Niat Achmad Zaenuri alias Zaenal (68) untuk menjadi pawang ular justru berujung petaka. Relawan senior asal Mojokerto itu harus menjalani operasi setelah digigit ular kobra yang dievakuasinya dari rumah warga. Memang, saat menangkap satwa berbisa tersebut, ia tak mengenakan alat pelindung maupun perlengkapan keselamatan.
Meski mengalami luka serius hingga kedua tangannya membengkak akibat bisa ular, pimpinan Relawan Birunya Cinta (RBC) itu mengaku tidak kapok. Zaenuri bahkan bertekad tetap menangkap ular dengan tangan kosong karena menganggap aktivitas tersebut sebagai hobi sekaligus upaya menyelamatkan ular agar tidak dibunuh warga.
Zaenuri merupakan relawan yang sudah malang melintang di Mojokerto. Wajahnya kerap terlihat dalam berbagai proses evakuasi jenazah korban kecelakaan, tindak pidana, meninggal mendadak, hingga bencana alam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belakangan, pria berusia 68 tahun itu juga aktif mengevakuasi satwa liar yang dianggap meresahkan masyarakat, mulai dari tawon vespa, biawak, luwak, kera liar, hingga ular. Tak jarang, Ketua RBC tersebut menangkap ular secara serampangan tanpa menggunakan alat bantu.
Meski baru saja mengalami insiden serius, Zaenuri mengaku tidak jera. Ia tetap ingin menangkap ular tanpa menggunakan alat bantu maupun pelindung karena menganggap kegiatan tersebut sebagai kesenangan sekaligus bentuk penyelamatan satwa liar.
"Saya masih ingin bisa menangkap ular tanpa alat. Karena kesenangan saja, senang dan hobi. Sebetulnya saya ini menyelamatkan ular yang meresahkan atau mengganggu warga, jangan sampai dibunuh," terangnya.
Di rumah adiknya, Alfiah, Zaenuri masih memelihara sejumlah satwa hasil evakuasi dari permukiman warga. Koleksinya terdiri dari empat ekor ular kobra, seekor ular sanca sepanjang enam meter, dua ular sanca berukuran kecil, seekor kera, dan seekor luwak.
"Ular yang di rumah itu sudah jinak. Kalau ada yang minta, saya kasihkan, tapi tidak boleh dibunuh," tegasnya.
Sebelumnya, insiden terjadi saat Zaenuri menerima laporan adanya ular yang masuk ke rumah warga di Lingkungan Mulyosari, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, Kamis (23/7/2026) sekitar pukul 08.00 WIB. Sesampainya di lokasi, ia langsung mencari keberadaan ular tersebut.
"Sampai di lokasi, keterangan pemilik rumah, ularnya lari ke got. Saya cari, ternyata ular di dalam pipa dari saluran rumah menuju got, cuma kelihatan kepalanya," kata Zaenuri.
Meski mengetahui ular tersebut merupakan jenis kobra, Zaenuri tetap nekat menangkapnya menggunakan tangan kosong. Aksi tersebut dilakukan tanpa sarung tangan maupun alat pelindung lain.
"Tidak pakai sarung tangan karena saya memang ingin menangkap ular tanpa alat. Saya kepingin seperti pawang ular," terangnya.
Setelah berhasil menangkap kobra, Zaenuri mengaku sempat melepasnya di jalan aspal depan rumah warga. Menurutnya, ular itu harus dijinakkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam tas.
"Ingin saya jinakkan dulu, itu harus dijinakkan. Jadi, kalau menangkap ular itu harus dijinakkan. Setelah jinak, lemas, baru ditangkap. Setelah itu, saya masukkan ke dalam tas rangsel abu-abu," cetusnya.
Namun petaka terjadi ketika Zaenuri tiba di depan sebuah warung bakso di Jalan RA Basuni, Sooko, Mojokerto. Ia tidak menyadari tas ranselnya berlubang sehingga ular kobra bersama seekor ular kayu peliharaannya terlepas.
Setelah diingatkan tukang parkir, Zaenuri berusaha kembali menangkap ular kobra tersebut agar tidak membahayakan warga sekitar. Saat itulah ular berbisa tersebut menggigit telapak tangan kirinya, lalu kembali menggigit jari telunjuk tangan kanannya.
"Langsung saya tarik pakai tangan kanan, lepas dan lari, lalu saya tangkap lagi pakai tangan kanan, jari telunjuk digigit juga. Kemudian saya masukkan ke tas rangsel satunya. Ular kayu juga saya masukkan ke tas itu," ungkapnya.
Usai tergigit, Zaenuri langsung menuju RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara tas berisi ular kobra dan ular kayu ditinggalkannya di sepeda motor hingga akhirnya dua hari kemudian dievakuasi oleh petugas pemadam kebakaran.
"Karena saya khawatir tas itu dicuri orang, tidak tahu kalau isinya ular," ujarnya.
Bisa ular kobra menyebabkan kedua tangan Zaenuri membengkak. Ia kemudian menjalani operasi pengangkatan jaringan yang rusak pada Sabtu (25/7/2026) dan hingga kini masih menjalani masa pemulihan.
"Tadi sudah boleh pulang, tapi saya masih mual, demam, pusing dan muntah," jelasnya.
Karena Zaenuri tidak memiliki istri maupun anak, selama menjalani perawatan ia ditemani adik kandungnya, Alfiah. Ia mengaku bergantian merawat sekaligus memberi makan satwa-satwa peliharaan kakaknya.
"Biaya gantian dengan Mas Zaenuri. Kadang dibelikan mas, kalau mas tidak sempat, saya yang belikan," tandasnya.
