Menengok Lagi Desa Pocong di Bangkalan, Benarkah Warganya Sering Diteror?

Menengok Lagi Desa Pocong di Bangkalan, Benarkah Warganya Sering Diteror?

Denza Perdana - detikJatim
Senin, 25 Mei 2026 15:10 WIB
Di Bangkalan ada sebuah desa yang namanya kerap mencuri perhatian. Namanya Desa Pocong.
Batas Desa Pocong di Bangkalan. (Foto: Kamaluddin/detikJatim)
Bangkalan -

Jagat media sosial di Jawa Timur belakangan ini dihebohkan oleh rentetan fenomena kemunculan isu pocong yang meresahkan masyarakat. Mulai dari rekaman video prank konten di Lamongan, poster digital hantu bercelurit di Nganjuk, hoaks video berantai di Sidoarjo, hingga isu kriminalitas 'begal pocong' di Malang Raya.

Di tengah ramainya teror pocong yang lebih sering FYP di TikTok itu, tahukah Anda di Pulau Madura ada sebuah desa nyata yang menyandang nama makhluk halus ini? Namanya adalah Desa Pocong, dia masuk dalam lingkungan administratif Kecamatan Tragah, Kabupaten Bangkalan.

Bagi siapa saja yang baru pertama kali mendengar nama Desa Pocong tentu langsung mengarah pada asosiasi hal-hal berbau horor, mistis, dan sosok mayat berbalut kain kafan sebagaimana definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai salah satu desa tertua di Pulau Madura, asal-usul nama desa ini ternyata menyimpan banyak versi cerita sejarah yang berkembang di masyarakat, termasuk kisah teror di masa lalu.

Asal-usul Nama Desa Pocong Bangkalan

Mitos Teror 40 Malam di Masa Lalu

Salah satu versi menyebutkan bahwa penamaan desa ini memang tidak lepas dari pengalaman mistis para leluhur terdahulu. Kisah yang berkembang dari mulut ke mulut menyebutkan daerah tersebut mulanya merupakan kawasan hutan belantara yang dikenal sangat angker.

ADVERTISEMENT

Ketika hutan tersebut mulai dibuka dan dihuni oleh sekelompok penduduk, gangguan supranatural mulai berdatangan. Konon, selama 40 hari berturut-turut, warga gelombang pertama di desa itu terus-menerus diteror oleh penampakan hantu pocong setiap malam tiba, hingga mereka harus menaruh jimat dan menutup pintu rumah rapat-rapat.

"Ya karena seringnya warga yang dihantui penampakan pocong itulah, yang membuat desa ini dinamakan Desa Pocong," tutur Masduki, Ketua BPD Pocong. "Mulai dulu nama desa ini ya Desa Pocong. Hanya sejarahnya ini belum jelas dan masih simpang siur dengan beberapa versi."

Cerita mistis itu pun selaras dengan penuturan Ustaz Abdul Ghoni, salah seorang tokoh dari Dusun Karang Anyar, Desa Pocong. Menurutnya, lingkungan tempat tinggal mereka memang lekat dengan nuansa spiritual dan misteri sejarah.

"Kalau di sini itu memang banyak cerita mistiknya. Bukan hanya mitos pocong yang berkeliaran seperti cerita warga. Misteri hilangnya Kek Lesap yang sampai sekarang tidak diketahui di mana meninggalnya," kata Ghoni kepada detikJatim.

Kejanggalan lain juga sempat terjadi sekitar tahun 1970, saat sebuah sumber mata air di Dusun Karang Buddul tiba-tiba meledak, membesar, dan memunculkan sebuah balok kayu raksasa yang hingga kini makam sesepuh di dekatnya dikeramatkan warga.

"Kalau pasnya itu saya tidak ingat. Waktu itu saya masih kecil. Sumber (air) yang sebelumnya kecil itu menjadi besar dan keluar kayu balok besar seperti tiangnya kapal kayu besar itu. Dan di sebelahnya ada makam sesepuh yang keramat," ungkap Ghoni.

