Petani Tebu Open Donasi 'Beli' PG Gendhis Blora, Terkumpul Rp 600 Juta

Petani Tebu Open Donasi 'Beli' PG Gendhis Blora, Terkumpul Rp 600 Juta

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Senin, 13 Apr 2026 21:56 WIB
Petani tebu Blora, Wahyu Ningsih menunjukkan hasil open donasi untuk beli pabrik PG GMM.
Petani tebu Blora, Wahyu Ningsih menunjukkan hasil open donasi untuk 'beli' pabrik PG GMM. Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng
Blora -

Petani Blora belum puas ketika tidak mendapat kepastian dari pabrik gula (PG) PT Gendhis Multi Manis (GMM) untuk membeli semua tebu. Sudah tiga hari ini, mereka open donasi mendapat Rp 600 juta untuk 'membeli' PG GMM.

"Terkumpul Rp 600 juta sekian. Donasi kita kumpulkan baru 3 hari untuk 'beli' PG GMM," ucap salah seorang petani tebu, Wahyu Ningsih saat ditemui di Posko Perjuangan Todanan, Blora, Senin (13/4/2026).

Gerakan pengumpulan uang ini sebagai bentuk kekecewaan petani lantaran tuntutan mereka tidak kunjung dipenuhi. Tuntutannya yaitu agar pabrik tetap giling dan seluruh hasil panen tebu dibeli PT GMM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi karena rasa sakit hati yang berlarut-larut, petani tebu dengan di-PHP (pemberi harapan palsu) sekian lama," jelasnya.

Petani tebu yang terafiliasi dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APRTI) Kabupaten Blora ini melakukan gerakan open donasi sejak Sabtu (11/4) sampai hari ini. Menurut Wahyu, negara Indonesia seharusnya bisa mengatasi hal ini.

ADVERTISEMENT

"Jadi kami berinisiatif, itu negara tidak bisa mengatasi, ayolah kita petani mengatasi sendiri," ucap dia.

Donasi itu dia kumpulkan dalam galon diletakkan di posko perjuangan Todanan, Blora, ada juga yang mengirimkan donasi via transfer.

"Saya taruh di depan, terus ada petani lewat, saya sambangi sampai ngemis-ngemis. Monggo pak kita mau beli GMM. Ada yang ngasih Rp 20 ribu, Rp 10 ribu," ucapnya.

Dia menyakini bahwa memang dari uang yang dikumpulkan tersebut tidak bisa untuk membeli pabrik milik Perum Bulog itu. Namun dari gerakan ini, pihaknya ingin menunjukkan sikap petani yang resah.

"Ini merupakan bentuk perlawanan petani, dari pejabat atau pemerintah yang tidak pro petani," terang dia.

"Ya kita tahulah pasti. Paling enggak kita menunjukkan bahwa 'nek negara ora iso ngatasi' (kalau negara tidak bisa mengatasi) petani harus berjuang," kata Wahyu.

Duit yang ada di dalam galon yang bertuliskan, 'open donasi untuk beli pabrik, seikhlasnya dulur' tersebut mendapatkan uang sekitar Rp 25 juta. Pecahan uang dalam galon bervariasi, mulai Rp 1000 hingga Rp 100 ribu.

"Kalau yang ini yang receh-receh mungkin kalau Rp 25 juta ada. Nanti kita cek lagi. (Via transfer) kalau dana yang petani-petani pesanggem (penggarap lahan) ada yang Rp 5 juta, ada yang Rp 2 juta, Rp 10 juta," paparnya.

Sementara itu, calon Direktur Operasional (Dirop) PT GMM, Andin Cholid membenarkan pabrik tidak bisa operasional giling tahun ini. Saat ini pihaknya fokus mencari solusi agar tebu petani bisa diserap.

"Terkait kegiatan operasional PT GMM, pabrik saat ini mengalami kendala sehingga tidak bisa melakukan giling. Menyikapi permasalahan tersebut pemerintah tidak ambil diam, upaya dalam waktu singkat bagaimana menyelamatkan tebu petani supaya bisa dipanen," jelasnya saat berdialog dengan petani.

Direncanakan, lanjutnya, tebu dari petani yang dijual ke PT GMM akan dijual lagi ke pabrik gula lain. Namun secara teknis pengirimannya, Andin belum bisa memastikan.

"Tebu akan dialihkan ke PG (pabrik gula) lain. Hanya saja hari ini, di PT GMM, itu sedang mengupayakan mengenai penerimaan tebu petani, yang selama ini digiling di PG GMM bisa diterima di PG yang lain. Teknisnya seperti apa, saya juga belum mendapat informasi," jelasnya.

"Jangka pendek adalah segera ada upaya nyata bagaimana tebu petani bisa diterima di PG yang lain," ucap dia.

Dia belum bisa memastikan apakah nanti petani mendapat beban ongkos angkut untuk menyetorkan tebu ke PG lain atau tidak. Ongkos angkut dari PT GMM ke PG lain masih menjadi kendala.

"Saya ditugasi Pak Dirut (Bulog), segera menetapkan tebu dari mana diarahkan ke mana. Terkait ada ongkos angkut nanti dibutuhkan berapa. Kita belum mendapat kepastian seperti apa," urainya.

Petani tidak ingin tebu dibeli dengan harga rendah, sementara pabrik juga tidak ingin rugi. Menyikapi hal tersebut, Andin menjanjikan akan membeli tebu petani sesuai harga pemerintah.

"Terkait harga sesuai dengan acuan pemerintah. Kendala terkait yang menjadi ekstra tambahan ini kan biaya kirim dari GMM ke PG lain," jelas dia.

Mengenai perbaikan pada mesin pabrik yang rusak, rupanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Perum Bulog sebagai pemilik saham terbesar di PT GMM harus menunggu persetujuan dana dari APBN.

"(Perbaikan) sudah diusulkan ke pemerintah. Menggunakan dana negara itu tidak mudah, butuh proses. Kita pengen GMM bisa pulih lagi. Saya pribadi 'eman-eman' (disayangkan) kalau GMM dibiarkan mangkrak," jelasnya.

Diketahui, pabrik gula PT GMM berhenti operasional karena kerusakan mesin boiler di bulan Mei 2025. Kondisi demikian mengakibatkan pabrik tidak bisa melakukan giling tebu. Petani tebu sebelumnya sempat menggelar aksi unjuk rasa di Alun-Alun Blora depan rumah dinas bupati pada Kamis (2/4), menuntut agar pabrik PG PT GMM tetap giling. Selain itu petani juga menuntut agar seluruh hasil panen tebu dibeli oleh PT GMM.

Halaman 2 dari 2
(alg/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads