Merah Putih Jumbo Berkibar di Bukit Klangon, Jejak Perjuangan Lawan Penjajah

Jauh Hari Wawan S - detikJateng
Selasa, 16 Agu 2022 11:04 WIB
Sleman -

Semarak HUT ke-77 Kemerdekaan RI terasa di Bukit Klangon, Sleman, DIY. Warga mengibarkan bendera merah putih ukuran jumbo atau raksasa di wilayah lereng Gunung Merapi itu.

Pengibaran bendera merah putih raksasa itu dilakukan warga Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, untuk mengenang jasa para pahlawan.

Pantauan detikJateng, upacara pengibaran bendera merah putih raksasa digelar hari ini, Selasa (16/8/2022). Bendera merah putih berukuran 9x6 meter tampak gagah berkibar di tiang setinggi 17 meter.


Upacara pengibaran bendera ini dipimpin oleh Komandan Koramil Cangkringan Kapten (Inf) Tosikin. Pesertanya terdiri mahasiswa, masyarakat sekitar, perangkat pemerintahan, TNI, Polri, dan relawan.

"Suatu kehormatan bagi kita karena pengibaran bendera ini ada sejarahnya. Untuk mengenang jasa pahlawan di Cangkringan dan seputaran Sleman. Dipilih Klangon karena ada sejarahnya," kata Tosikin seusai upacara, Selasa (16/8/2022).

Adapun sejarah di lokasi tersebut, Belanda pernah menyerbu dan membakar rumah-rumah penduduk. Pimpinan desa dan sejumlah warga ditangkap lalu dieksekusi mati.

Lurah Glagaharjo, Suroto, mengatakan pada Maret 1949, di Cangkringan terjadi pertempuran melawan Belanda. Bahkan hingga saat ini peninggalan penjajah masih ada di sekitar Bukit Klangon. Oleh karena itu, upacara menyongsong HUT Kemerdekaan RI ini sebagai pengingat atas jasa pahlawan.

"Sejarah kenapa di sini menjadi pengibaran merah putih karena di sini ada tempat pertempuran dulu melawan Belanda. Di bawah ini ada gua untuk persembunyian penjajah di Cangkringan. Makanya setiap tahun kita adakan untuk mengenang pahlawan," kata Suroto ditemui di lokasi yang sama.

Pertempuran yang dimaksud Suroto yakni peristiwa penyerbuan tentara Belanda di sekitar Desa Argomulyo, Cangkringan. Pasukan Belanda saat itu membakari rumah-rumah penduduk.

Mereka juga menangkap Kades Argomulyo, Suharjo, dan carik desa, Sukarman. Keduanya ditembak di persawahan dan gugur. Selain itu delapan orang penduduk juga gugur.

Sebelum terjadi penyerbuan di Argomulyo, pasukan Belanda menyisir kampung penduduk. Terjadi pertempuran sengit dengan penduduk yang melawan bersama laskar rakyat.

Dalam peristiwa itu Bapak Wanayik atau Sayid Barnadian dari laskar rakyat gugur tertembak Belanda di barat lapangan Jabalkat dan dimakamkan di Dusun Duwet Wukirsari, Cangkringan.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...