Menjalankan ibadah haji adalah impian setiap muslim. Namun, di balik kekhusyukan ibadah, terdapat tantangan kesehatan yang tidak bisa diabaikan. Tingginya angka kematian jemaah haji Indonesia setiap tahun menjadi pengingat penting untuk mengenali berbagai faktor risiko sejak dini.
Data Kementerian Kesehatan mencatat, pada 2025, angka kematian jemaah mencapai 418 orang, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini turut menjadi perhatian otoritas terkait yang menekankan pentingnya kelayakan kesehatan (istitha'ah) sebelum keberangkatan.
Faktor Risiko Kematian Jemaah Haji
Risiko kematian jemaah haji tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi kesehatan hingga faktor lingkungan di tanah suci.
Data di lapangan menunjukkan, penyakit bawaan seperti gangguan jantung, usia lanjut akibat panjangnya masa tunggu, hingga paparan cuaca ekstrem di Arab Saudi menjadi pemicu utama yang dapat memperparah kondisi jemaah selama menjalankan rangkaian ibadah.
1. Penyakit Medis
Mayoritas kematian disebabkan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung. Selain itu, penyakit pernapasan, diabetes, serta kondisi dehidrasi dan heatstroke juga menjadi faktor pemicu.
2. Usia dan Penyakit Penyerta
Banyak jemaah Indonesia berangkat pada usia lanjut akibat panjangnya masa tunggu. Pada kelompok lansia, terutama yang memiliki penyakit penyerta (komorbid), risiko komplikasi meningkat saat menjalani rangkaian ibadah yang berat.
Tercatat sebagian besar jemaah yang wafat berasal dari kelompok lansia, umumnya berusia di atas 65 tahun. Pada usia ini, daya tahan tubuh cenderung menurun, terlebih jika disertai penyakit penyerta, sehingga lebih rentan mengalami komplikasi saat menjalani aktivitas fisik yang berat di tanah suci.
3. Cuaca Ekstrem di Arab Saudi
Suhu yang sangat tinggi dan kondisi udara kering di Arab Saudi, khususnya Makkah, dapat memicu dehidrasi dan heatstroke pada jemaah. Paparan panas ekstrem ini juga berisiko memperparah penyakit bawaan, terutama gangguan jantung dan pernapasan, terlebih saat menjalani aktivitas ibadah yang padat di luar ruangan.
Tips Sehat Selama Ibadah Haji
Menjaga kesehatan selama menjalani ibadah haji menjadi hal yang tidak boleh diabaikan, terutama bagi jemaah lansia atau yang memiliki penyakit penyerta. Persiapan matang sejak sebelum keberangkatan sangat diperlukan agar jemaah tetap fit dan dapat menjalankan ibadah dengan lancar. Berikut tipsnya.
1. Persiapan Pra-Ibadah
- Lakukan medical check-up secara menyeluruh, bukan sekadar memenuhi syarat administrasi.
- Pastikan penyakit penyerta dalam kondisi terkontrol sebelum berangkat.
- Biasakan jalan kaki secara rutin untuk melatih stamina. Sebab, saat haji nanti, jemaah akan banyak berjalan kaki menempuh jarak yang lumayan jauh.
2. Saat Ibadah Haji
- Perbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi di tengah cuaca panas ekstrem. Selalu bawa botol minum dan konsumsi air sesering mungkin.
- Gunakan pelindung seperti payung, masker, dan semprotan wajah untuk menghindari panas dan debu.
- Jangan memaksakan ibadah sunah jika kondisi tubuh menurun, utamakan ibadah wajib.
3. Sepulang Ibadah Haji
- Istirahat cukup dan beri waktu tubuh untuk pemulihan setelah perjalanan panjang.
- Segera periksa ke dokter jika mengalami gejala seperti batuk, demam, atau sesak napas, setelah tiba di tanah air, segera konsultasikan ke dokter.
Simak Video "Video: Ongkos Haji Turun Rp 2 Juta, Pemerintah Tanggung Rp 1,77 T Imbas Harga Avtur Naik"
(irb/hil)