Raup Cuan di Jalur Wisata, Pria Gunungkidul Bikin Agrowisata Kelengkeng

Pradito Rida Pertana - detikJateng
Rabu, 19 Jan 2022 15:29 WIB
Kebun kelengkeng siap petik milik Sumanto di Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (19/1/2022).
Kebun kelengkeng siap petik milik Sumanto di Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Rabu (19/1/2022). (Foto: dok Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul)
Gunungkidul -

Petani asal Pedukuhan Gunungkunir, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumanto (50) mengembangkan agrowisata kelengkeng dengan sistem langsung petik di tempat. Hal itu untuk menarik wisatawan yang menuju dan pulang dari Pantai Wediombo.

"Saya tidak ingin hanya melihat mobil dan motor para wisatawan lewat ke Pantai Wediombo di depan rumah, saya juga ingin menikmati keuntungan dari para wisatawan yang lewat," katanya saat ditemui wartawan, Rabu (19/1/2022).

Hal itu membuat Sumanto berpikir hal apa yang bisa menarik perhatian wisatawan untuk sekadar berhenti di sekitar rumahnya. Akhirnya, Sumanto mulai menanam kelengkeng pada tahun 2017 dengan jumlah 138 pohon di lahan seluas 2000 m2.

"Saat itu saya mikir, bagaimana caranya agar mau mampir. Akhirnya saya kepikiran untuk menanam pohon kelengkeng sebagai ampiran (persinggahan) wisatawan," ucapnya.

"Untuk jenis kelengkeng yang ditanam itu kelengkeng kristal atau varietas new crystal," lanjut Sumanto.

Menurutnya, budidaya kelengkeng ini bukan hal yang gampang karena sulit untuk membuat pohon kelengkeng bisa berbuah lebat. Hingga akhirnya dia berkenalan dengan pegiat kebun bernama Iriawan Jati Asmoro yang menyarankan penanaman kelengkeng dengan sistem tanam dalam buis beton.

"Tujuannya agar kebutuhan air dan pupuk bisa terkontrol, dan kenyataannya tanaman bisa tumbuh bagus dan berbuah. Kalau untuk pemupukannya dilakukan setiap 3 bulan sekali dengan dosis 200 gram per pohon dengan pupuk NPK," katanya.

Berbekal hal tersebut, selama empat tahun ini dia mengaku sudah mampu panen 3 kali. Di mana panen di tahun ke 2 sudah panen 350 kilogram, tahun ketiga rata rata setiap batangnya mampu berproduksi 15 kilo sampai 20 kilogram.

Bahkan, pada panen tahun keempat di tahun 2021 ada beberapa pohon bisa berbuah hingga mencapai 33 kilogram per batangnya. Kendati demikian, dia menyebut masih ada puluhan batang yang belum berbuah.

"Sampai saat ini dari 138 batang pohon kelengkeng masih 27 batang yang belum berbuah. Yang lain sudah dinikmati hasilnya setiap tahun," ucapnya.

Karena banyaknya hasil panen, Sumanto lantas berkerja sama dengan pegiat Subur Bumi, yaitu komunitas yang ikut memasarkan kebun kelengkeng. Ternyata hal itu malah berdampak pada banyaknya tamu yang ingin melihat kebunnya.

"Saat ini banyak orang yang ke sini untuk beli kelengkeng dengan cara memetik langsung. Apalagi setiap hari selalu tersedia kelengkeng siap petik di kebun. Untuk harga petik langsung di kebun Rp 30 ribu per kilogram," ucapnya.

Sumanto menjelaskan bisnisnya ini berjalan sesuai dengan impiannya yakni ikut mendulang rezeki dari wisatawan yang datang berkunjung ke Gunungkidul. Dia juga berencana untuk mengembangkan lagi kebun kelengkengnya.

"Ya sekarang ini sesuai impian saya karena wisatawan Pantai Wediombo banyak yang mampir dan beli kelengkeng langsung dari kebun," ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono menjelaskan bahwa tahun lalu pihaknya mengembangkan tanaman kelengkeng seluas 70 hektare. Adapun rinciannya 40 hektare di Kapanewon Semin, 20 hektare di Kapanewon Patuk dan 10 hektare di Kapanewon semanu termasuk di kelompok tani (poktan) Sumanto.

"Harapannya semua petani kelengkeng bisa mencontoh pola pengelolaan kebun Pak Sumanto sehingga sukses berbuah. Karena di Gunungkidul ini ternyata sangat berpotensi untuk pengembangan buah seperti jelengkeng, alpukat dan lainnya," pungkasnya.



Simak Video "Wabah Antraks Merebak di Gunungkidul, Puluhan Warga Diduga Tertular"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/ahr)