Nasi atau sego kropoohan merupakan salah satu kuliner peninggalan era Kerajaan Demak Bintoro. Masakan ini konon favorit para Raja Demak lho.
Sego kropohan ini juga bisa ditemui saat hajatan warga Demak. Menilik dari maknanya, kropohan dalam bahasa Jawa berarti campuran. Seperti namanya, sego kropohan terdiri dari campuran daging kerbau dan waluh (labu) atau gori (nangka muda) dengan kuah bening.
Daging kerbau digunakan sebagai tradisi menjalin toleransi dengan umat beragama. Sekilas penampakan sego kropohan ini mirip dengan sup berkuah bening dengan topping bawang goreng dan cabai rawit hijau.
Saat dicicipi tekstur daging kerbau dan labu terasa empuk. Bumbu kuahnya terasa gurih dan tidak kental. Perpaduan bawang putih dan kemiri membuat citarasa kuah kropohan mirip sup bening.
Salah satu pedagang sego kropohan bisa ditemui di Jalan Bhayangkara dekat RSUD Sunan Kalijaga. Penjualnya bernama Erlina Yunita (50) yang mengaku berjualan sejak 7 tahun lalu meneruskan resep mertuanya.
"Orang-orang zaman kerajaan itu dulu mengajak rakyatnya juga untuk ikut makan. Mereka dikasih kulitnya lalu dicampur waluh atau gori. Dengan bumbu seminimalis mungkin, pokoke bumbune sitik ora reko-reko (aneh-aneh)," jelas Yuni di warungnya, Senin (14/8/2023).
"Bumbunya itu ada bawang sama ketumbar sama kemiri. Dicampur dimasak, kemudian dicampur/dikropoh, rakyat-rakyat (zaman dulu) bisa menikmati. Tradisi seperti itu masih pada saat orang nduwe gawe (hajatan)," imbuhnya.
Yuni menyebut jika mengacu historis, kropohan bisa diisi dengan kulit. Namun, menurutnya, pelanggan warungnya kurang suka.
"Zaman dulu itu yang dipakai kulit, tapi di sini aku nggak pake kulit karena pembeli nggak begitu suka. Ada yang nggak seneng. Ini aku pakai daging kerbau," ujarnya.
Wanita asal Padang, Sumatera Barat, ini mengaku memasak kropohan berdasarkan resep warisan ibu mertuanya yang asli Demak. Dia pun berharap bisa terus mengenalkan sego kropohan ke anak cucunya.
"Aku kepingin kalau masakan yang langka ini bisa terangkat, bisa banyak orang tahu. Termasuk besok anak cucuku ya ngerti kalau Demak itu punya masakan yang spesial. Kenapa aku tetep kukuh masak itu, masakan itu," tutur Yuni yang sudah 27 tahun menetap di Demak ini.
Selengkapnya kropohan disebut menu favorit Raja Demak.
(ams/apl)