Pilu Nenek Markonah Semarang: Cucu Tewas Kecelakaan, Rumah Hancur Kena Longsor

Pilu Nenek Markonah Semarang: Cucu Tewas Kecelakaan, Rumah Hancur Kena Longsor

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Selasa, 05 Mei 2026 19:57 WIB
Markonah (kanan), Walkot Semarang Agustina Wilujeng (tengah), dan Nanda Tiarawati (kiri), di Sukorejo, Gunungpati, Selasa (5/5/2026).
Markonah (kanan), Walkot Semarang Agustina Wilujeng (tengah), dan Nanda Tiarawati (kiri), di Sukorejo, Gunungpati, Selasa (5/5/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJogja
Semarang -

Seorang warga asal Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang, Markonah (60), kehilangan cucunya, RD (5), yang tewas saat kecelakaan di jalur Silayur, Ngaliyan pada Sabtu (2/5) pagi. Malamnya, Markonah kudu menerima kenyataan pahit akibat rumahnya yang rusak berat akibat terdampak longsor.

Selasa (5/5/2026), tampak Markonah duduk di samping Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, bersama menantunya, Nanda Tiarawati (25) di depan rumah tetangganya yang juga terdampak longsor.

Wajah sedih Markonah maupun Tiara tidak bisa lagi disembunyikan. Sesekali keduanya tampak menangis. Wali Kota Agustina pun memberikan tisu untuk keduanya. Agustina pun berupaya untuk menenangkannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Markonah mengaku sedih lantaran kehilangan satu-satunya rumah sekaligus cucunya di hari yang sama.

"Sedih kan saya habis kehilangan cucu, kecelakaan," kata Markonah ditemui di lokasi terdampak longsor.

ADVERTISEMENT

Untuk sementara waktu, Markonah memilih tinggal di rumah adiknya, Sri Wahyuni (42). Rumah milik Sri berada di samping rumah milik Markonah.

"Ini saya mengungsi di adik, rumah sebelah," ucapnya.

Dia pun berharap mendapat bantuan rumah baru. Sebab bangunan rumahnya kini hancur setengah akibat longsor.

"Harapannya mendapat bantuan rumah lagi. Kalau bisa secepatnya, karena rumah sudah mau roboh ini," harapnya.

Perasaan sedih tidak hanya dialami Markonah, tetapi juga Tiara. Selama ini, Tiara dan suaminya tinggal di rumah Markonah.

"2019 saya di sini (di rumah Markonah)," kata Tiara.

Tiara tidak menyangka harus kehilangan rumah dan anak semata wayangnya. Dia mengungkap, saat di jalur Silayur dia berkendara bersama ayahnya dan anaknya. Saat itu dia hendak mengajak anaknya untuk makan di salah satu restoran.

"Hari apes kan enggak ada di kalender. Jadi jam 10.00 kita berangkat dari rumah. Sorenya tuh rencananya (pergi ke salah satu restoran). Jam 10.30 kejadian laka," ungkapnya.

Sebelumnya, Tiara mengetahui adanya longsor tersebut dari media sosial. Dia pun menjemput anaknya yang tinggal di rumah Markonah lantaran khawatir.

"Kemarin kan begitu ini longsor saya langsung ke sini. Pikir saya kan takutnya kalau (anaknya) tidur pules kan enggak ada yang tahu (jika terjadi hal yang tidak diinginkan akibat longsor)," jelasnya.

3 Rumah Terdampak Longsor

Ketua RT 5 RW 1 Kalialang Lama, Sabar Wahyudi, mengatakan masing-masing rumah itu terdampak longsor secara bergantian sejak 1 Mei hingga 4 Mei 2026.

Sabar menyebut salah satu warga terdampak longsor bernama Markonah memang memilih untuk menghuni rumahnya sementara. Markonah baru saja kehilangan cucunya yang meninggal saat kecelakaan di jalur Silayur, Ngaliyan, Senin (4/5) kemarin, sehingga rumah tersebut digunakan untuk layatan.

"Semalam itu setelah pemakaman adiknya ini, tadi malam pada duduk-duduk di sini, tiba-tiba terdengar pergerakan (tanah), pada lari," kata Sabar saat ditemui di lokasi, Selasa (5/5).

Sabar menjelaskan, terdapat 11 jiwa yang terdampak longsor tersebut.

"Area luasnya (longsor) kisaran 2.000 sampai 3.000 meter persegi. Kalau yang benar-benar roboh itu total ada tiga rumah dengan total jiwa itu 11," sebutnya.

Sabar mengatakan, sejak 1 Mei 2026, longsor terjadi setelah hujan pada waktu setelah isya. Dua rumah di sebelah utara terdampak longsor secara berkala sejak 1 Mei.

"Kalau empat hari ini mesti rata-rata habis isya setelah hujan deras mulai per tanggal 1 Mei. Kalau pas 1 Mei itu pas jam 7 (malam). Kedua juga sama setelah habis isya," katanya.

"Kalau yang ketiga itu pertama sebelum hujan dinding sebelah roboh. Setelah hujan deras (4 Mei) baru itu dapur, kamar, kamar mandi itu hilang," lanjutnya.

Meski demikian, sebagian warga masih memilih tinggal di rumah yang terdampak longsor itu. Sebab, mereka tidak tahu bakal mengungsi ke mana.

"Dari warga sendiri masih kebingungan untuk mencari tempat. Dihuni ini (satu rumah) karena adiknya yang meninggal itu untuk nyambut para pelayat," kata Sabar.

Menurut Sabar, longsoran tersebut sebenarnya terjadi sejak 2019. Dia menyebut ada satu rumah warga yang terdampak longsor pada 2019.

"Kalau ditarik lebih jauh itu di tahun 2019 itu ada satu rumah yang roboh. Selang 6-7 tahun ini sudah mulai lagi," kata Sabar.

Sementara itu, warga yang rumahnya retak akibat longsor, Sri Wahyuni (43), mengatakan tanah longsor terjadi sejak Maret lalu. Namun, longsoran yang berdampak terhadap rumah warga terjadi sejak 1 Mei.

"Awalnya sih cuma sedikit, lama-lama menyebar, sejak Maret, parahnya itu baru-baru aja. Yang Maret itu cuma longsor saja, tidak kena rumah," ujar Sri.

Pada 1 Mei, Sri mengatakan, dirinya sedang berada di rumah. Sementara itu kakaknya yang bernama Markonah berada di rumah sendiri.

Saat mendengar bunyi tanah longsor, Sri lantas keluar. Dia langsung memanggil Markonah untuk keluar rumah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

"Keluar, kan dengar ada bunyi longsor, pas ambruknya rumah kakakku itu aku pas di depan rumah. Kakakku pas di belakang, tak teriakin langsung keluar. Tidak ada (korban jiwa). Kejadiannya 1 Mei," terangnya.

Sri berharap adanya solusi terbaik untuk warga terdampak longsor. Dia juga berharap adanya relokasi yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

"Semoga mendapat solusi yang terbaik buat kita. Harapan sih ada (relokasi), tapi jangan jauh-jauh," pungkasnya.

Halaman 2 dari 2
(apl/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads