Jogja Darurat Sampah, Sultan HB X Turun Tangan-Gibran Buka Peluang Kerja Sama

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 11 Mei 2022 06:37 WIB
Tumpukan sampah terlihat menggunung hingga menutup trotoar serta bahu jalan di kawasan Pasar Lempunyangan, Kota Yogyakarta, Yogyakarta, Selasa (10/5/2022). Penumpukan sampah disejumlah titik imbas dari ditutupnya TPST Piyungan sejak Sabtu (7/5/2022).
Tumpukan sampah terlihat menggunung hingga menutup trotoar serta bahu jalan di kawasan Pasar Lempunyangan, Kota Yogyakarta, Yogyakarta, Selasa (10/5/2022). (Foto: Pius Erlangga/detikJateng)
Solo -

Blokade yang dilakukan warga di Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul, DIY, masih berlangsung. Hal ini memicu sampah menumpuk di sejumlah wilayah di Jogja.

Picu darurat sampah

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto menjelaskan, pihaknya hanya bisa memaksimalkan depo atau tempat pembuangan sementara. Ia perkirakan cara itu hanya bisa digunakan sampai Rabu (11/5), hari ini.

"Kalau setelah lima hari TPST Piyungan tidak juga beroperasi, ya darurat sampah," katanya.

Keluhan warga bermunculan

Warga Kota Jogja mulai mengeluhkan banyaknya tumpukan sampah yang tidak terangkut. Warga mengeluhkan bau sampah yang menyengat.

Sugiarto, warga Muja-muju, Kemantren Umbulharjo, mengeluhkan beberapa tempat pembuangan sementara sampah sudah membeludak dan bau. Bahkan, di tempat tinggalnya, juga sudah mulai bau sampah.

"Sudah mulai bau menyengat. Tadi lewat di samping Gembira Loka dan Mandala Krida jarak 500 meter sudah bau," jelas Sugiarto, saat ditemui di Stadion Mandala Krida, Selasa (10/5).

Warga Lempuyangan juga mengeluhkan bau menyengat dari larangan buang sampah. Agung (48) warga Lempuyangan mengungkapkan, tempat pembuangan sampah sementara di wilayahnya sudah tak muat lagi menampung sampah.

"Depo sampah di ujung jalan itu sudah penuh. Kemudian, petugas yang ngambil sampah juga libur sejak Sabtu (7/5). Akibatnya, beberapa warga membungkus sampahnya dengan plastik besar. Tapi, ya tetap bau menyengat," jelasnya.

Depo sampah overkapasitas

Pantauan detikJateng di depo pembuangan sampah Pasar Bantul, Selasa (10/5), tampak tumpukan sampah menggunung. Tampak gerobak berisi sampah terparkir di dekat depo. Selain itu, satu unit truk sampah bermuatan penuh berada di dalam garasi dengan posisi pintunya terkunci.

Salah satu petugas kebersihan Pasar Bantul, Agus (48) menyebut tumpukan sampah itu menggunung sejak Sabtu (7/5) karena tak kunjung diambil. Padahal, kapasitas depo tersebut terbilang sudah overload atau melebihi kapasitas.

"Dari Sabtu sampai hari ini belum diambil-ambil, jadi sudah 4 hari ini sampahnya tidak diambil. Ini juga sengaja belum ambil sampah di 8 titik pasar karena deponya overload," kata Agus saat ditemui di depo pembuangan sampah Pasar Bantul, Selasa (10/5).

Ancaman penyakit gegara sampah

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul menilai tumpukan sampah itu dapat memicu berbagai penyakit. Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinkes Bantul dr Sri Wahyu Joko Santoso mengatakan, tumpukan sampah memicu resiko munculnya beberapa penyakit mulai dari muntaber hingga infeksi saluran pernapasan (ISPA).

"Untuk jenis penyakit yang berisiko muncul dari sampah adalah penyakit-penyakit yang dibawa vektor lalat adalah muntaber, saluran pernafasan batuk/ISPA dan berisiko juga leptospirosis," pungkasnya.

Sultan Jogja angkat bicara

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X angkat bicara dan menyebut penutupan tinggal menunggu proses di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

"Dialog mengatasi masalah selama ini yang lama ini akan kita tutup akan kita jadikan ruang hijau," kata Sultan, saat diwawancarai wartawan di kompleks Kepatihan, Kantor Gubernur DIY, Selasa (10/5).

Sultan imbau warga bersabar

Tapi, untuk penutupan TPST Piyungan tersebut, lanjut Sultan, masih menunggu proses di Bappenas dan Pembiayaan Infrastruktur.

"Tapi ya tadi, hasil studinya Bappenas dan Pengembangan Infrastruktur waktunya lebih panjang," ungkap Sultan.

Karena butuh waktu itu, Sultan berharap warga Banyakan dan Ngablak yang menuntut penutupan permanen TPST Piyungan untuk bisa lebih bersabar. Artinya, mereka mau memahami kondisi saat ini.

"Mereka bisa memahami (untuk bersabar menunggu penutupan permanen)," katanya.

Sultan akan temui warga

Tapi Sultan memastikan akan menemui warga sekitar. Dirinya akan mencari waktu yang tepat bisa bertemu.

"Ya nanti kita usahakan untuk bisa punya waktu. Yang penting, kita akan memperluas Piyungan. Karena yang ada ini sudah penuh. Punya problem teknisnya, penuhnya sampah di sana sama hasil studinya yang dilakukan oleh Bappenas," jelasnya.

Lokasi baru TPST

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DIY Beny Suharsono mengatakan, ditargetkan tahun 2024, pengolahan sampah yang baru bisa beroperasi. Saat ini, pihaknya masih menunggu proses Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

"Saat ini masih proses untuk mencari investor," kata Beny kepada wartawan.

Di tempat baru yang berada di sisi selatan TPST Piyungan ini, kata dia, bentuknya pengelolaan sampah. Bukan pembuangan sampah seperti di TPST Piyungan saat ini.

"Proses pengadaan lahan tahun ini akan dilakukan. Nanti di sana, akan pengolahan sampah bukan pembuangan," imbuhnya.

Gibran buka peluang kerja sama

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka membuka peluang bekerja sama dengan Pemprov DIY terkait pengelolaan sampah ke depannya.

Seperti diketahui, saat ini tengah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Mojosongo, Solo. Jika PLTSa sudah beroperasi, maka akan membutuhkan bahan baku sampah yang sangat besar karena listrik yang dihasilkan juga besar, yakni 5 Megawatt.

"Ya kami membuka peluang dengan daerah manapun untuk pengelolaan sampah. Karena kebutuhan sampah untuk PLTSa nanti besar banget," kata Gibran saat dijumpai di Balai Kota Solo, Selasa (10/5).

Rencananya dalam pengoperasian awal, PLTSa akan mengambil sampah yang sudah menggunung di TPA Putri Cempo Mojosongo. Jika sampah tersebut sudah habis, maka akan mengambil sampah dari sekitar Solo.

"Nanti setelah habis kita ambil dari Solo Raya. Selama ini pembicaraannya baru Solo Raya. Tapi nanti bisa saja dengan daerah lain," ujar dia.



Simak Video "Penampakan Gunungan Sampah di Jogja Kala TPST Piyungan Diblokade"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/aku)