1 USD Berapa Rupiah Hari Ini 5 Juni 2026? Cek Kurs Jual-Belinya di Bank!

Sri Wahyuni Oktafia - detikJateng
Jumat, 05 Jun 2026 12:45 WIB
Ilustrasi Dolar AS atau USD (Foto: magnific/Magnific)
Solo -

1 USD berapa rupiah hari ini? Pertanyaan tersebut menjadi sorotan banyak masyarakat setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan laporan Bank Indonesia, kurs rupiah terhadap dolar AS kemarin Kamis, 4 Juni 2026 mencapai Rp 18.039 per USD, angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Angka tersebut sekaligus menandai tembusnya kurs dolar AS ke atas Rp 18 ribu, yang memicu perhatian pelaku pasar, dunia usaha, hingga masyarakat umum.

Menguatnya dolar AS terhadap rupiah tidak hanya berdampak pada aktivitas perdagangan dan investasi, tetapi juga berpotensi memengaruhi harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga nilai tukar di perbankan. Oleh sebab itu, banyak masyarakat yang ingin mengetahui berapa nilai tukar dolar AS terkini serta kurs jual dan kurs beli yang berlaku di bank-bank Indonesia.

Lantas, 1 USD berapa rupiah hari ini, Jumat 5 Juni 2026? Berikut informasi kurs dolar AS terbaru beserta nilai jual dan beli di sejumlah bank nasional.

1 USD Berapa Rupiah Hari Ini?

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali menjadi perhatian masyarakat seiring posisinya yang masih berada di level tinggi. Berdasarkan data yang dikutip dari Google Finance, per hari ini pukul 11.30 WIB, 1 USD setara dengan Rp 18.037. Sementara itu, data Trading Economics pada pukul 11.30 WIB menunjukkan 1 USD setara dengan Rp 18.038.

Kedua data menunjukkan bahwa kurs rupiah masih berada di kisaran Rp 18 ribu per dolar AS. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan nilai tukar rupiah pada periode-periode sebelumnya yang sempat berada di level Rp 14 ribu hingga Rp 16 ribu per dolar AS.

Kurs Dolar AS di Bank Indonesia Hari Ini

Selain memantau kurs referensi di pasar, detikers yang ingin membeli atau menjual dolar AS juga perlu memperhatikan kurs yang berlaku di masing-masing bank. Sebab, setiap bank memiliki nilai tukar beli dan jual yang berbeda-beda.

Secara umum, kurs beli adalah harga yang digunakan bank saat membeli dolar AS dari nasabah, sedangkan kurs jual merupakan harga yang dikenakan bank ketika menjual dolar AS kepada nasabah. Berikut kurs dolar AS di sejumlah bank besar di Indonesia hari ini:

Kurs USD di BCA

  • Nilai Beli: Rp 18.035
  • Nilai Jual: Rp 18.055

Kurs USD di BRI

  • Nilai Beli: Rp 17.948
  • Nilai Jual: Rp 18.150

Kurs USD di BNI

  • Nilai Beli: Rp 18.025
  • Nilai Jual: Rp 18.045

Kurs USD di Bank Mandiri

  • Nilai Beli: Rp 18.050
  • Nilai Jual: Rp 18.080

Tanggapan Pemerintah Melemahnya Rupiah

Berdasarkan laporan detikFinance, pada Kamis (4/6/2026), nilai tukar rupiah yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp 17 ribu per dolar AS bergerak melewati angka Rp 18 ribu per dolar AS.

Melemahnya rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor berbagai komoditas dan bahan baku yang masih bergantung pada pasar luar negeri. Kondisi ini dikhawatirkan dapat berdampak pada harga sejumlah barang, mulai dari bahan baku industri, kedelai, pupuk, hingga suku cadang kendaraan dan mesin.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan pemerintah membuka peluang penggunaan mekanisme perdagangan alternatif, termasuk sistem barter dengan negara mitra dagang tertentu. Menurutnya, opsi tersebut dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan akibat pelemahan nilai tukar.

"Jadi, waktu kemarin waktu acara ASEAN kami ketemu salah satu pengusaha dari Filipina. Dia impor barang kita selama ini, karena di Filipina kan juga nilai tukarnya kan juga lagi kurang bagus. Jadi, bagaimana kalau kita pakai cara barter," ujar Budi, dikutip dari detikFinance, Kamis (4/6/2026).

Selain isu harga barang impor, masyarakat juga menyoroti kemungkinan dampak pelemahan rupiah terhadap tarif listrik. Menjawab kekhawatiran tersebut, Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Tri Winarno menegaskan pemerintah berupaya menjaga agar tarif listrik tidak mengalami kenaikan, khususnya bagi kelompok masyarakat yang kurang mampu.

"Kalau yang minyak, berkaitan minyak, kan pemerintah sudah memutuskan untuk minyak nggak melakukan kenaikan sampai akhir tahun. Nah mungkin untuk listrik ini, mungkin untuk yang sangat membutuhkan masyarakat yang kurang mampu dananya, ya jangan sampai naik lah," kata Tri Winarno, Kamis (4/6/2026).

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi meminta masyarakat tidak panik menghadapi pelemahan rupiah. Ia menilai kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat, tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap terjaga serta tingkat inflasi yang relatif terkendali.

"Yang pasti bisa kami sampaikan bahwa kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi. Kemudian dari inflasi yang masih terjaga Insya Allah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," ujar Prasetyo, dikutip dari detikNews, Kamis (4/6/2026).

Prasetyo juga menegaskan pemerintah terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah secara intensif. Koordinasi antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) disebut terus dilakukan untuk merumuskan langkah-langkah yang diperlukan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

"Kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," tambahnya.

Dampak Tingginya Nilai Tukar Dolar AS ke Rupiah

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi menimbulkan berbagai dampak bagi perekonomian dan masyarakat. Analis komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah akan mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan.

"Kita melihat bahwa dampak dari pelemahan mata uang rupiah, ini semua harga-harga itu mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Nah kenaikan inilah yang membuat masyarakat menjerit," ungkap Ibrahim, dikutip dari detikFinance (29/5/2026).

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan penguatan dolar AS dapat mempercepat kenaikan harga barang di tingkat konsumen

"Nah efek dari ekonomi Indonesia kalau dolarnya menembus Rp 18 ribu yang jelas transmisi antara biaya bahan baku dan biaya produksi yang naik kepada harga-harga retail di level masyarakat dan rumah tangga akan semakin cepat gitu," ujar Bhima Yudhistira, dilansir detikFinance (29/5/2026).

Secara garis besar, berikut beberapa dampak yang akan terjadi apabila rupiah semakin melemah:

  • Harga Barang dan Bahan Baku Naik: Pelemahan rupiah membuat barang impor dan bahan baku dari luar negeri menjadi lebih mahal. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan harga jual barang di pasaran berpotensi ikut naik.
  • Inflasi Meningkat: Kenaikan harga barang impor dapat memicu inflasi. Sejumlah komoditas yang masih bergantung pada impor, seperti kedelai dan bahan baku industri, berisiko mengalami kenaikan harga.
  • Daya Beli Masyarakat Menurun: Saat harga kebutuhan pokok dan berbagai barang naik, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kelompok berpenghasilan menengah ke bawah menjadi yang paling rentan terdampak.
  • Risiko PHK di Sejumlah Industri: Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor menghadapi kenaikan biaya operasional. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, sebagian pelaku usaha dapat melakukan efisiensi, termasuk pengurangan tenaga kerja.

Demikian informasi mengenai nilai tukar 1 USD ke rupiah per hari ini Jumat, 5 Juni 2026. Semoga menjawab, ya, detikers!

Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom



Simak Video "Video: Ribuan umat Buddha mengikuti kirab Waisak dari Candi Mendut ke Candi Borobudur"

(num/alg)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork