PPKM Dilonggarkan, Konsumsi Rumah Tangga Kerek Ekonomi Jateng Triwulan II

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Selasa, 09 Agu 2022 19:19 WIB
Bertugas sebagai agen BRILink jadi tantangan tersendiri bagi Emi Farida. Setiap hari Emi seberangi sungai demi bantu warga di Kendal melakukan transaksi ekonomi
Ilustrasi (Foto: Andhika Prasetia/Detikcom)
Semarang -

Ekonomi Jawa Tengah pada Triwulan II 2022 makin menguat. Konsumsi rumah tangga (RT) dan ekspor luar negeri menjadi faktor terkuat terutama setelah dilonggarkannya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwi Saputra dalam keterangannya menyebutkan perekonomian Jawa Tengah pada triwulan II 2022 tumbuh 5,66% (yoy), angka itu meningkat dibanding triwulan sebelumnya yaitu sebesar 5,12% (yoy) dan lebih baik dibandingkan perekonomian nasional 5,44% (yoy).

"Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga (RT) dan ekspor luar negeri merupakan sumber pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2022, sementara konsumsi pemerintah dan investasi masih terkontraksi. Konsumsi rumah tangga tumbuh sebesar 6,14% (yoy) dan memberikan andil sebesar 3,62%," kata Rahmat dalam keterangannya, Selasa (9/8/2022).


Untuk konsumsi rumah tangga, peningkatan mulai pada periode bulan puasa dan Idul Fitri kemudian libur sekolah dan pelonggaran PPKM.

"Perbaikan konsumsi RT seiring dengan peningkatan konsumsi pada periode bulan puasa dan Idul Fitri, liburan sekolah, dan peningkatan mobilitas masyarakat pascapelonggaran PPKM, " jelas Rahmat.

"Selain itu, sejumlah kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia seperti relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM), loan to value (LTV) properti dan kendaraan bermotor, serta Insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), juga turut menjaga perbaikan konsumsi," imbuhnya.

Terkait ekspor luar negeri dari Jateng, tumbuh sebesar 35,01% (yoy) yang didorong oleh peningkatan ekspor migas sebesar 136,05% (yoy). Untuk ekspor non migas Jawa Tengah tumbuh sebesar 22,94% (yoy) yang termoderasi atau turun dibandingkan triwulan sebelumnya, 30,37 ( yoy).

"Moderasi ekspor non migas disebabkan oleh penurunan ekspor produk kayu dan furnitur akibat kendala sertifikat ecolabel Forest Stewardship Council (FSC), dan penurunan permintaan negara mitra dagang terutama Amerika Serikat. Sementara itu, impor luar negeri Jawa Tengah melambat (dari tumbuh 14,69%; yoy menjadi 9,00%; yoy), terutama pada impor bahan baku dan barang konsumsi," tegasnya.

Dalam keterangan pers BI juga disebutkan konsumsi pemerintah masih mengalami kontraksi atau penurunan 3,55% (yoy), lebih dalam dari triwulan sebelumnya sebesar -1,16% (yoy). Kinerja investasi juga terkontraksi 0,66% dan itu lebih dalam dibanding triwulan sebelumnya (-0,24%; yoy).

"Hal tersebut disebabkan oleh penurunan belanja barang dan jasa sebagai dampak penyesuaian kontrak pengadaan barang dan jasa akibat kenaikan PPN 11%, serta keterbatasan ketersediaan barang pada e-catalog," jelasnya.

Dari sisi domestik, kontraksi investasi diakibatkan oleh penundaan penyelesaian Proyek Strategis Nasional (PSN) seperti akibat perubahan desain, serta penerbitan izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Sedangkan dari sisi eksternal, investor cenderung menunggu atau wait and see karena ketidakpastian kondisi global pascanormalisasi suku bunga kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

"Dari sisi lapangan usaha (LU), sumber pertumbuhan terbesar PDRB Jawa Tengah berasal dari LU transportasi dan pergudangan (tumbuh 89,34%; yoy), serta LU penyediaan akomodasi dan makan minum (tumbuh 18,44%; yoy), seiring penerapan kebijakan pelonggaran mudik," katanya.

"LU pertanian juga menjadi sumber pertumbuhan dengan tumbuh 4,93% (yoy), didorong oleh panen jagung di wilayah sentra Jawa tengah dan implementasi indeks pertanaman IP400 pada tanaman padi. Namun demikian, kinerja LU industri pengolahan sebagai LU utama Jawa Tengah melambat, dari tumbuh 4,78% (yoy) pada triwulan lalu menjadi 4,06% (yoy) pada triwulan ini," imbuhnya.

Rahmat menyebut pemilihan ekonomi di Jawa Tengah akan terus berlanjut seiring terkendalinya kasus COVID-19 dan peningkatan mobilitas masyarakat.

"Namun demikian perbaikan ekonomi diperkirakan tidak sekuat proyeksi sebelumnya, disebabkan ekspor yang masih tertahan, kenaikan harga energi dan pangan global, serta proteksionisme ekspor beberapa negara produsen pangan dan pupuk. Sejalan dengan moderasi perekonomian global tersebut, permintaan eksternal diperkirakan lebih rendah sehingga sumber pemulihan perekonomian lebih ditopang oleh permintaan domestik," jelas Rahmat.



Simak Video "Asyiknya Menyusuri Gua Sumitro di Kulon Progo"
[Gambas:Video 20detik]
(apl/ahr)