Kisah Jaka Tarub, Cerita Rakyat Asal Jawa Tengah

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 07 Sep 2022 01:00 WIB
Komikus Hari Prast
Ilustrasi. Foto: Hari Prast/ Istimewa
Solo -

Jawa Tengah memiliki beragam cerita rakyat. Salah satu yang cukup dikenal adalah cerita Jaka Tarub.

Cerita mengenai Jaka Tarub dianggap sebagai latar terbentuknya Kerajaan Mataram Islam. Hal ini membuat cerita itu diabadikan dalam Babad Tanah Jawi.

Meski demikian, cerita seorang pria yang menikahi bidadari itu justru lebih banyak menyebar secara lisan. Hal itu membuat cerita Jaka Tarub terdiri dari berbagai versi meski memiliki alur utama yang serupa.


Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah dalam bukunya Legenda Jaka Tarub dan Perbandingannya mencatat ada beberapa versi cerita, seperti dari Grobogan, Jepara, Magelang, Karanganyar hingga Tegal.

Masyarakat di daerah-daerah tersebut juga mempercayai Jaka Tarub memiliki petilasan di daerah tersebut.

Berikut ini adalah ringkasan cerita mengenai Jaka Tarub yang dikenal secara umum.

Kisah Jaka Tarub

Pada masa lalu hiduplah seorang pemuda bernama Jaka Tarub. Dia merupakan pemuda desa yang gemar berburu. Suatu hari, dia sedang berburu burung di tengah hutan.

Selama seharian Jaka Tarub belum menemukan burung buruan. Dia masuk hutan semakin dalam. Di tengah belantara, sayup-sayup dia mendengar suara beberapa wanita sedang berbincang.

Suara perempuan itu beradu dengan suara air gemericik. Karena penasaran, Jaka Tarub mencari sumber suara tersebut.

Betapa terkejutnya dia saat melihat ternyata ada sekelompok bidadari yang tengah mandi di telaga. Paras para bidadari itu sangatlah cantik. Kemudian timbul sebuah ide nakal.

Jaka Tarub mengambil salah satu baju milik bidadari itu. Kemudian dia kembali bersembunyi sambil membawa pakaian itu.

Menjelang sore, para bidadari itu selesai mandi. Mereka mengenakan pakaian mereka kembali dan pulang menuju langit.

Namun, ada satu bidadari yang tertinggal dan tidak ikut pulang. Sebab, dia kehilangan pakaiannya. Bak malaikat penolong, Jaka Tarub muncul meminjamkan kain kepada bidadari itu. Bidadari bernama Nawang Wulan itu lantas diajak pulang ke rumah.

Mereka berdua kemudian menikah. Nawang Wulan kini juga harus bekerja seperti layaknya manusia, seperti memasak dan mencuci.

Namun, sebagai seorang bidadari dia memiliki kesaktian. Setiap hari dia hanya memasukkan sehelai padi ke dalam periuk. Anehnya, hasilnya bisa menjadi nasi yang cukup dimakan sekeluarga.

Namun, kesaktiannya itu bisa hilang jika ada orang yang membuka periuk saat dia memasak nasi. Dia selalu berpesan kepada Jaka Tarub untuk tidak membuka periuk itu.

Kisah Nawang Wulan kehilangan kesaktian di halaman berikutnya