PLN buka-bukaan soal 'surat cinta' kepada seorang dokter di Surabaya. Tak main-main, surat cinta tersebut berisi tagihan denda senilai Rp 80 juta.
Dokter tersebut adalah adalah dr Maitra D. Wen, Sp.And (K), MClinEmbryol. Ia sempat mengungkapkan curahan hatinya di akun Instagram pribadinya @dr.maitra_sp.and_mce.
Manajer Komunikasi & TJSL PLN UID Jatim Anas Febrian buka-bukaan perihal denda tersebut. Dia menyampaikan kronologi detail bagaimana sang dokter bisa didenda Rp 80 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anas menyebut, pihaknya menemukan pelanggaran pada meteran listrik milik Maitra yang segelnya terputus. Yang jadi perhatian PLN serius PLN adalah temuan kabel jumper di meteran tersebut. Kabel jumper itu memengaruhi pemakaian listrik hingga menyebabkan kerugian negara.
"Jadi itu ditemukan pada saat petugas kami melakukan kegiatan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik atau P2TL tanggal 8 Agustus lalu. Kegiatan yang memeriksa setiap meteran di rumah pelanggan itu rutin kami lakukan," beber Anas kepada detikJatim, Rabu (10/8/2022).
Pada hari itu, kata Anas, setidaknya ada 5 orang tim PLN yang terjun ke lokasi. Anas belum memastikan berapa jumlah petugas yang terjun saat itu karena juga melibatkan pihak kepolisian. Sedangkan dalam versi yang disampaikan dr Maitra, hari itu ia didatangi 12 orang petugas, termasuk polisi.
"Jadi ada 2 metode dalam melakukan kegiatan P2TL ini. Ada yang dengan penyisiran seperti ini, dan ada yang berdasarkan TO atau target operasi, biasanya dari laporan masyarakat. Kasus yang dialami dokter bersangkutan ini ditemukan murni pada saat penyisiran," kata Anas.
Petugas PLN menemukan kabel jumper yang tertutup isolasi hitam. Baca di halaman selanjutnya.
Petugas PLN Menemukan Kabel Jumper di Meteran Listrik
Pada hari itu Tim P2TL PLN memang menyisir rumah pelanggan di kawasan Surabaya Barat, di perumahan tempat dr Maitra tinggal. Hingga rombongan petugas didampingi polisi itu tiba di rumah dr Maitra.
"Nah, pada saat penyisiran itu ditemukan segel di meteran Pak Dokter itu terputus. Di sinilah kami ingin memperjelas, bukan segel yang menjadi masalah. Setelah menemukan segel itu terputus, petugas kami melakukan pengukuran kemampuan meter yang juga disaksikan oleh pelanggan. Ternyata meter ini mengalami ketidaksesuaian. Jadi ada minus 28 persen dari pengukuran yang seharusnya. Ternyata meter itu error," urai Anas.
Menindaklanjuti temuan error pada meteran berupaya ketidaksesuaian kemampuan putaran meteran itulah, lanjut Anas, petugas PLN melakukan pengecekan lanjutan pada bagian terminal alat pengukur dan pembatas (APP) atau meteran tersebut.
"Ternyata pada terminal APP itu ditemukan isolasi hitam yang seharusnya tidak ada di sana. Isolasi itu ternyata menutup atau meng-cover sebuah kabel jumper. Kami indikasikan kabel itu memang sengaja dikaburkan dengan isolasi itu, yang mana kabel jumper itu memengaruhi secara teknis kemampuan putaran APP atau meteran itu," katanya.
Anas menekankan lagi, temuan kabel jumper itulah jadi dasar petugas P2TL PLN mengeluarkan keputusan penerapan denda terhadap dr Maitra. Kabel jumper itu adalah sebuah pelanggaran.
"Jadi bukan karena segel meteran yang terbuka, seperti narasi yang saya lihat di Instagram detikJatim. Jadi bentuk segel meteran itu kayak kawat. Dia bahasanya bukan terbuka, tapi terputus. Kawat ini yang seharusnya terikat sempurna membentuk lingkaran seperti segel. Nah, dia terputus. Segel putus itu yang membuat petugas di lapangan melakukan pengecekan lebih lanjut dan menemukan kabel jumper tadi," paparnya lagi.
Dasar PLN menerapkan denda Rp 80 juta untuk dr Maitra. Simak selengkapnya di halaman berikutnya.
PLN Sebut Denda Rp 80 Juta Sudah Sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM
Mengenai pelanggaran yang ditemukan, Anas menjelaskan bahwa itu sudah sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM 27/2017 tentang Tingkat Mutu Pelayanan dan Biaya yang Terkait dengan Penyaluran Tenaga Listrik oleh PLN. Pelanggaran itu termasuk Golongan II atau P II, yakni pelanggaran yang memengaruhi pengukuran energi tetapi tidak mempengaruhi batas daya.
"Nah, untuk penerapan tarif (denda) Rp 80 juta itu memang sudah sesuai dengan perhitungan yang ditetapkan pemerintah. Jadi kenapa kok besar sekali? Karena memang tarif daya pelanggan itu memengaruhi perhitungan. Jadi kalau daya semakin tinggi, tagihan susulannya (denda) akan semakin besar," katanya.
Anas juga menjelaskan, denda sebesar itu diterapkan karena petugas menemukan adanya pelanggaran atau penyalahgunaan yang berpotensi membuat negara tidak menerima pendapatan yang seharusnya. Penerapan ini sudah sesuai dengan aturan, dan sesuai dengan aturan yang ada pula, tidak ada keringanan atau pembebasan denda bagi pelanggan.
Akhirnya, mau tak mau, sang dokter harus membayar denda tersebut jika tak ingin listrik di rumahnya dicabut. detikJatim telah menghubunginya dan diizinkan untuk mengutip curhatannya di medsos.
"Pelajaran berharga senilai Rp. 80jt di hari Senin nan indah. Penting tuk dicermati bersama spy tdk terjadi hal serupa. Long story short, saya sudah membeli dan menempati rumah ini selama 12 tahun. Selama ini tidak pernah ada masalah berarti dengan PLN selain tiba2 mati lampu :)," tulis dr Maitra saat membuka curhatannya di medsos yang dilihat detikJatim di Surabaya, Selasa (9/8).
Ia menceritakan, dirinya kedatangan petugas dari PLN yang melakukan survei meteran listrik di perumahannya. Lalu, ketika di rumahnya, ia mengaku kaget bukan main. Ternyata, petugas menyatakan segel meteran milik dr Maitra ada yang terbuka.
"Ada semacam kabel yang dikatakan seharusnya tidak ada. Diduga kabel tersebut bisa memperlambat putaran meteran dan membuat tagihan listrik menjadi berkurang. Diberilah denda 80jt tsb, yg tentunya jika tdk dibayar, listrik diputus," tambah dr Maitra.
"Masalahnya, setahu saya, meteran adalah milik PLN yang tidak boleh diutak atik sehingga kami sekeluarga pasti tidak pernah mengutak atik :)," imbuhnya.