Petani Blora belum puas ketika tidak mendapat kepastian dari pabrik gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) untuk membeli semua tebu. Sudah tiga hari ini, mereka open donasi mendapat Rp 600 juta untuk 'membeli' PG GMM.
"Terkumpul Rp 600 juta sekian. Donasi kita kumpulkan baru 3 hari untuk 'beli' PG GMM," ucap salah seorang petani tebu, Wahyu Ningsih saat ditemui di Posko Perjuangan Todanan, Blora, Senin (13/4/2026).
Gerakan pengumpulan uang ini sebagai bentuk kekecewaan petani lantaran tuntutan mereka tidak kunjung dipenuhi. Tuntutannya yaitu agar pabrik tetap giling dan seluruh hasil panen tebu dibeli PT GMM.
"Jadi karena rasa sakit hati yang berlarut-larut, petani tebu dengan di-PHP (pemberi harapan palsu) sekian lama," jelasnya.
Petani tebu yang terafiliasi dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APRTI) Kabupaten Blora ini melakukan gerakan open donasi sejak Sabtu (11/4) sampai hari ini. Menurut Wahyu, negara Indonesia seharusnya bisa mengatasi hal ini.
"Jadi kami berinisiatif, itu negara tidak bisa mengatasi, ayolah kita petani mengatasi sendiri," ucap dia.
Donasi itu dia kumpulkan dalam galon diletakkan di posko perjuangan Todanan, Blora, ada juga yang mengirimkan donasi via transfer.
"Saya taruh di depan, terus ada petani lewat, saya sambangi sampai ngemis-ngemis. Monggo pak kita mau beli GMM. Ada yang ngasih Rp 20 ribu, Rp 10 ribu," ucapnya.
Dia menyakini bahwa memang dari uang yang dikumpulkan tersebut tidak bisa untuk membeli pabrik milik Perum Bulog itu. Namun dari gerakan ini, pihaknya ingin menunjukkan sikap petani yang resah.
"Ini merupakan bentuk perlawanan petani, dari pejabat atau pemerintah yang tidak pro petani," terang dia.
"Ya kita tahulah pasti. Paling enggak kita menunjukkan bahwa 'nek negara ora iso ngatasi' (kalau negara tidak bisa mengatasi) petani harus berjuang," kata Wahyu.
Duit yang ada di dalam galon yang bertuliskan, 'open donasi untuk beli pabrik, seikhlasnya dulur' tersebut mendapatkan uang sekitar Rp 25 juta. Pecahan uang dalam galon bervariasi, mulai Rp 1000 hingga Rp 100 ribu.
"Kalau yang ini yang receh-receh mungkin kalau Rp 25 juta ada. Nanti kita cek lagi. (Via transfer) kalau dana yang petani-petani pesanggem (penggarap lahan) ada yang Rp 5 juta, ada yang Rp 2 juta, Rp 10 juta," paparnya.
Sementara itu, calon Direktur Operasional (Dirop) PT GMM, Andin Cholid membenarkan pabrik tidak bisa operasional giling tahun ini. Saat ini pihaknya fokus mencari solusi agar tebu petani bisa diserap.
"Terkait kegiatan operasional PT GMM, pabrik saat ini mengalami kendala sehingga tidak bisa melakukan giling. Menyikapi permasalahan tersebut pemerintah tidak ambil diam, upaya dalam waktu singkat bagaimana menyelamatkan tebu petani supaya bisa dipanen," jelasnya saat berdialog dengan petani.
(alg/apl)