Kehidupan masyarakat Jawa sering berkelindan dengan mitos yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu mitos yang cukup populer adalah Wewe Gombel. Sosok ini kerap dikaitkan dengan larangan anak-anak keluar rumah saat malam tiba. detikers mungkin pernah merasakan bulu kuduk merinding saat mendengar mitos tersebut sewaktu kecil.
Di berbagai daerah, para orang tua sering menakut-nakuti anaknya dengan kalimat, "Jangan keluar malam, nanti diculik Wewe Gombel." Kalimat tersebut ternyata menyimpan kisah panjang tentang kepercayaan, budaya, hingga cara orang tua zaman dulu dalam melindungi anak-anaknya.
Sebenarnya, dari mana asal-usul mitos tentang makhluk seram yang satu ini? Untuk mengetahuinya, yuk, simak penjelasan berikut ini.
Siapa Itu Wewe Gombel?
Dalam cerita rakyat Jawa, Wewe Gombel digambarkan sebagai sosok perempuan berambut panjang dengan penampilan yang menyeramkan. Dikutip dari penelitian berjudul Wewe Gombel dan Abuh: Komparasi Cerita Mistis-Pedagogis Masyarakat Kaliputih Jawa Tengah dan Silat Hulu Kalimantan Barat oleh Kristophorus Divianto, dkk, sebagian masyarakat percaya bahwa Wewe Gombel merupakan roh seorang Ibu yang sengaja menculik anak-anak pada senjakala karena dianggap luput dari pengawasan orang tua. Itulah sebabnya Wewe Gombel dikisahkan selalu muncul pada saat senja mulai beranjak ke peraduan, terutama menjelang adzan maghrib berkumandang.
Meskipun demikian, dalam beberapa versi cerita, Wewe Gombel tak selalu digambarkan sebagai sosok yang jahat. Makhluk ini disebut-sebut hanya 'meminjam' anak-anak yang dianggap terlantar dan kurang kasih sayang. Konon, anak-anak tersebut akan dikembalikan dalam keadaan selamat, setelah sang orang tua menyadari kesalahannya karena kurang menaruh kepedulian pada anak mereka.
Asal-usul Wewe Gombel
Kisah tentang Wewe Gombel dipercaya berakar dari legenda seorang perempuan yang mengalami nasib tragis. Dalam berbagai kisah yang berkembang di masyarakat, perempuan tersebut dikucilkan karena tidak bisa memberikan keturunan. Ia kemudian meninggal dengan penuh kekecewaan dan arwahnya dipercaya bergentayangan.
Berdasar penelitian berjudul Perilaku Hantu Wanita Penculik Anak dalam Cerita Hantu Kalong Wewe oleh Tissa Agita, Wewe Gombel sejatinya berasal dari kata 'wewe' yang berarti hantu wanita dan 'gombel' yang merujuk pada nama sebuah daerah di Semarang. Penamaan tersebut menunjukkan bahwa mitos ini tidak muncul begitu saja, namun berkaitan dengan konteks geografis tempat cerita yang berkembang di masyarakat.
Kisah Wewe Gombel kemudian dikaitkan dengan larangan bagi anak-anak untuk bermain atau keluar rumah pada saat senjakala. Menurut mitos yang berkembang, anak-anak dilarang keluar rumah menjelang maghrib karena dikhawatirkan diculik Wewe Gombel.
Mengapa Anak-anak Dilarang Keluar Malam?
Selain karena takut diculik Wewe Gombel, larangan bagi anak-anak keluar rumah saat malam hari sebenarnya memiliki alasan yang cukup rasional. Pada masa lalu, belum ada penerangan yang cukup di jalanan sehingga lingkungan sekitar menjadi gelap. Kondisi ini dapat meningkatkan resiko bahaya seperti kemunculan hewan liar hingga tindak kejahatan yang besar.
Agar dapat membuat anak-anak patuh terhadap orang tua, mereka menggunakan sosok Wewe Gombel sebagai tameng. Dengan adanya kisah yang menyeramkan, anak-anak menjadi takut dan memilih tetap berada di rumah. Cara ini dianggap efektif di tengah keterbatasan fasilitas di masa lalu.
Demikian penjelasan tentang mitos Wewe Gombel dan larangan keluar rumah saat malam bagi anak-anak. Pada akhirnya, kisah Wewe Gombel bukanlah tentang benar atau tidaknya keberadaan sosok tersebut. Melalui mitos ini, kita dapat melihat bagaimana suatu cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun mampu menjadi alat kontrol sosial dan juga sarana pendidikan karakter. Di balik sosok seramnya, tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga keselamatan bagi anak-anak. Semoga bermanfaat ya, detikers!
Artikel ini ditulis oleh Ikfina Kamalia Rizki peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom
Simak Video "Siap-siap "War" Tiket Indonesia Vs Argentina Segera Dimulai"
(num/alg)