Kisah Kiai Wongsoniti Klaten Jadi Asal-usul Nama Desa Sumyang

Kisah Kiai Wongsoniti Klaten Jadi Asal-usul Nama Desa Sumyang

Achmad Husein Syauqi - detikJateng
Minggu, 10 Mei 2026 20:37 WIB
Makam Kiai Wongsoniti di Desa Sumyang, Kecamatan Jogonalan, Klaten. Foto diunggah Minggu (10/5/2026).
Makam Kiai Wongsoniti di Desa Sumyang, Kecamatan Jogonalan, Klaten. Foto diunggah Minggu (10/5/2026). (Foto: Achmad Husein Syauqi/detikJateng)
Klaten -

Nama Kiai Wongsoniti tidak bisa dipisahkan dari kehidupan warga Desa Sumyang, Kecamatan Jogonalan, Klaten. Sosoknya bahkan dikaitkan dengan asal nama desa itu sejak berabad yang lalu.

Jejak nama besar Kiai Wongsoniti masih bisa ditemukan dari keberadaan peristirahatan terakhir keluarganya. Sebuah kompleks permakaman dengan nama Hastana Wongsoniten di utara desa.

Kompleks makam Hastana Wongsoniten berpintu besi terletak di tepi Sungai Bajing yang berada di tepi jalan desa. Makam terdiri dari tiga lapis yang dibedakan dari bentuk nisannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Makam Kiai Wongsoniti dan keluarganya berada di tengah pemakaman warga. Kompleks makamnya memiliki gapura masuk tembok bercorak gapura Keraton Kasunanan Surakarta.

Di atas pintunya terdapat batu marmer bertulisan huruf Jawa dua lapis yang di atasnya batu tersebut tertulis angka tahun 1815. Deretan makam keluarga Kiai Wongsoniti berada di bangunan gedong tembok berbentuk joglo.

ADVERTISEMENT

Ada sekitar delapan makam berbahan batu kapur putih dengan ukiran dan langgam Tembayat. Pada bawah nisan terdapat papan nama tertulis Kiai Wongsoniti I sampai IV, ada juga tertulis BRA Wongsoniti Putri PB IV, raja Kasunanan Surakarta.

"Nama Desa Sumyang itu dari para sesepuh ada hubungannya dengan Kasunanan Surakarta. Putri PB IV itu kan dimakamkan di Hastana Wongsoniten sini," tutur Kades Sumyang, Kecamatan Jogonalan, Suwito kepada detikJateng, Sabtu (9/5/2026) siang.

Diceritakan Suwito, dari cerita sesepuh Kiai Wongsoniti adalah seorang tokoh yang menjadi kerabat sekaligus abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta. Konon suatu hari ada utusan dari kerajaan datang.

"Meski kerabat keraton tapi kesehariannya sederhana hidup di sini mencari batu koral. Utusan raja yang bernama Ki Gandek datang tapi tidak ketemu dan diberitahu jika Kiai Wongsoniti ada di sungai," terang Suwito.

Setelah bertemu, sebut Suwito, Wongsoniti meminta utusan itu menunggu di rumahnya sebentar. Sampai siang ternyata tidak kunjung pulang sehingga disusul lagi ke sungai.

"Disusul lagi ke sungai lalu Wongsoniti bilang sudah sowan ke Keraton. Konon, ini mungkin mitos ya, Kiai Wongsoniti punya ajian sehingga bisa dengan cepat pergi ke Keraton lalu balik lagi ke sungai," jelas Suwito.

"Makanya saat ditimbali (diminta datang) oleh Sinuhun, kesusu menyang (buru-buru berangkat). Dari kata kesusu menyang itulah kemudian diucapkan Sumyang, jadilah nama Desa Sumyang," sambung Suwito.

Dikatakan Suwito, makam Kiai Wongsoniti dan keluarganya sampai saat ini masih terawat dengan baik. Sedangkan Desa Sumyang menjadi desa dengan delapan RW.

"Desa Sumyang sendiri ada delapan RW dengan 16 RT. Ada enam dukuh dan warganya beraktivitas berbagai bidang," imbuhnya.

Pegiat sejarah Klaten yang sering menelisik nisan makam, Yohanes Sudaryanto menyatakan dirinya pernah ke Hastana Wongsoniten. Apabila dilihat dari tangguh, nisan tersebut nisan model Tembayatan.

"Tangguh Tembayatan atau Bayatan, tahunnya tahun 1800-an. Kalau sejarahnya tokoh tersebut saya kurang paham, Kalau Mbah Wongsoniti itu setahu saya mendapatkan garwa (istri) dari putri PB dari istri selir," ungkap Sudaryanto.




(aku/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads