Jawa Tengah (Jateng) disebut mengalami penurunan muka tanah hingga 8-11 sentimeter per tahun. Kondisi itu disebut dipicu pengambilan air tanah berlebih, hingga rob yang terus terjadi di Pantura.
Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah (Jateng), Ahmad Luthfi dalam Rapat Kerja Gubernur di Hotel Tentrem, Kecamatan Semarang Tengah.
"Per tahun itu penurunan muka tanah di wilayah Jawa Tengah itu 8-11 cm," kata Luthfi di Hotel Tentrem, Selasa (12/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Luthfi mengatakan, penurunan muka tanah yang terjadi di Jateng itu diakibatkan pengambilan air tanah yang berlebihan dan juga rob.
"Itu akibat daripada penurunan air tanah, pengambilan air tanah serta rob," ucapnya.
Menurutnya, pemerintah kini berupaya melakukan langkah pencegahan mulai dari perencanaan hingga pembangunan infrastruktur pengendali banjir rob di wilayah pesisir.
"Kita melakukan upaya pencegahan preemtif, preventif. Tetapi yang paling efektif dalam rangka menurunkan itu adalah dengan Giant Sea Wall," ucapnya.
Pembangunan giant sea wall atau tanggul laut raksasa di kawasan Semarang-Sayung, Demak itu disebut menjadi upaya jangka panjang untuk mengendalikan rob dan penurunan muka tanah di Pantura.
"Giant Sea Wall yang pertama itu mulai Kota Semarang dan Sayung. Panjangnya 10 km, biayanya adalah Rp 10,7 triliun dari pusat," tuturnya.
Selain tanggul laut, pemerintah juga membangun kolam retensi Torboyo dan Sriwulan untuk menampung air dan mengurangi banjir di kawasan pesisir.
"Kolam retensi ini bisa penampung 6,4 juta meter kubik untuk menahan banjir. Giant sea wall untuk menahan gelombang," katanya.
Gubernur menyebut, proyek Giant Sea Wall ditargetkan segera diresmikan pada Juli mendatang dan diharapkan menjadi model pengendalian rob bagi daerah pesisir lain di Indonesia.
"Proyeknya di Sayung, yang sekarang tiap hari viral di tempat kita. Nah ini sudah hampir selesai," pungkasnya.
