Nelayan dan petambak di Dukuh Glondong, Desa Gebang, Kecamatan Bonang, Demak, terdampak rob sejak 1997. Akibat rob, mayoritas sawah warga kini dialihfungsikan menjadi tambak.
Kehadiran gas melon sebagai bahan bakar perahu pun memperingan beban hidup warga setiap harinya. Sebab, bahan bakar gas melon lebih irit untuk perahu berukuran 4x1,5 meter yang dipakai warga melaut dan mengelola tambak. Selisih perbandingan setiap harinya dengan bensin, bahkan mencapai dua kali lipat menyesuaikan mesin yang digunakan.
Kadus Glondong, Imron Suaidi, mengatakan selama tiga tahun terakhir ini rob berdampak parah bagi tambak-tambak warga. Dampaknya hasil tambak warga tak maksimal bahkan tak bisa dipanen.
"Untuk jarak Dukuh Glondong sampai ke bibir pantai kurang lebihnya 4,5 kilometer. Untuk terdampak rob dari pertanian (sawah) beralih fungsi menjadi tambak di dukuh kami sejak tahun 1997/1998, akan tetapi mulai parahnya setelah menjadi tambak baru tiga tahun terakhir," ujar Imam saat dimintai konfirmasi, Minggu (10/7/2023).
"Mulai parahnya terkena dampak rob/abrasi sekitar 3 tahunan ini. Tanggul-tanggul tambak mulai hilang dan para petani tambak hasilnya berkurang. Minimnya pendapatan hasil panen para petani tambak, semakin tahun semakin tambah parah," sambungnya.
Sementara itu, Sekdes Gebang, Chrisna Ardiyanto mengatakan jumlah kepala keluarga (KK) di Dukuh Glondong sebanyak sekitar 300 KK. Mayoritas warga di dukuh tersebut merupakan nelayan dan petambak.
"Hampir mayoritas nelayan, sebagian punya tambak. Ada hampir 300 KK," terangnya.
Gas Melon Jadi Primadona
Salah satu nelayan dan petambak, Rokimin (43), mengaku merasakan perbedaan menggunakan bahan bakar bensin dengan gas melon. Pria yang sudah melaut sejak usia 17 tahun ini biasa berangkat melaut sekitar pukul 07.00 WIB hingga petang sekitar pukul 18.00 WIB.
Selain itu saat masa panen tambak ia juga harus menyedot air bercampur rob menggunakan mesin perahu. Perbedaan bahan bakar tersebut bisa satu gas melon ukuran 3 kilogram banding 9 liter bensin.
"Setiap hari habis 5 liter pakai bahan bakar bensin. Setiap hari saya (dari Glondong) sampai ke perairan Sayung (Demak), Tambaklorok, Banjarkanal (Semarang). Kalau pakai tabung gas habisnya hanya satu," ujarnya, Jumat (7/7).
"Kalau saya buat nyedot tambak, gas pol mulai sore sampai jam 13.00 WIB baru habis, tabung satu. Perbandingannya 9 liter bensin banding satu tabung gas melon," terangnya.
Dia menyebut harga satu tabung gas melon atau LPG 3 kg sekitar Rp 23 ribu, sedangkan bensin satu liter Rp 12 ribu. Satu kali operasional perahu dia membutuhkan bensin sekitar 5 liter sedangkan bila menggunakan gas melon hanya membutuhkan satu tabung, sehingga dia bisa berhemat Rp 37 ribu sekali operasional.
Hal senada disampaikan nelayan lainnya, Masluri. Selain nelayan ia juga memiliki tambak udang panami seluas sekitar satu hektare. Tambak yang ia tanami itu seringkali terdampak rob yang mengakibatkan udang di dalamnya turut hanyut saat air pasang.
"Ikannya pada hanyut hilang. Sebelah utara terdampak, relatif aman untuk sebelah selatan," ujar Masluri.
Ia menjelaskan akibat rob hasil tambaknya kerap terjual murah karena minimnya pembeli. Bahkan, sertifikat tambaknya pun tak bisa buat agunan di bank.
"Tambaknya nggak bisa disat, jual belinya itu murah, nggak bisa dipanen. Misalkan jual tahunan atau los itu tidak ada yang minat. Bahkan sertifikat aja dimasukkan ke bank aja nggak masuk, tidak bisa buat agunan," terang Rplo,om.
"Tidak bisa dipanen, tidak bisa disat, (alternatifnya) pakai jaring naga tadi," imbuhnya.
Selengkapnya di halaman berikut.
(ams/apl)