isinya ular," ujarnya.

Bisa ular kobra mengakibatkan kedua tangan Zaenuri bengkak. Ia telah menjalani operasi untuk mengangkat jaringan yang rusak di kedua tangannya pada Sabtu (25/7). Saat ini, ia masih menjalani pemulihan.

"Tadi sudah boleh pulang, tapi saya masih mual, demam, pusing dan muntah," jelasnya.

Karena tak punya istri dan anak, Zaenuri dirawat adik kandungnya, Alfiah, warga Desa Ngarjo, Mojoanyar, Mojokerto. Insiden digigit kobra rupanya tak membuatnya kapok. Ia bertekat akan menangkap ular jenis apapun tanpa alat bantu maupun pelindung diri.

"Saya masih ingin bisa menangkap ular tanpa alat. Karena kesenangan saja, senang dan hobi. Sebetulnya saya ini menyelamatkan ular yang meresahkan atau mengganggu warga, jangan sampai dibunuh," terangnya.

Zaenuri rupanya memelihara sejumlah satwa liar yang ia tangkap dari rumah warga. Koleksinya saat ini terdiri dari 4 ular kobra, 1 ular sanca sepanjang 6 meter, 2 ular sanca ukuran kecil, 1 ekor kera, serta 1 ekor luwak. Semuanya di rumah Alfiah.

"Ular yang di rumah itu sudah jinak. Kalau ada yang minta, saya kasihkan, tapi tidak boleh dibunuh," tegasnya.

Alfiah sendiri mendukung aksi Zaenuri menangkap dan memelihara ular. Ia mengaku bergantian memberi makan dan merawat ular-ular tangkapan kakaknya. Sebagai contoh ular sanca biasa diberi pakan 3 ayam mati setiap bulan. Sedangkan kobra diberi 2 tikus putih setiap 2 minggu.

"Biaya gantian dengan Mas Zaenuri. Kadang dibelikan mas, kalau mas tidak sempat, saya yang belikan," tandasnya.



Simak Video "Menikmati Kebahagiaan Sederhana Tanpa Gadget di Mojokerto"

(auh/abq)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork