Sejarah Tari Gambyong, dari Tayub yang Erotis hingga ke Istana

Sejarah Tari Gambyong, dari Tayub yang Erotis hingga ke Istana

Tim detikJateng - detikJateng
Senin, 22 Agu 2022 16:54 WIB
Pentas tari Gambyong diikuti 5.035 penari putri di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (29/4/2018).
Pentas tari Gambyong diikuti 5.035 penari putri di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (29/4/2018). Foto: Bayu Ardi Isnanto/detikcom
Solo -

Gambyong semula adalah nama seorang waranggana atau wanita terpilih (wanita penghibur) yang pandai menari dengan indah dan lincah. Nama lengkapnya Mas Ajeng Gambyong. Berikut asal-usul dan sejarah tari Gambyong, dari yang awalnya disebut tarian erotis hingga menjadi karya seni tinggi di lingkungan Istana.

Dikutip dari jurnal Disposisi Tari Gambyong "Kesenian Kelas Bawah Menuju Budaya Aristokrat" (Cakra Wisata Vol 22 No 2, 2021), istilah gambyong mulanya dari nama seorang penari tayub atau talèdhèk barangan yang memiliki kemampuan tari dan suara sangat baik sehingga terkenal. Hal itu dilansir RM Sayid dalam Babad Sala.

Tari Gambyong dari Taledhek-Tayub

Dalam buku Sejarah Tari Gambyong Seni Rakyat Menuju Istana (2017) karya Sri Rochana Widyastutieningrum dijelaskan bahwa tari gambyong diawali dari tari tayub atau talèdhèk.


Tari talèdhèk merupakan tarian tunggal wanita untuk awal penampilan dalam pesta. Tari ini dibawakan penari rakyat yang pada zaman itu merupakan kalangan kelas rendah.

Pada masa Paku Buwana IV (1788-1820), ada penari tledhek yang sangat terkenal bernama Mas Ajeng Gambyong. Sri Rochana menduga nama penari itu menjadi dasar penamaan tarian rakyat yang akhirnya berkembang di keraton itu.

Perkembangan Taledhek di Surakarta

Taledhek pun mengalami perkembangan. Pada zaman dulu, tari Taledhek di Surakarta sudah berbeda yaitu menyerupai tari topeng wanita. Tari tersebut ditampilkan untuk mengamen berkeliling.

Penari talèdhèk, dengan diiringi para niyaga yang memainkan beberapa instrumen gamelan, itu juga menyanyikan semacam tembang monolog dari jenis yang kurang sopan.

Penari itu juga membuat sesi 'tanya jawab' yang mengandung arti rangkap dengan pengrawitnya. Pertunjukan ini sering ditanggap dalam acara pesta, khitanan, dan perkawinan. Bentuk tari ini terus berkembang dalam masyarakat.

Fungsi Ritual Tari Tayub

Menurut Sri Rochana, pada dasarnya talèdhèk merupakan bagian dalam tayuban. Pertunjukan tari tayub memiliki fungsi ritual yang biasanya berkaitan dengan kesuburan tanaman padi.

Tari tayub juga dipentaskan dalam upacara perkawinan karena dipercaya dapat melahirkan sesuatu yang magis yang diharapkan dapat memengaruhi kesuburan kedua mempelai.

Fungsi lain tarian ini sebagai hiburan masyarakat di desa maupun di kota, dari kalangan orang kecil sampai priyayi. Terlepas dari citra negatif pertunjukan tayub, tari ini terus hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Selengkapnya di halaman selanjutnya...



Simak Video "Tradisi Makepung yang Dikemas dalam Bentuk Tarian"
[Gambas:Video 20detik]