Mengenang Aksi Pengeboman Pertama, Cikal Bakal Hari Bhakti TNI AU

Jauh Hari Wawan S - detikJateng
Jumat, 29 Jul 2022 07:44 WIB
Teatrikal mengenang aksi pemboman pertama TNI AU
Teatrikal mengenang aksi pengeboman pertama TNI AU. (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng)
Sleman -

Menjelang Subuh tanggal 29 Juli 1947 lapangan terbang Maguwo (kini Lanud Adisutjipto) nampak sibuk. Tiga pesawat AURI bersiap untuk terbang melakukan serangan udara pertama ke kubu militer Belanda.

Tiga pesawat AURI yakni satu pesawat Guntei dan dua pesawat terbang Churen take off secara berurutan di lapangan terbang Maguwo Yogyakarta. Tujuannya sebagai serangan kepada kubu militer Belanda di Semarang, Salatiga, dan Ambarawa.

Pesawat Guntei diterbangkan oleh Mulyono dan Dulrachman sebagai 'air-gunner'. Kemudian, disusul pesawat Churen yang dikemudikan oleh Sutardjo Sigit dan dibantu Sutardjo sebagai 'air-gunner'.


Keadaan pesawat yang diberangkatkan pun kurang memadai, mengingat tidak adanya lampu atau radio. Hanya berbekal senter untuk berkomunikasi dengan isyarat.

Pesawat Guntei dan dua pesawat Cureng secara beruntun terbang meninggalkan Lapangan Udara Maguwo.

Pesawat Guntei yang dipiloti Kadet Udara 1 Mulyono dengan penembak Dulrahman terbang lebih dahulu untuk menuju Semarang.

Disusul dua pesawat Cureng yang dipiloti Kadet Udara 1 Sutarjo Sigit dengan penembak Sutarjo (menuju Salatiga) dan Kadet Udara 1 Suharnoko Harbani dengan penembak Kaput (menuju Ambarawa).

Dengan segala keterbatasannya, misi berhasil diselesaikan. Setelah itu, untuk menghindari sergapan pesawat pemburu Belanda P-40 Kitty Hwak (Curtiss), para kadet terbang rendah dan mendarat pukul 06.20 lalu menyembunyikan pesawatnya.

Itu merupakan gambaran aksi teatrikal dalam napak tilas Peringatan Hari Bhakti TNI AU ke-75 di Lanud Adisutjipto, Maguwoharjo, Sleman, Jumat (29/7/2022). Hari Bhakti TNI AU bertujuan untuk mengenang kembali peristiwa penting bagi prajurit TNI Angkatan Udara.

"75 tahun yang lalu para pendahulu TNI AU telah meakukan penerbangan pengeboman pertama terhadap kedudukan musuh di Kota Semarang, Salatiga dan Ambarawa. Napak tilas ini merupakan tradisi untuk mengenang kembali peristiwa tersebut yang kini kita peringati sebagai Hari Bhakti TNI AU," kata Kasau Marsekal Fadjar Prasetyo, di Lanud Adisutjipto.

Teatrikal mengenang aksi pemboman pertama TNI AUTeatrikal mengenang aksi pengeboman pertama TNI AU. (Foto: Jauh Hari Wawan S/detikJateng)

Fadjar mengatakan, Lanud Adisutjipto menjadi tempat yang sangat bersejarah bagi TNI AU. Di tengah keterbatasan, TNI AU masih mampu menjaga angkasa tanah air.

"Di saat yang sama inilah para insan TNI AU menegaskan jati dirinya sebagai pengawal dirgantara. Kini kita hadir di tempat ini untuk tetap menghidupkan semangat kepahlawanan dan pengabdian para pendahulu kita kepada generasi penerus TNI AU," ucapnya.

"Kita hadir karena panggilan hati dan rasa hormat akan dalamnya makna serta nilai-nilai perjuangan fisik, mental, jiwa dan raga para pendahulu," imbuhnya.

Fadjar melanjutkan, tepat di hari ini pula 75 tahun yang lalu TNI AU bangkit bersama dan berjuang bersama. Di hari yang bersejarah ini, kata Fadjar, para pendahulu TNI AU menunjukkan inti soliditas perjuangan para pendahulu. Baik senior maupun junior apapun pangkat dan korpsnya dan bahkan kadet sekalipun mereka berjuang bersama dengan nafas pengabdian yang tulus.

"Inilah esensi dari napak tilas Hari Bhakti TNI AU yaitu semangat dan tekat perjuangan yang harus kita renungkan kita resapi dan kita tapaki bersama," katanya.

"Oleh karena itu kita yang hadir di tempat dan momen bersejarah ini bertanggung jawab untuk melestarikan nilai-nilai kejuangan dan semangat pengabdian mereka," pungkasnya.



Simak Video "Momen Parade Pesawat Tempur Warnai HUT TNI AU di Yogya"
[Gambas:Video 20detik]
(mbr/mbr)