Nama Putri Cempo bagi masyarakat Kota Solo mungkin tidak asing lagi karena dijadikan nama Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Siapa sangka, di balik gunungan sampah terdapat makam yang berada di bukit tepat di tumpukan sampah blok A.
Dari pantauan detikJateng, warga yang hendak ke makam harus masuk ke dalam TPA menembus sampah-sampah yang sedang dipilah oleh pemulung. Dari jauh, lokasi tersebut tidak terlihat adanya makam. Pasalnya, makam Putri Cempo dikelilingi pagar tembok batako.
Sebelum memasuki kawasan makam, terlihat tiga pemulung yang sedang memasukkan sampah-sampah ke karung. Meski berhadapan langsung TPA, makam tersebut terasa rindang dan tidak ada sampah yang berceceran.
Terdapat gerbang kecil untuk masuk ke area makam. Terdapat bangunan pelindung dengan delapan pilar menyerupai pendopo kecil. Makam Putri Cempo berada di depan bangunan tanpa adanya penutup.
Lantas, siapakah sebenarnya sosok yang bersemayam di tengah kepungan sampah tersebut?
Sejarawan sekaligus Ketua Solo Societeit, Dani Saptoni, mengatakan bahwa sejarah makam Putri Cempo yang berada di TPA di Mojosongo, Solo itu masih abu-abu. Tak sedikit masyarakat yang mengaitkan dengan Putri Cempo istri Prabu Brawijaya V dari Majapahit.
"Untuk sejarah Putri Cempo di Mojosongo itu tidak begitu jelas. Nah, Putri Cempo yang banyak dipahami oleh masyarakat itu kan yang dikaitkan dengan Majapahit, dengan Brawijaya," katanya dihubungi detikJateng, Selasa (26/5/2026).
Dani menjelaskan, ada dua versi sejarah Putri Cempo di TPA. Sejarah yang pertama kata Dani, Putri Cempo merupakan selir putri Cina yang dititipkan ke ayah Panembahan Senopati yang bernama Ki Ageng Pemanahan.
"Dulu ada tulisan dari Profesor Purbotjaroko menyebutkan bahwa ada beberapa kisah folklor juga yang berkembang di era Mataram Islam awal, bahwa bapaknya pendiri dinasti Mataram, bapaknya Panembahan Senopati yang bernama Ki Ageng Pemanahan itu dulu pernah dititipi selir oleh Sultan Hadiwijaya Raja Pajang yang merupakan putri dari Cina," ujarnya.
Namun, karena adanya konflik dan lainnya Putri tersebut meninggal dunia dan dimakamkan di kawasan TPA.
"Kemudian karena konflik politik dan sebagainya, putri itu meninggal dan dimakamkan di situ. Tetapi ini cerita-cerita berdasarkan cerita lisan, folklor, bukan berdasarkan fakta sejarah," terangnya.
Sejarah lain, kata Dani, Putri Cempo dulu merupakan sesepuh yang membuka lahan di kawasan tersebut dan menanami padi jenis Cempo.
"Selain itu nama cempo berarti jenis-jenis padi. Maka bisa dikatakan putri cempo kemungkinan sesepuh yang dulu membuka lahan desa itu dan menamai kawasan itu dengan sawah padi jenis cempo," ungkapnya.
"Salah satu jenis padi atau pari itu ada yang bernama pari cempo atau pantun cempo, itu seperti jenis padi beras padi ketan," sambungnya.
(alg/apu)