Cegah Stunting dengan Konsumsi Laron-Belalang, Begini Tips Kepala BKKBN

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Senin, 27 Jun 2022 15:23 WIB
laron
Laron (Foto: Istimewa)
Gunungkidul -

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyebut pencegahan stunting bisa dilakukan dengan mengonsumsi protein hewani. BKKBN pun menyarankan masyarakat untuk memilih mengonsumsi laron hingga belalang daripada mi instan atau ikan salmon.

"Jadi kan gini, laron itu bisa mencegah stunting karena apa? Laron ini kalau dikonsumsi dia protein hewani, proteinnya tinggi," kata Hasto Wardoyo usai menghadiri launching gerakan orang tua asuh peduli stunting di Pedukuhan Ngalang Ombo, Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, DIY, Senin (27/6/2022).

Perlu diketahui, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita atau bayi di bawah 5 tahun. Hal tersebut dipicu kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.


Hasto lalu menceritakan masa kecilnya yang kerap mengonsumsi laron. Untuk itu, Hasto berharap masyarakat tidak menganggap laron adalah makanan tidak bergizi atau menjijikkan.

"Jadi kalau saya waktu kecil juga konsumsi laron itu, karena ada proteinnya. Di Gunungkidul ada ungkrung, belalang, itu semua protein hewani dan itu halal," ucapnya.

Oleh sebab itu, mantan Bupati Kulon Progo ini menyarankan agar masyarakat tidak memaksakan membeli bahan makanan berprotein hewani dengan harga tinggi. Mengingat dengan mengonsumsi laron atau belalang saja sudah bisa memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Kabupaten Gunungkidul, DIY, Senin (27/6/2022).Kepala BKKBN Hasto Wardoyo di Kabupaten Gunungkidul, DIY, Senin (27/6/2022). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng

"Sehingga maksud saya tidak perlulah beli daging sapi, tidak perlu beli yang mahal-mahal. Bahkan daripada uangnya buat beli mi (instan) kenapa tidak untuk beli telur atau yang lebih terjangkau saja," ujarnya.

"Ikan juga yang murah, daripada beli yang mahal seperti ikan salmon, ikan tuna tidak usah. Kalau ada syukur tapi kalau tidak ada tidak usah dipaksakan. Ikan kembung juga sudah cukup," lanjut Hasto.

Apalagi hingga saat ini angka stunting di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terbilang masih tinggi. Kabupaten Gunungkidul menjadi penyumbang utama kasus stunting.

"DIY kan masih 17 persen, tapi ya itu angka yang mendekati 14 persen. Target kita 14 persen, kami akan konsentrasi ke daerah-daerah yang masih terlalu tinggi seperti di Gunungkidul ini masih 20 persen sehingga masih di atas rata-rata DIY," ujarnya.

Hasto menilai kunci menurunkan stunting di DIY berada di Kabupaten Gunungkidul. Sehingga saat ini BKKBN fokus menangani stunting di Gunungkidul, salah satunya dengan gerakan orang tua asuh peduli stunting.

"Kalau Gunungkidul bisa turun, maka insyaallah DIY bisa mencapai 14 persen. Karena Gunungkidul kan proporsi penduduknya juga besar kemudian angkanya juga tinggi. Sehingga kita lebih memilih fokuskan di Gunungkidul," pungkasnya.



Simak Video "Penampakan Serbuan Laron 'Teror' Pengendara di Jembatan Kali Porong"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/ams)