Bank Jateng Ajak KPK Tagih Kredit Macet, 35 Debitur Nakal Akhirnya Ngangsur

Angling Adhitya Purbaya - detikJateng
Jumat, 28 Jan 2022 16:52 WIB
Webinar Implementasi NCT (Non Cash Transaction) Pemda dan Penerapan GCG (Good Corporate Governence) di Kantor Pusat Bank Jateng, Semarang, Jumat (28//1/2022).
Webinar Implementasi NCT (Non Cash Transaction) Pemda dan Penerapan GCG (Good Corporate Governence) di Kantor Pusat Bank Jateng, Semarang, Jumat (28//1/2022). (Foto: Angling Adhitya Purbaya/detikJateng)
Semarang -

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (Bank Jateng) menggandeng Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam penagihan debitur yang mengalami kredit macet. Setidaknya sudah ada Rp 40 miliar yang dikembalikan oleh 35 debitur yang sempat bermasalah.

Direktur Wilayah III Kedeputian Koordinasi dan Supervisi KPK, Brigjen Bahtiar Ujang Purnama mengatakan kerjasama itu bukan berarti KPK menagih kreditur yang mengalami kredit macet. Pihaknya melakukan penetrasi agar aset negara bisa kembali.

"Kita membantu mengembalikan aset milik Bank Jateng, dalam tanda petik aset itu sebagian daripada yang bisa dikembangkan untuk berproses menjadi hasil deviden pada pemda. Jadi, bukan kita nagih kaya debt collector," kata Bahtiar usai Webinar Implementasi NCT (Non Cash Transaction) Pemda dan Penerapan GCG (Good Corporate Governence) di Kantor Pusat Bank Jateng, Jalan Pemuda, Semarang, Jumat (28/1/2022).

Ia menjelaskan ada identifikasi debitur yang memiliki masalah pembayaran kredit. Sehingga diketahui apakah debitur itu tidak bisa membayar karena memang berperilaku curang atau tidak bisa membayar karena faktor alam, contohnya akibat pandemi.

"Awalnya kita identifikasi dulu. Kira-kira para pelaku kredit macet ini ada kemampuan tidak untuk membayar," ujarnya.

Sementara itu Dirut Bank Jateng, Supriyatno mengatakan kerjasama dengan KPK sudah dilakukan sejak 2017. Setidaknya ada 35 debitur yang sudah menyatakan bersedia mengangsur.

"Disamping isu gratifikasi (kerja sama), juga soal penyelamatan aset. Didukung KPK untuk menagih dan mengembalikan aset. Ada lebih 35 debitur nakal sudah menyatakan bersedia mengangsur. Akan dipantau KPK, termasuk juga KPK akan identifikasi (apakah ada) keterlibatan karyawan Bank Jateng," jelas Supriyatno.

Dari 35 debitur itu, nilainya sekitar Rp 700 miliar dan yang sudah terbayar yaitu sekitar Rp 40 miliar. Mereka sudah berkomitmen, dan membayar dengan mengangsur.

"Sekitar Rp 700 miliaran sekian. Setelah Bank Jateng menggandeng KPK, kredit itu mulai diangsur setiap bulan. Sampai Januari 2022 ini, total angsuran sudah mencapai Rp 40 miliar," katanya.



Simak Video "Bank Jateng Gandeng KPK Tagih Kredit, 35 Debitur Nakal Siap Ngangsur"
[Gambas:Video 20detik]
(aku/ahr)