Petani Blora Buang Tebu ke PG Gendhis, Tagih Janji Bulog Beli Hasil Panen

Petani Blora Buang Tebu ke PG Gendhis, Tagih Janji Bulog Beli Hasil Panen

Achmad Niam Jamil - detikJateng
Senin, 01 Jun 2026 16:03 WIB
Petani tebu di Blora membuang hasil panen di depan PG Gendhis Manis sebagai bentuk protes atas tebu yang tak terserap, Senin (1/6/2026).
Petani tebu di Blora membuang hasil panen di depan PG Gendhis Manis sebagai bentuk protes atas tebu yang tak terbeli, Senin (1/6/2026). Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng
Blora -

Paguyuban petani tebu Blora menggelar aksi tumpah tebu di halaman Pabrik Tebu (PG) Gendhis Multi Manis (GMM) Todanan, Blora. Aksi digelar karena kecewa tebu petani tidak dibeli pabrik.

Aksi diikuti oleh gabungan dari Paguyuban Petani Tebu Blora, Front Blora Selatan, dan mahasiswa. Aksi ini juga menggunakan sound horeg dan panggung. Aksi diawali dengan pemutaran musik DJ, kemudian dilanjutkan orasi dan tumpah tebu.

Dalam penumpahan tebu, sejumlah kendaraan bermotor membawa satu gepok tebu kemudian ditumpahkan ke depan pabrik gula yang tidak beroperasi tersebut. Kemudian disusul belasan truk dump bermuatan tebu. Selanjutnya, sejumlah perwakilan demonstran melakukan audiensi dengan pihak pabrik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perwakilan paguyuban tebu Blora, Anton Sudibyo, mengatakan aksi hari ini sebagai bentuk kemarahan para petani karena mandeknya operasional pabrik.

"Aksi tumpah tebu ini sebagai kemarahan. Respons pemerintah betul-betul mengecewakan. Kita di-PHP, dibohongi, kita diberi janji angin surga saja, tapi eksekusinya tidak ada," kata dia, Senin (1/6/2026).

ADVERTISEMENT

Anton mengatakan, tebu yang ditumpahkan di depan gerbang itu menggunakan dump truk, sebagian menggunakan sepeda motor.

"Ada sekitar 17 truk dan kendaraan motor beberapa puluh yang dibawa. Yang jelas semua prosedur itu sebetulnya harus kita lalui dari bawah," jelas dia.

Dia bilang, upaya yang dilakukan dalam berkomunikasi dengan banyak pihak sudah kesekian kali, baik dari pihak GMM ataupun jalur eksekutif dan legislatif. Namun usahanya belum membuahkan hasil.

Tebu ditumpahkan di halaman pabrik gula GMM di wilayah Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora.Tebu ditumpahkan di halaman pabrik gula GMM di wilayah Kecamatan Todanan, Kabupaten Blora. Foto: Achmad Niam Jamil/detikJateng

"Makanya kita akan menuntut kepada beliau Pak Prabowo jangan sampai orang-orangnya ini ABS, asal bapak senang. Sehingga program Pak Prabowo yang mulia, yang hebat itu, program swasembada gula 2027 ini akan mengalami kegagalan. Karena pabriknya bosok, pabriknya rusak, tidak diperbaiki," ujar Anton.

Petani tebu menginginkan hasil panen tebu dibeli oleh anak perusahaan Bulog, GMM. Sebelumnya, Anton bersama petani tebu lainnya sempat menghadang Dirut Bulog saat mengunjungi pabrik GMM. Saat itu Dirut Bulog menjanjikan akan membeli tebu petani 100 persen dengan harga pemerintah atau harga sesuai PG lain. Kini aksi mereka untuk menagih janji Dirut Bulog.

"Hari ini kita berkumpul sekaligus bersyukur, dan bertanya, menagih janji Dirut Bulog yang akan membeli tebu petani franco GMM, dan diserap 100 persen," kata Anton.

"Sekarang itu di Bulog mengatakan sudah dibeli, sudah diserap, petani sudah ditenangkan, petani sudah ditentramkan, sekarang kondusif. Ya tidak akan tentram, tidak akan kondusif selama tebu petani tidak dibeli," ucapnya.

Sementara itu, Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti mengatakan aksi petani tebu ini karena pabrik tidak beroperasi. Pihaknya mengaku telah membentuk tim khusus untuk penyerapan tebu.

"Untuk penyerapan tebu petani yang sekarang ini mulai panen, karena GMM tidak beroperasi, kami sudah membentuk tim untuk penyerapan tersebut. Minggu kemarin tim sudah mulai pendataan di wilayah-wilayah mana saja yang bisa kami serap dan untuk dialihkan ke PG PG lain," kata dia seusai menemui aksi masa.

Dia bilang, pendataan dilakukan untuk menyerap tebu petani yang nanti akan dikirim ke pabrik gula di daerah lain. Dia juga menanggapi terkait pihak Bulog yang disebut ingkar janji kepada petani.

"Ini bukan ingkar janji ya, kami masih dalam proses, ini proses, karena kami juga ada aturan-aturan yang harus dilalui, harus dilewati, karena tidak bisa mengeluarkan istilahnya biaya, karena kami ada aturan-aturan di BUMN yang harus kami lalui dan harus ada persetujuan juga," ujar Sri.

Berkaitan dengan mandeknya pabrik karena ada kerusakan pada mesin, pihaknya sudah membentuk tim kajian independen.

"Sekarang sudah dibentuk tim kajian dari independen, mudah-mudahan minggu depan tim kajian independen sudah mulai ke Blora, ke pabrik," ucapnya.

Sri mengaku terus mengupayakan agar tebu petani dapat terserap maksimal. Disebutkan bahwa dalam pendataannya ada sekitar 200 petani yang menyalurkan tebu ke GMM.

"Sebagai informasi, baru 9 hari panen, karena banyak sih PG PG yang belum membuka untuk beli. Jadi insyaallah mudah-mudahan masih bisa kita bantu petani-petani Blora untuk menyalurkan ke PG PG," ujar Sri.

Aksi demonstrasi ini berlangsung aman dan kondusif. Sebagai informasi, PG PT GMM anak perusahaan Bulog tersebut berhenti beroperasi sejak Mei 2025 karena kerusakan pada mesin boiler. Akhirnya pabrik tidak beroperasi. Sempat terjadi penggilingan, namun pada September 2025 mesin kembali rusak. Alhasil pabrik tutup lebih awal.




(afn/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads