Meski di Kawasan TPA, Makam Putri Cempo Tak Bau Sampah

Meski di Kawasan TPA, Makam Putri Cempo Tak Bau Sampah

Tara Wahyu NV - detikJateng
Rabu, 27 Mei 2026 10:01 WIB
Makam Putri Cempo di tengah gunungan sampah, Selasa (26/5/2026)
Makam Putri Cempo di tengah gunungan sampah, Selasa (26/5/2026). Foto: Tara Wahyu NV/detikJateng
Solo -

Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah umumnya identik dengan aroma menyengat yang menusuk hidung. Namun, anomali mengejutkan justru terjadi di kawasan petilasan Putri Cempo, Mojosongo, Solo. Meski lokasinya berhadapan dengan gunungan sampah, area sakral ini diklaim steril dari bau sampah dalam radius puluhan meter.

Dari pantauan detikJateng, di kawasan Makam Putri Cempo terdapat satu pohon besar dan rindang. Bau sampah pun tidak tercium saat berada di dekat makam.

Fenomena ini diungkapkan oleh Juru Kunci selaku pengelola sekaligus sesepuh petilasan Putri Cempo, Saimo (80). Menurut penuturannya, kebersihan udara di sekitar makam merupakan sebuah kenyataan yang sulit dinalar, namun nyata dirasakan oleh para pengunjung.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iya, dalam jarak 25 meter dari kawasan makam, tidak ada bau sampah sama sekali. Bentuk kawasannya itu seperti tumpeng. Mau dibilang ampuh atau wingit (sakral), ya kenyataannya begitu," ujar Saimo saat ditemui detikJateng, Selasa (26/5/2026).

Keberadaan makam tokoh yang disebut-sebut sebagai putri asal Tiongkok pada era Kerajaan Majapahit ini memang dipenuhi kisah mistis. Fenomena tidak mencium bau busuk tersebut rupanya berkelindan erat dengan status radius 25 meter sebagai "area suci" yang dijaga ketat secara spiritual.

ADVERTISEMENT

Saimo menegaskan bahwa selain bebas dari bau, dalam radius 25 meter ini memuat sejumlah pantangan keras bagi siapa saja yang datang. Para pengunjung diwajibkan penuh untuk menjaga tata krama dan sopan santun.

"Jangan sembarangan, misalnya buang air atau berbuat tidak senonoh. Di radius 25 meter itu tidak boleh buat pacaran," tegasnya.

Ia juga menceritakan beberapa kejadian mistis masa lalu yang menimpa orang-orang yang nekat melanggar aturan, mulai dari pengunjung yang tersesat berputar-putar, peristiwa medis aneh akibat asusila, hingga petaka yang menimpa mereka yang nekat mengambil batu dari area makam.

"Dulu juga ada kejadian, seorang sopir mengambil batu dari wilayah sini untuk dijadikan batu akik. Belum sempat diolah batunya, orang tersebut meninggal dunia. Akhirnya batunya dikembalikan lagi ke sini oleh temannya," ucapnya.

Meski letak makam berada di bukit, tidak menyurutkan massa untuk berziarah. Walaupun jumlah volume sampah di TPA terus meningkat dari tahun ke tahun, magnet spiritual Putri Cempo tetap kuat menarik peziarah.

Bahkan, tidak jarang area ini dijadikan tempat bersemedi oleh orang-orang yang memiliki hajat tertentu, termasuk para calon legislatif (caleg) yang mengincar kelancaran derajat dan pangkat.

"Sampai sekarang pun masih ada, satu-dua orang tiap malam. Biasanya mereka memohon keselamatan, kesehatan, atau kelancaran derajat dan pangkat. Ada juga caleg yang datang ke sini, dari tiga, ada dua yang jadi," ungkap sang Juru Kunci.

Saimo mengatakan bahwa pihak pengelola selalu meluruskan niat para peziarah agar tidak terjebak dalam kesyirikan. Kehadiran petilasan Putri Cempo hanyalah sebagai media perantara atau bentuk penghormatan kepada leluhur.

"Tapi semuanya tetap mintanya kepada Gusti Allah, Putri Cempo ini hanya sebagai perantara atau pepunden yang dihormati. Jangan salah kaprah. Kuncinya adalah sopan santun dan jangan melanggar aturan radius 25 meter itu," pungkasnya.



(alg/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads