Meski tangannya harus dioperasi karena digigit ular kobra, Achmad Zaenuri alias Zaenal (68) ternyata tak kapok. Relawan Birunya Cinta (RBC) Mojokerti ini bahkan tetap akan menangkap ular apapun jenisnya dengan tangan kosong yang mengganggu warga.
"Saya masih ingin bisa menangkap ular tanpa alat. Karena kesenangan saja, senang dan hobi. Sebetulnya saya ini menyelamatkan ular yang meresahkan atau mengganggu warga, jangan sampai dibunuh," kata Zanuri, Selasa (28/7/2026).
Zaenuri sendiri mengaku punya peliharaan sejumlah satwa liar yang ia tangkap dari rumah warga. Koleksinya saat ini terdiri dari 4 ular kobra, 1 ular sanca sepanjang 6 meter, 2 ular sanca ukuran kecil, 1 ekor kera, serta 1 ekor luwak. Semuanya di rumah Alfiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ular yang di rumah itu sudah jinak. Kalau ada yang minta, saya kasihkan, tapi tidak boleh dibunuh," tegasnya.
Alfiah, adik kandung Zaenuri mengaku tak keberatan kakaknya memelihara satwa liar, termasuk ular. Ia bahkan kerap bergantian memberi makan dan merawat ular-ular tangkapan milik Zaenuri.
Untuk ular sanca, lanjut Alfiah, Zaenuri biasanya memberi makan tiga ekor ayam mamti setiap bulan. Sedangkan kobra diberi 2 tikus putih setiap 2 minggu.
"Biaya gantian dengan Mas Zaenuri. Kadang dibelikan mas, kalau mas tidak sempat, saya yang belikan," tandasnya.
Sebelumnya, Achmad Zaenuri alias Zaenal (68), seorang relawan di Mojokerto digigit ular kobra. Akibatnya, pimpinan Relawan Birunya Cinta (RBC) ini harus menjalani operasi akibat gigtan ular berbisa tersebut.
Zaenuri diketahui dipatuk ular kobra pada Kamis (23/7) sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu ia mendapat informasi ular masuk rumah warga Lingkungan Mulyosari, Kelurahan/Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto.
"Sampai di lokasi, keterangan pemilik rumah, ularnya lari ke got. Saya cari, ternyata ular di dalam pipa dari saluran rumah menuju got, cuma kelihatan kepalanya," kata Zaenuri kepada detikJatim di kamar rawat inap Kertabumi 9, RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto, Senin (27/7/2026).
Nahas ular yang ditangkap itu lepas dari tas dan mematuk tangannya saat ditangkap kembali. Sadar mendapat gigitan dari kobra, Zaenuri bergegas ke RSUD dr Wahidin Sudiro Husodo. Tas rangsel berisi ular kobra dan kayu ia taruh di sepeda motornya. Baru 2 hari kemudian, kedua ular itu dievakuasi oleh tim pemadam kebakaran.
"Karena saya khawatir tas itu dicuri orang, tidak tahu kalau isinya ular," ujarnya.
Bisa ular kobra mengakibatkan kedua tangan Zaenuri bengkak. Ia telah menjalani operasi untuk mengangkat jaringan yang rusak di kedua tangannya pada Sabtu (25/7). Saat ini, ia masih menjalani pemulihan.
"Tadi sudah boleh pulang, tapi saya masih mual, demam, pusing dan muntah," jelasnya.
Karena tak punya istri dan anak, Zaenuri dirawat adik kandungnya, Alfiah, warga Desa Ngarjo, Mojoanyar, Mojokerto. Insiden digigit kobra rupanya tak membuatnya kapok. Ia bertekat akan menangkap ular jenis apapun tanpa alat bantu maupun pelindung diri.