Versi Julukan Selir Raja hingga Faktor Geografis

Di samping cerita mistis tentang penampakan, Kepala Desa Pocong H Masturi mengungkapkan versi sejarah lain yang lebih realistis dan bersejarah. Di desa ini rupanya ada puluhan petilasan kuno, salah satunya adalah petilasan Ibu Nyai Ageng Dewi Maduretno di Dusun Karang Anyar.

Nyai Ageng Dewi Maduretno merupakan salah satu selir dari Raja Cakraningrat IV, penguasa Kerajaan Madura Barat, sekaligus ibu dari tokoh legendaris Ke' Lesap. Konon, Nyai Maduretno punya kebiasaan mengenakan pakaian kain serba putih yang anggun sehari-hari.

Di Bangkalan ada sebuah desa yang namanya kerap mencuri perhatian. Namanya Desa Pocong.Di Bangkalan ada sebuah desa yang namanya kerap mencuri perhatian. Namanya Desa Pocong. (Foto: dok. Kamaluddin/detikJatim)

Karena penampilannya itulah, masyarakat zaman dulu kerap menjulukinya sebagai Nyai Pocong, yang kemudian diabadikan menjadi nama pemukiman itu.

"Kalau menurut para sesepuh yang paham, di desa ini ada sekitar 40 makam bujuk (makam sesepuh) keramat. Salah satunya selir raja itu," kata Masturi.

Masturi sendiri mengaku tidak pernah mendengarkan kepastian cerita seram mengenai nama desanya langsung dari sang kakek, meskipun sang kakek merupakan mantan kepala desa terdahulu dengan masa jabatan yang sangat lama.

"Nama Pocong sendiri belum pernah tau langsung sejarahnya. Bahkan saya tidak pernah mendengar cerita tersebut langsung dari kakek saya yang sudah menjadi kepala desa selama 52 tahun, sebelum saya jadi kepala desa," jelas Masturi.

Selain itu, warisan peradaban kuno juga masih tersisa di desa ini, berupa sebuah surau bersejarah yang menyimpan benda-benda pusaka.

"Ada langgar rajeh (surau besar) yang menurut kakek saya dibuat sebelum kakek saya lahir. Di surau tersebut terdapat tombak dan guci yang jika diminum air gucinya bisa kebal," pungkas Masturi.

Versi Pohon Pucang

Di luar unsur mistis dan sejarah kerajaan, ada pula warga yang meyakini penamaan Desa Pocong murni karena salah pelafalan atau faktor geografis anak sungai di masa lalu. Versi lain menyebut nama desa berawal dari keberadaan pohon 'pucang' yang di bawahnya memunculkan sumber air mengalir.

"Di versi lainnya, konon katanya dulu ada sebuah pohon pucang yang memunculkan sumber air di bawahnya. Dari nama pohon pucang inilah kemudian dibuat lah nama Desa Pocong," imbuh Masduki, Ketua BPD Pocong.

Sementara menurut analisa Ustaz Abdul Ghoni, nama tersebut kemungkinan besar mengalami pergeseran fonetik dari kata 'pancong', yang merujuk pada istilah sebutan pasak atau tempat tambatan perahu kayu yang dahulu banyak bertebaran di sepanjang aliran sungai desa setempat.

"Kalau dulu saya masih melihat banyak pancong di sepanjang sungai ini. Bisa jadi Desa Pocong diambil dari kata pancong itu," kata Ghoni.

"Ada juga yang bilang, karena panjangnya aliran air dari sumber yang keluar dari pohon pocang yang sampai ke wilayah kota Bangkalan, sehingga pangkalnya disebut pocong," imbuhnya.

Terlepas dari banyaknya versi sejarah, mulai dari mitos teror gaib kuno, julukan busana putih sang selir raja, hingga istilah tambatan perahu, kehidupan warga di Desa Pocong saat ini dipastikan tetap berjalan aman, adem ayem, dan tidak seseram namanya.



(irb/dpe)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads