Ratusan petani tebu mencegat Direktur Utama (Dirut) BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani di ruas jalan Todanan, Blora saat menuju ke pabrik gula PT Gendhis Multi Manis (GMM). Mereka menyampaikan langsung tuntutan agar semua hasil panen tebu dibeli.
Penyetopan tersebut tidak lain imbas dari aksi unjuk rasa petani tebu pada Kamis (2/4) kemarin yang menuntut PG PT GMM kembali giling. Sedangkan penghadangan dilakukan di 'Posko Perjuangan APTRI dan petani tebu Blora' yang lokasinya tidak jauh dari pabrik gula di wilayah Kecamatan Todanan, Blora.
Ratusan petani yang menyetop rombongan Bos BULOG ini ingin menemui pimpinan BULOG tersebut. Meski dihadang dan diminta untuk turun, Rizal tidak turun hingga aparat kepolisian dan TNI mengamankan lokasi. Kemudian rombongan dan petani tebu diarahkan ke pabrik gula. Ratusan petani tebu kemudian beramai-ramai menuju ke pabrik GMM.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APRTI) Kabupaten Blora meminta 3 tuntutan agar dipenuhi. yaitu menerima tebu 100 persen dari seluruh Kabupaten Blora yang harus ditebang habis dengan harga terbaik. Kemudian perbaikan pabrik dengan tempo paling lambat tahun 2026. Terakhir, ancaman aksi besar-besaran jika tuntutan tidak dipenuhi.
"Kami minta Pak Direktur Utama itu menyetujui yang pertama adalah penerimaan tebu 100% dari seluruh tebu-tebu yang ada di Blora ini harus tertebang habis," ucap Anggota APTRI, Khoirul Anwar saat ditemui di posko perjuangan, Jumat (3/4/2026).
Petani meminta tebu dibeli dengan harga terbaik, namun dari hasil pertemuan tersebut, pihak petinggi BULOG hanya ingin membeli tebu sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh pemerintah.
"Tapi Pak Direktur Utama Bulog, dia acuannya adalah harga dari pemerintah," ucap Khoirul.
Kemudian tuntutan perbaikan mesin boiler yang rusak, pihak BULOG tidak bisa memenuhi. Seperti halnya tuntutan akan menggelar aksi besar-besaran juga tidak diamini.
"Tetapi Pak Direktur Utama Bulog itu keberatan. Dia minta itu dicoret. Beliau bilang ini perlu permintaan ke pihak BUMN dulu. Dibilang sahamnya itu saham BUMN begitu," jelasnya.
Petani tebu menginginkan mesin pabrik gula diperbaiki setelah sekian lama mandek tidak beroperasi. Dia menilai pentingnya pabrik tebu beroperasi mengingat besarnya ladang tebu di Blora.
Dengan hasil pertemuan tersebut, para petani merasa tidak puas dengan perkataan Dorut BULOG. Petani tetap ingin pabrik diperbaiki.
"Belum puas kita. Kita itu ingin kepastian bahwa pabrik itu tetap diperbaiki. Itu kan menjadi motor penggerak perekonomian Blora. Ketika pabrik tutup kan bertentangan dengan program pemerintah, swasembada gula," jelas dia.
Respons Dirut BULOG
Dirut BULOG, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan bakal membeli semua hasil panen tebu dari petani.
"Kami jelaskan nanti di tahun ini 2026 kan panen bulan 5 ya, nanti GMM akan menyerap hasil panen tebu bapak-bapak semua sesuai dengan harga pemerintah. Jadi bapak-bapak cukup bawa hasil panennya dari lahan masing-masing," jelasnya.
Tebu dari petani tersebut nantinya akan dikirimkan ke pabrik gula yang berada di Kudus, Madiun dan Jombang.
Ditanya terkait tuntutan petani yang meminta untuk memperbaiki mesin yang rusak di pabrik, dia masih perlu berkoordinasi dengan pihak BUMN.
"Kan BUMN itu SOP-nya setiap akan perbaikan ataupun penambahan dari lain sebagainya itu harus izin dengan BUMN, SOP-nya seperti itu. Jadi kita sedang mengajukan supaya dapat izin dan restu untuk perbaikannya. Biayanya sedang dihitung oleh tim," jelas dia.
Dia mengatakan BULOG tidak akan tinggal diam terhadap kendala yang dihadapi petani lokal. Rizal menyampaikan bahwa langkah pertama yang diambil adalah memberikan jaminan pasar bagi hasil panen masyarakat.
"Perum BULOG bersedia membantu menyerap seluruh tebu petani Blora untuk disalurkan ke empat pabrik gula milik negara di wilayah Jawa Tengah. Ini adalah langkah antisipasi sambil kita menunggu perbaikan Pabrik Gula GMM Bulog selesai," jelas Rizal.
Tak hanya soal serapan hasil tani, restrukturisasi besar-besaran juga akan menyasar internal manajemen pabrik. Rizal mengungkapkan komitmennya untuk membawa semangat baru dengan melibatkan tenaga ahli lokal.
"Kami akan segera melakukan penggantian direksi pimpinan dan pengurus Pabrik Gula GMM Bulog dengan melibatkan potensi putra daerah," tambahnya.
Dari sisi teknis produksi, Dirut Bulog memastikan adanya perubahan orientasi mesin pabrik agar lebih berpihak pada petani. Menurutnya, mesin yang ada saat ini akan dimodifikasi total.
"Kami memastikan akan memperbaiki mesin Pabrik Gula GMM Bulog. Yang tadinya mesin untuk gula rafinasi dan gula tebu, akan diubah semuanya hanya fokus untuk gula tebu petani," jelas Rizal.
Rizal meredam kekhawatiran mengenai nasib para pekerja selama masa transisi perbaikan pabrik. Ia menjamin operasional SDM tetap berjalan meski pabrik sedang dalam tahap renovasi mesin.
"Untuk sementara waktu, kami akan memberdayakan SDM pekerja untuk disalurkan ke beberapa perusahaan Bulog di sekitar Blora, mencakup wilayah Jateng-DIY. Tujuannya agar pekerja tetap bisa produktif dan bekerja sambil menunggu perbaikan Pabrik Gula GMM Bulog tuntas," beber dia.
(alg/alg)











































