Seniman Klaten Sulap Karung Goni Bekas Jadi Tas-Interior 3D Bernilai Ekonomi

Achmad Hussein Syauqi - detikJateng
Selasa, 26 Jul 2022 16:07 WIB
Karung goni bekas disulap jadi tas, topi, dan seni interior 3 dimensi, di Desa Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Selasa (26/7/2022).
Karung goni bekas disulap jadi tas, topi, dan seni interior 3 dimensi, di Desa Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Selasa (26/7/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng
Klaten -

Seniman asal Klaten, Heru Dono (53), menyulap karung goni bekas menjadi tas, topi, tempat minum, dan patung interior tiga dimensi (3D) bernilai ekonomi. Produk seni itu disebut sudah menjelajah Jawa-Bali.

"Untuk pemasaran kita masih lebih banyak di komunitas. Ya pemasaran di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali sudah," kata Heru Dono kepada detikJateng di Galeri Klampis Ireng Republik Karung Goni, Desa Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Selasa (26/7/2022).

Heru jebolan Jurusan Seni Rupa UNS menuturkan kreasi karung goni itu berangkat dari kegelisahan atas keberadaan barang bekas dan sampah. Salah satunya karung goni.


"Timbul ide kita untuk membuat kreasi dan salah satu yang kita eksekusi adalah karung goni. Dari karung goni bekas itu kita ingin menciptakan barang yang bisa dilihat, dinikmati dan dipakai," papar Heru.

Dari ide itu kemudian diciptakan tas karung yang dipadu dengan karya lain tiga dimensi. Menurut Heru kreasinya tersebut sempat terkendala karena pandemi COVID-19 tetapi kini mulai berproduksi lagi.

"Karung goni itu kalau di pasar tradisional masih digunakan untuk mengangkut kacang tanah atau hasil bumi lainnya. Saya melihat karung goni itu seperti kain, bahkan dulu di masa penjajahan Jepang digunakan untuk pakaian maka kita coba buat tas, topi, dan produk lain," terang Heru.

Karung goni bekas disulap jadi tas, topi, dan seni interior 3 dimensi, di Desa Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Selasa (26/7/2022).Karung goni bekas disulap jadi tas, topi, dan seni interior 3 dimensi, di Desa Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Selasa (26/7/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Sejak setahun berkreasi sudah ada seratusan karakter yang diciptakan.

"Yang kita tonjolkan justru karya tiga dimensi. Sudah ada 50-100an karakter yang kita ciptakan dan dieksekusi sejak setahun lalu," papar Heru.

Hasilnya, ujar Heru, ternyata diminati masyarakat terutama kalangan anak muda dan penggemar barang antik.

"Tas selempang kita jual Rp 125 ribu, tas gendong Rp 250 ribu, topi Rp 75 ribu. Selain itu kita buat berbagai bentuk untuk dekorasi interior, semisal untuk kafe, hotel, resto dan lainnya," kata Heru.

Heru menyampaikan, karena barang produksinya lebih berorientasi seni tiga dimensi maka produksi tidak banyak. Sebulan hanya bisa sekitar 20 item.

"Sebulan sekitar 20 kita keluarkan. Untuk produksi masih minim karena yang kita utamakan bukan salary tapi karya seni, ekspresi seninya," tambah Heru.

Karung goni bekas disulap jadi tas, topi, dan seni interior 3 dimensi, di Desa Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Selasa (26/7/2022).Karung goni bekas disulap jadi tas, topi, dan seni interior 3 dimensi, di Desa Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Selasa (26/7/2022). Foto: Achmad Hussein Syauqi/detikJateng

Untuk bahan baku karung, sebut Heru, sejauh ini tidak terlalu sulit dan seminggu bisa 100-150 karung goni yang bisa didapatkan. Dalam sehari bisa 10-20 tas dibuat tapi belum dilengkapi seni tiga dimensi.

"Tas itu dengan dua tukang jahit bisa produksi 10-20 biji sehari, tapi untuk ornamen tiga dimensinya paling 5 karakter sehari. Yang paling diminati itu karakter bajak laut, kita beli karung goni per bijinya Rp 7.000 tapi kalau tidak pas musim kacang tanah atau palawija agak sulit dapat," pungkas Heru.

Sementara itu, Arina Nuriana (32), pembeli tas dari Kecamatan Delanggu mengatakan tidak malu menggunakan tas karung goni. Dia tertarik karena produknya unik.

"Saya suka tas selempang, tidak malu bahkan bisa jadi pusat perhatian. Ini malah anti mainstream," ujarnya di lokasi.



Simak Video "Karung Goni Disulap Jadi Tas Fashion, Cuannya Jutaan Rupiah"
[Gambas:Video 20detik]
(rih/mbr)