Kisah Inspiratif Sejoli Buka Warung Lobster di Semarang

Kisah Inspiratif Sejoli Buka Warung Lobster di Semarang

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Minggu, 23 Jan 2022 09:33 WIB
Menu lobster di restoran Afterbreak, Semarang.
Menu lobster di restoran Afterbreak, Semarang. (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng)
Semarang -

Sepasang kekasih atau sejoli asal Kabupaten Kendal menjadi inspirasi karena sukses meniti usaha kuliner seafood dengan menu lobster harga murah. Mulai dari menawarkan ke orang-orang hingga kini menjadi start up kuliner.

Pasangan tersebut adalah Hella Ayu dan Dani yang memulai usaha menjual masakan kepiting dan rajungan tahun 2016. Waktu itu mereka berjualan keliling menggunakan motor. Dapurnya berada di rumah Dani dan kokinya adalah ibu Dani.

"Waktu itu dijual dengan harga Rp 13-15 ribu seporsi, masih menggunakan saus oren yang cepat basi, kemasan masih plastik. Sehari jualan paling banyak laku 3 porsi, sisanya dimakan sendiri," kata Hella kepada detikJateng, Sabtu (22/1/2022).


Upaya jualan keliling itu akhirnya menghasilkan dan bisa untuk membuat dapur seluas 3x4 meter di garasi rumah Dani. Debut pertama itu memperkerjakan satu karyawan. Lokasi warung pertama itu berada di dalam kampung dan berkonsep lesehan.

"Benar-benar ada di tengah kampung, outlet kami kecil, konsep lesehan dan minim fasilitas karena tidak ada toilet dan tempat salat pun seadanya," ujarnya.

Selain mengembangkan usaha, pasangan yang kini telah menikah itu juga membangun link untuk mendapatkan bahan seafood. Kemudian mereka memberanikan diri menjual olahan lobster yang identik dengan makanan mewah, namun mereka jual dengan harga murah. Bahan bakunya mereka dapat dari pantai selatan Jawa.

"Dari menu lobster inilah pelanggan mulai banyak yang berdatangan untuk membeli dan menikmati sajian lobster murah. Awalnya kami berdua sempat pesimis karena di Kaliwungu Kendal terkenal masyarakatnya lebih suka makanan dengan harga murah, porsi besar, dan rasa nomer sekian. Sedangkan saat itu kami berani menjual seporsi makanan di harga Rp 100 ribu, bisa dinikmati 3-4 orang," jelasnya.

"Akhirnya kami dikenal sebagai outlet kecil yang jualan aneka macam seafood dengan menu utama yaitu lobster," imbuh Hella.

Menu lobster itu memang dipilih agar semua kalangan bisa menikmati hidangan mewah tersebut. Hella menyebut ia bisa menjual murah karena menguasai sumber bahan baku. Selain itu potensi lobster lokal Indonesia sangat besar.

"Everyone can eat lobster bukan sekadar wacana, ini adalah bentuk kontribusi kami sebagai anak bangsa yang ingin memulai mimpi kami untuk memanfaatkan potensi kekayaan alam laut Indonesia untuk masyarakat Indonesia sendiri," ujarnya.

Dari penjualan lobster dan seafood lainnya itulah usaha yang diberi nama Afterbreak itu berkembang hingga omset hampir Rp 100 juta di tahun 2019. Namun kemudian tahun 2020 pandemi COVID-19 datang dan penjualan turun drastis. Hella menjelaskan, dengan berbagai upaya mereka bisa bangkit dan mulai ekspansi dengan membuka gerai di Jalan Menoreh Raya No.81 Kota Semarang.

"Alasan kami berani mengambil risiko ekspansi usaha di tengah pandemi ini adalah karena kami optimis dan percaya bahwa setiap krisis selalu melahirkan peluang. Kita bisa memilih mau jadi pemenang atau menyerah dengan keadaan," tegasnya.

Afterbreak Semarang bangkit dengan konsep start up kuliner dengan prinsip light asset, light opex. Salah satu contohnya yaitu promosi yang tidak menggunakan cara lama seperti iklan billboard, flyer, maupun di koran. Mereka menggunakan kemajuan teknologi dan digitalisasi.

"Bukan berarti cara-cara yang saya sebut tadi jelek ya, sama sekali bukan itu maksud saya. Tapi kita di Afterbreak ini menggunakan cara-cara terbaru sesuai dengan start up way. Kita harus inovatif, harus cepat dalam mengambil keputusan dan dalam dunia start up hal ini disebut pivot. Dan tentu banyak strategi lainnya yang kita lakukan, boleh dibilang strategi Afterbreak itu very very low budget but high impact," kata lulusan pascasarjana Unnes jurusan pendidikan Bahasa Inggris itu.

Usaha pasangan suami istri yang menikah 2019 lalu itu makin maju dengan berbagai menu mewah namun masih bisa diicip dengan harga murah. Selain lobster yang menjadi andalan, kini Afterbrak juga menambah menu king crabs Alaska yang harga utuhnya sekitar Rp 8 juta. Namun di Afterbreak dengan budget di bawah Rp 500 ribu bisa mencicip king crabs legs yang diimpor langsung dari Amerika.

"Untuk bisa menikmati seporsi lobster dan king crabs, seafood lovers nggak perlu mengeluarkan uang jutaan, tak sampai Rp 500 ribu seporsi, sudah bisa mendapatkan menu lobster asli Indonesia dengan King Crabs impor dari Alaska Amerika. Satu porsi bisa dinikmati untuk 3-4 orang," ujarnya.

Sebagai seorang pengusaha, Hella dan Dani menyadari akan banyak hambatan. Namun ia yakin hal itu bisa dilewati jika memiliki konsep untuk melaluinya.

"Kesulitan dan hambatan tentu banyak, tapi kami meyakini, hanya dibutuhkan cara berpikir yang berbeda dengan konsep yang berbeda kami mampu bertahan di situasi krisis (pandemi) seperti saat ini," katanya.



Simak Video "Semarang Dilanda Banjir, Warga Diimbau Tak Keluar Rumah"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/aku)