Duh! Balita 3 Tahun di Gunungkidul Kecanduan Rokok, Ngamuk Jika Tak Dituruti

Duh! Balita 3 Tahun di Gunungkidul Kecanduan Rokok, Ngamuk Jika Tak Dituruti

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Selasa, 22 Mar 2022 16:03 WIB
Lisda menemani anaknya yang kecanduan rokok, Selasa (22/3/2022).
Lisda menemani anaknya yang kecanduan rokok, Selasa (22/3/2022). (Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng)
Gunungkidul -

Seorang bocah berusia 3 tahun asal Kapanewon Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, kecanduan merokok. Bocah tersebut bahkan selalu mengamuk kedua orang tuanya jika tidak diberi rokok.

Ditemui detikJateng, ibu bocah tersebut, Lisda (35), anaknya mulai kecanduan rokok gegara kebiasaan memunguti puntung rokok di sekitar rumahnya. Di mana kebiasaan itu berawal dari beberapa bulan lalu.

"Awalnya tiga bulan yang lalu memunguti putung rokok itu lalu dinyalakan pakai korek. Terus setelah bapaknya merokok dipunguti anaknya dan lama-lama diemut itu, dihisap itu terus berlanjut sampai mau magrib pasti minta rokok," ujar Lisda saat ditemui di rumahnya, Selasa (22/3/2022).


Oleh sebab itu, Lisda selalu menyembunyikan korek yang ada di rumahnya. Bahkan, sang ayah yakni Dwi (36) saat ini tidak pernah merokok, pasalnya jika mendapati ayahnya pulang kerja bocah tersebut langsung meminta rokok.

Benar saja, di tengah-tengah obrolan dengan detikJateng, Dwi tampak pulang dari bekerja dan hendak masuk ke dalam rumah. Seketika itu pula si anak mendekati Dwi sembari meminta rokok.

"Bapak, Bapak, Pak rokok, Pak rokok," ucap bocah tersebut sembari menarik celana ayahnya yang berjalan masuk ke dalam rumah.

Lisda melanjutkan, kebiasaan meminta rokok anaknya tidak hanya berlaku kepada suaminya namun orang-orang yang lewat di depan rumah. Hal tersebut membuat Lisda malu dan terpaksa membeli rokok eceran untuk anaknya.

"Bahkan orang yang lewat depan rumah suka dimintain rokok. Jadi manggil namanya terus minta rokok itu. Saya sampai malu sama orang minta-minta terus toh, saya beli di warung sebatang Rp 2 ribu," ujarnya.

Dia terpaksa memenuhi permintaan anaknya karena jika tidak merokok anak pertamanya itu akan lemas dan baru bisa beraktivitas jika sudah merokok. Apalagi, saat menjelang waktu salat Maghrib pasti semakin merengek meminta rokok.

"Jelang Maghrib pasti minta itu, kalau tidak diberi lemas, kalau dikasih rokok ketawa dan energik itu. Rokoknya kalau kretek tidak mau, dilempar, pernah saya kasih cabai di ujungnya (bagian filter rokok) dibuang katanya tidak enak," ucapnya.

"Terus kalau ada orang lewat bawa rokok atau mencium bau rokok saja langsung minta, tapi yang jelas minta kalau sebelum magrib. Wong bapaknya sekarang sampai tidak pernah bawa rokok pulang ke rumah," imbuh Lisda.

Menyoal berapa batang rokok yang dihabiskan anaknya dalam sehari, dia mengaku tidak tentu. Namun, jika tidak diberi rokok anaknya akan mengamuk.

"Sehari relatif, semintanya anak saya kadang sebatang, karena kalau tidak diberi ngamuk anaknya. Wong kalau ngamuk menendangi pintu dari kalsiboard itu sampai rusak. Kalau tidak njambaki saya dan membanting barang-barang lalu melempari batu," katanya.

Sejumlah cara pun telah ditempuh oleh Lisda, bahkan hingga mencarikan kesibukan anaknya agar lupa akan rokok. Mengingat orang-orang yang lewat depan rumahnya kerap meledek si bocah.

"Ini tadi belum merokok karena saya masukkan ke sekolah, dan saya larang keluar rumah biar tidak ketemu orang-orang yang biasa meledek anak saya sudah merokok belum gitu," ujarnya.

Bahkan, dia pernah membawa anaknya ke orang 'pintar'. Hasilnya, orang 'pintar' itu menyebut jika merokok bukan kemauan dari si bocah.

"Saya sudah berusaha tapi anaknya tetap seperti itu, karena saya takutnya (berpengaruh) ke paru-paru anak saya. Kata orang pintar itu bukan kemauan anak saya, tapi mau ke orang pintar kerjaan bapaknya baru sepi, bapaknya kerja buruh muat batu kapur," ucapnya.

Lisda mengaku belum membawa anaknya ke rumah sakit. Dia mengaku belum karena terkendala biaya, terlebih suaminya hanyalah buruh tambang batu putih.

"Tidak, boro-boro ke dokter, mau ke orang pintar saja belum kelakon (terealisasi), abot (berat) yang bayar utang," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Gunungkidul Asti Wijayanti memastikan akan memberikan pendampingan terhadap bocah tersebut. Menurutnya saat ini bidang perlindungan anak bersama dengan Puskesmas Ponjong sedang melakukan asesmen dengan mendatangi rumah bocah tersebut.

"Untuk hasilnya nanti kami sampaikan. Yang jelas, kami siap memberikan pendampingan kepada yang bersangkutan," ujarnya.



Simak Video "Wabah Antraks Merebak di Gunungkidul, Puluhan Warga Diduga Tertular"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/aku)