Ajang Saling Lempar Lumpur dalam Tradisi Popokan di Semarang

Tim detikJateng - detikJateng
Rabu, 31 Agu 2022 00:00 WIB
ilustrasi lari lumpur
Ilustrasi. Foto: thinkstock
Solo -

Jawa Tengah dikenal memiliki berbagai tradisi masyarakat yang unik. Sebagian tradisi yang berkembang secara turun temurun masih tetap hidup dan lestari hingga kini.

Salam satunya adalah tradisi popokan. Tradisi ini hidup di Desa Sendang, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Masyarakat masih rutin menggelar tradisi ini setiap tahun.

Dikutip dari jurnal berjudul Akulturasi Budaya Jawa dan Ajaran Islam dalam Tradisi Popokan yang ditulis Siti Zakiyatul Fikriyah dkk, tradisi popokan digelar di hari Jumat Kliwon di akhir masa panen kedua. Biasanya digelar pada akhir Agustus atau awal September.


Tradisi popokan merupakan sebuah ungkapan rasa syukur dari masyarakat yang kebanyakan bekerja sebagai petani. Tradisi ini juga menjadi simbol pembersihan diri.

Namun, pelaksanaan tradisi ini memang cukup unik. Warga beramai-ramai ke sawah dan saling lempar lumpur.

Mereka yang terkena lemparan lumpur tidak boleh marah, termasuk warga yang sebenarnya hanya berniat untuk menonton. Bahkan, masyarakat meyakini bahwa mereka yang terkena lemparan justru akan memperoleh berkah atau rezeki.

Asal Mula Tradisi Popokan

Dalam artikel yang diterbitkan di Jurnal Penelitian Budaya itu (Oktober 2022), masyarakat sekitar mempercayai bahwa tradisi popokan berasal dari kisah Mbah Janeb, orang pertama yang membuka permukiman di desa itu.

Berdasarkan cerita tutur yang berkembang, Mbah Janeb adalah orang yang berasal dari Keraton Kasunanan Solo yang sedang melakukan perjalanan di Demak Bintoro. Mbah Janeb lantas beristirahat di tempat itu dan membuka permukiman.

Beberapa saat kemudian beberapa orang lain mengikutinya membuat rumah di tempat yang kini menjadi Desa Sendang itu. Tak hanya membuat permukiman, mereka juga membuka areal pertanian.

Namun, ketenangan masyarakat di kampung yang masih baru itu terusik dengan kedatangan seekor harimau. Warga berkali-kali berusaha mengusirnya, namun tidak berhasil.

Kemudian warga menaruh harapannya kepada Mbah Janeb. Mendengar keluhan warga, Mbah Janeb akhirnya turun tangan mengusir harimau itu.

Uniknya, Mbah Janeb mengusir harimau itu tanpa senjata tajam. Dia justru mengusir menggunakan dedak atau bekatul yang dilemparkannya ke harimau itu. Usaha itu berhasil, harimau tersebut lantas pergi dari desa itu.

Masyarakat gembira melihat peristiwa itu. Sebagai wujud rasa bahagianya, mereka lantas melestarikan momen melempar dedak atau bekatul itu. Namun, dedak itu digantikannya dengan lumpur dan menjadi tradisi popokan yang masih lestari hingga saat ini.

Rangkaian acara di tradisi popokan baca halaman berikutnya