Curhat Pelaku Usaha Jasa Pariwisata di Bantul Usai Harga BBM Naik

Curhat Pelaku Usaha Jasa Pariwisata di Bantul Usai Harga BBM Naik

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Rabu, 21 Sep 2022 17:17 WIB
Ketua BPC PHRI Bantul Yohanes Hendra saat memberikan keterangan, Rabu (21/9/2022).
Ketua BPC PHRI Bantul Yohanes Hendra saat memberikan keterangan, Rabu (21/9/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
Bantul -

Badan Pengurus Cabang (BPC) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bantul menyebut kenaikan harga BBM membuat banyak pengelola hotel dan rumah makan mengeluh. Kunjungan ke hotel juga turun signifikan.

"Dengan naiknya BBM ini anggota kami mengeluh karena para pekerja tidak dibarengi dengan peningkatan pendapatan," kata Ketua BPC PHRI Bantul Yohanes Hendra kepada wartawan di Kapanewon Sewon, Bantul, Rabu (21/9/2022).

Hendra mencontohkan, jumlah kunjungan ke restoran dan destinasi wisata Little Tokyo (Litto) yang biasanya mencapai 600 orang per hari kini merosot hingga 50 persen.


"Sehari biasanya di Litto 600 orang dan saat ini hanya setengahnya saja," ujarnya.

Menurut Hendra, penurunan jumlah pengunjung itu karena naiknya biaya transportasi ke objek wisata (obwis) Bantul.

"Banyak wisatawan yang mengeluh, untuk ke Yogyakarta membutuhkan biaya mahal. Karena biaya transportasi sudah naik, seperti sewa bus sedang dari yang biasanya Rp 1,4 juta dalam sehari saat ini sudah mencapai Rp 1,8 juta," ujarnya.

"Dan, kuota tetap sama tapi harga yang naik. Ya ini yang jadi salah satu faktor kunjungan wisatawan menurun," lanjut Hendra.

Guna menghadapi hal tersebut, BPC PHRI Bantul berupaya meminimalisir biaya operasional dengan menghemat pemakaian listrik dan air ketika tak ada kunjungan wisatawan.

"Untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Jogja perlu usaha keras dalam mempromosikannya, bahkan promosi bersama bukan jadi kunci. Sebenarnya kunci utama pemerintah pusat tidak memberatkan dulu karena sektor pariwisata baru mulai bangkit," ucapnya.

Sementara itu, pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Bantul Malia Sayuti menyebut bahwa penurunan kunjungan wisata di penginapan, restoran, hingga obwis mulai terjadi sejak bulan ini. Padahal, saat ini aturan berwisata semakin leluasa seiring dengan menurunnya kasus COVID-19.

"Mulai September ini kelihatan sepi jika dibandingkan Agustus lalu. Kita berupaya untuk terus memasarkannya, di antaranya dengan menggelar Jogja Travel Mart yang bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY, kemudian camping atau bermalam di destinasi wisata. Pada 20 Oktober akan ada pertemuan semua travel agen dan pengelola destinasi wisata," ujarnya.



Simak Video "Kafe Tak Berizin di Babarsari Disegel, Sempat Terjadi Perlawanan"
[Gambas:Video 20detik]
(dil/rih)