Ganjar Genjot Pasokan Bawang Putih Jateng Lewat Learning Center

Imam Suripto - detikJateng
Sabtu, 13 Agu 2022 20:05 WIB
Melalui Learning Center, Ganjar menargetkan kebutuhan bawang putih di Jawa Tengah tercukupi hingga di atas 50 persen per bulan.
Melalui Learning Center, Ganjar menargetkan kebutuhan bawang putih di Jawa Tengah tercukupi hingga di atas 50 persen per bulan. Foto: Imam Suripto/detikJateng.
Tegal -

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo meminta agar masa kejayaan bawang putih di Jateng kembali dihidupkan. Dengan begitu maka pasokan bawang bisa mencukupi kebutuhan Jawa Tengah minimal 50 persen.

Ganjar Pranowo menyebut saat ini produksi bawang putih di Jawa Tengah baru tercukupi 20 persen. Melalui Learning Center, Ganjar menargetkan kebutuhan bawang putih di Jawa Tengah tercukupi hingga di atas 50 persen per bulan.

"Kalau swasembada bawang mungkin enggak, tapi mendekati produksi atau kebutuhan bisa tercukupi di atas 50 persen wajib menurut saya. Kalau sekarang kan baru 20 persen kurang lebih, menurut saya ini terlalu kecil," kata Ganjar di Learning Centre Bawang Putih, di Tegal, Sabtu (13/8/2022).


Data di Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), ungkap dia, kebutuhan bawang putih Jateng mencapai 10 ribu ton per bulan. Produksi bawang putih hasil petani masih jauh untuk mencukupinya.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Ganjar pun mendorong pemanfaatan Learning Centre Bawang Putih. Berkolaborasi dengan Bank Indonesja (BI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Pemerintah Kabupaten Tegal, dan Kementerian Pertanian (Kementan), Ganjar berharap Learning Centre tersebut bisa diduplikasi di banyak daerah.

"Dan ini bagian dari perintah Pak Presiden kepada kita untuk menjaga ketahanan pangan kita," tegasnya.

Ganjar juga berharap ketersediaan para off taker untuk membeli hasil tani para petani bawang putih di daerah, baik dari BUMN, BUMD, ataupun perusahaan swasta.

"Kita siapkan off taker-nya nanti bisa kita pakai kekuatan-kekuatan katakanlah dari pemerintah daerah, BUMN, BUMD, itu bisa kita lakukan," jelasnya.

Bupati Tegal, Umi Azizah menjelaskan Desa Tuwel dan sekitarnya merupakan kawasan yang cocok untuk budidaya bawang putih. Desa Tuwel, kata Bupati bahkan pernah mengalami masa kejayaan karena produksi bawang putihnya. Namun karena beberapa faktor, petani mulai meninggalkan budidaya bawang putih.

Kini kejayaan bawang putih akan kembali dibangkitkan, salah satunya melalui learning center.

"Dulu sempat jaya, tapi sekarang lesu karena pemasaran. Melalui learning center, semoga bisa bangkit lagi petani bawang putih di Tegal," ucap Bupati.

Terpisah, Rektor IPB Arif Satria memaparkan untuk meningkatkan produksi, secara umum menggunakan teknologi dobel kromosom. Teknologi ini jika diterapkan di seluruh Indonesia, berpotensi menutup kebutuhan impor nasional sebesar 460.000 ton.

Arif menyebutkan total lahan bawang putih di Indonesia seluas 40.000 hektare. Saat ini produktivitasnya hanya 88.000 ton. Dengan teknologi dobel kromosom hasil bawang putih sudah lebih dari cukup, menutup kebutuhan nasional maupun impor bahkan surplus dengan perhitungan 40.000 hektare menghasilkan 15 ton per hektar.

"Saya optimis bawang putih itu bisa swasembada. Karena dengan teknologi 15 ton per hektare dikali 40.000 hektare sudah 600.000 ton melebihi kebutuhan impor," sebut Arif Satria.

Learning Centre Bawang Putih di Tegal menyediakan fasilitas gedung bangsal belajar dan greenhouse senilai Rp 367 juta melalui anggaran Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) tahun 2021. Sedangkan pada 2022, Kantor Perwakilan Bank Indonesia membantu penataan infrastruktur lingkungan dan sarana sarana pembelajaran sebesar Rp 300 juta.

Learning Centre Bawang Putih di Tegal sendiri akan dikelola Kelompok Tani Berkah Tani Tuwel di bawah binaan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tegal.



Simak Video "Ganjar Ingatkan Bahaya Nikah Dini: 'Ojo Kawin Bocah'"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/dil)