Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melalui Dinas Tata Ruang (Distaru) menyiapkan solusi jangka pendek terkait longsor yang menyebabkan tiga rumah rusak berat di Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati. Langkah yang bakal dilakukan di antaranya menyuntikkan cairan semen.
Kepala Distaru Kota Semarang, Ferry Kuntoadji, menerangkan rumah-rumah tersebut dibangun di atas tanah rawan longsor. Kendati demikian, rumah bisa dibangun di atas kawasan rawan longsor dengan sejumlah catatan.
"Itu kan daerah rawan longsor. Adapun di daerah rawan longsor itu memang bisa didirikan bangunan tetapi dengan pengetahuan bahwa bangunan yang harus tahan terhadap longsor. Bangunan seperti ini itu bangunan yang tahan gempa," jelas Ferry saat ditemui di lokasi longsor, Selasa (5/5/2026).
Tiga rumah yang terdampak longsor itu berdiri tidak jauh dari sempadan Sungai Kripik. Ferry menyebut rumah-rumah tersebut masih berada di luar sempadan sungai.
"Di sini boleh (dibangun rumah), sepanjang di luar sempadan sungai, radiusnya 50 meter untuk sungai di daerah perkotaan. Tidak menyalahi tata ruang, masih di dalam kawasan permukiman dengan tetap menyediakan ruang untuk sempadan," ungkapnya.
Adapun solusi jangka pendek yang bakal dikerjakan oleh Distaru Kota Semarang adalah dengan meningkatkan kualitas tanah. Adapun caranya yakni dengan menyuntik tanah dengan semen dan membangun talud.
"Ini peningkatan kualitas tanah, jadi daya dukung tanahnya ditingkatkan, bisa banyak hal, bisa tanggul untuk menahan terjadi longsor atau perbaikan tanahnya sendiri, disuntik dengan cairan semen," ungkap Ferry.
Saat ditanya apakah tanah bakal dikembalikan ke kondisi semula dan disuntik semen, Ferry membenarkannya. Dia juga menegaskan bakal melakukan dua solusi jangka pendek itu.
"(Apakah tanah lebih dulu dikembalikan ke kondisi semula dan disuntik semen, lalu dibangun talud?) Iya, secara umumnya seperti itu. (Kedua langkah tersebut bakal dikerjakan?) Iya akan dilakukan seperti itu," pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, Ketua RT 5 RW 1 Kalialang Lama, Sabar Wahyudi, mengatakan masing-masing rumah itu terdampak longsor secara bergantian sejak 1 Mei hingga 4 Mei 2026.
Sabar menyebut salah satu warga terdampak longsor bernama Markonah memang memilih untuk menghuni rumahnya sementara. Markonah baru saja kehilangan cucunya yang meninggal saat kecelakaan di jalur Silayur, Ngaliyan, Senin (4/5) kemarin, sehingga rumah tersebut digunakan untuk layatan.
"Semalam itu setelah pemakaman adiknya ini, tadi malam pada duduk-duduk di sini, tiba-tiba terdengar pergerakan (tanah), pada lari," kata Sabar saat ditemui di lokasi, Selasa (5/5).
Sabar menjelaskan, terdapat 11 jiwa yang terdampak longsor tersebut.
"Area luasnya (longsor) kisaran 2.000 sampai 3.000 meter persegi. Kalau yang benar-benar roboh itu total ada tiga rumah dengan total jiwa itu 11," sebutnya.
(apu/dil)