Rumah di Tengah Proyek Tol Jogja-Solo Klaten, Pemilik Tolak UGR Rp 3,5 M

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Selasa, 09 Agu 2022 20:12 WIB
Rumah di jalan Klaten-Boyolali bertahan di tengah proyek Tol Jogja-Solo, Selasa (9/8/2022).
Rumah di jalan Klaten-Boyolali bertahan di tengah proyek Tol Jogja-Solo, Selasa (9/8/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Setyo Subagyo, pemilik rumah bertingkat di tengah proyek Tol Jogja-Solo di Klaten menolak uang ganti rugi (UGR). Padahal nilai UGR yang ditawarkan mencapai Rp 3,5 miliar.

"UGR dulu sekitar Rp 3,5 miliar atau berapa pastinya saya sudah tidak ingat. Kertasnya saja sudah lupa dimana," ungkap Setyo Subagyo kepada detikJateng, Selasa (9/8/2022).

Menurut Setyo, nilai UGR tersebut tidak adil. Sebab tanah dan rumahnya di tepi jalan raya provinsi, Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, dihargai berbeda dengan seberang jalan.


"Tanah dan rumah saya di utara jalan, tidak perlu menguruk dengan tanah dihargai Rp 2,5 juta per meter. Padahal di lokasi yang sama di selatan jalan yang kalau dibangun masih perlu tanah uruk dinilai Rp 3 juta," terang Setyo.

Setyo mengungkapkan, di utara jalan, hanya dirinya yang memiliki aset berupa bangunan. Sedangkan warga terdampak lainnya berupa sawah.

"Yang berupa rumah dan tanah cuma milik saya 500 meter persegi, yang lain itu sawah semua satu patok sekitar 2.000 meter persegi. Kalau tidak ada bangunan, cuma tanah sepatok ya untung karena yang tanahnya jauh dari jalan juga dinilai Rp 2,5 juta," jelas Setyo.

Menurutnya penyebab taksiran UGR berbeda antara lahan di utara dengan selatan jalan adalah adanya dua penaksir yang digunakan pemerintah.

"Tidak hanya tanah, taksiran ganti rugi pohon juga asal. Pohon buah sudah besar-besar depan rumah ditaksir Rp 100 ribu, harga bibit saja Rp 200 ribu," terang Setyo.

Sementara itu rumahnya yang berada di tengah proyek Tol Jogja-Solo saat ini tidak dihuni. Rumahnya kini sudah terdampak polusi proyek.

"Rumah saya tidak saya tinggali lagi karena sudah tidak mungkin. Air dan lumpur sudah masuk pekarangan karena sekitar rumah dibor," jelasnya.

Setyo kembali menegaskan dirinya saat ini belum menyetujui besaran UGR yang ditawarkan pemerintah meskipun totalnya sekitar Rp 3,5 miliar.

"Saya tetap belum menyetujui, tidak menggunakan jalur hukum. Menggunakan jalur hukum selama ini tidak ada yang pernah menang," pungkas Setyo.

Sebelumnya, Kasi Pengadaan Lahan Kantor BPN Klaten Sulistyono menjelaskan rumah tersebut milik warga bernama Setyo. Sulistyono mengatakan yang bersangkutan belum setuju dengan ganti kerugian.

"Punya Pak Setyo, belum setuju dengan ganti kerugian dan tidak mengajukan keberatan ke PN. Tanah tersebut apabila dalam jangka waktu akhir Agustus tidak mau tanda tangan di berita acara persetujuan akan saya titipkan di PN," jelas Sulistyono.



Simak Video "Alasan Tambang Tanah Uruk Proyek Tol Jogja-Solo Disegel Satpol PP"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/ahr)