7 Keluarga Korban Longsor Sukorejo Semarang Diungsikan ke Pesantren

7 Keluarga Korban Longsor Sukorejo Semarang Diungsikan ke Pesantren

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Selasa, 05 Mei 2026 18:12 WIB
Walkot Semarang Agustina Wilujeng meninjau rumah terdampak longsor di Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Selasa (5/5/2026).
Walkot Semarang Agustina Wilujeng meninjau rumah terdampak longsor di Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Selasa (5/5/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Tiga rumah warga rusak parah akibat tanah longsor di Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang. Sejumlah keluarga yang terdampak longsor itu bakal diungsikan ke Santrendelik, pesantren di Sukorejo.

"Ada 7 kepala keluarga yang memiliki potensi risiko longsornya itu tinggi. Tadi Pak RT, Bu Lurah, dan beberapa pegawai di kecamatan minta supaya pesantren (Santredelik) di dekat sini yang rumahnya bisa dipakai untuk sementara, mereka diungsikan dulu," kata Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, saat ditemui di lokasi terdampak longsor, Selasa (5/5/2026).

Agustina juga meminta camat sekitar untuk membersihkan lokasi yang akan menjadi hunian sementara itu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang juga diminta untuk menyediakan bantuan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sama pak camat saya minta untuk diberesin, dibersihkan, karena ada balita yang tinggal di sana. Saya juga minta BPBD menyiapkan bantuan bencana," ujar dia.

"Sebagian besar adalah buruh. Karena mereka tidak (bisa) bekerja, artinya kebutuhan sehari-harinya harus diselesaikan, karena mereka pasti tidak punya pendapatan untuk beli makan dan lain-lain," sambungnya.

ADVERTISEMENT
Walkot Semarang Agustina Wilujeng meninjau rumah terdampak longsor di Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Selasa (5/5/2026).Walkot Semarang Agustina Wilujeng meninjau rumah terdampak longsor di Kalialang Lama, Sukorejo, Gunungpati, Selasa (5/5/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng

Agustina juga meminta PDAM memastikan kebutuhan air bersih untuk warga tersebut. Saat ditanya soal opsi relokasi warga, Agustina mengatakan langkah pertama yang ditempuh saat ini menyediakan lokasi pengungsian sementara.

"(Soal opsi relokasi?) Ini sementara mengungsi dulu," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Ketua RT 5 RW 1 Kalialang Lama, Sabar Wahyudi, mengatakan masing-masing rumah itu terdampak longsor secara bergantian sejak 1 Mei hingga 4 Mei 2026.

Sabar menyebut salah satu warga terdampak longsor yang bernama Markonah memilih menghuni rumahnya sementara. Markonah baru saja kehilangan cucunya yang meninggal akibat kecelakaan di jalur Silayur, Ngaliyan, Senin (4/5) kemarin, sehingga rumahnya masih digunakan untuk layatan.

"Semalam itu setelah pemakaman adiknya ini, tadi malam pada duduk-duduk di sini, tiba-tiba terdengar pergerakan (tanah), pada lari," kata Sabar saat ditemui di lokasi, Selasa (5/5/2026).

"Area luasnya (longsor) kisaran 2.000 sampai 3.000 meter persegi. Kalau yang benar-benar roboh itu total ada tiga rumah dengan total jiwa itu 11," imbuhnya.

Sabar mengatakan, sejak 1 Mei 2026, longsor terjadi setelah hujan pada waktu setelah isya. Dua rumah di sebelah utara terdampak longsor secara berkala sejak 1 Mei.

"Kalau empat hari ini mesti rata-rata habis isya setelah hujan deras mulai per tanggal 1 Mei. Kalau pas 1 Mei itu pas jam 7 (malam). Kedua juga sama setelah habis isya," katanya.

"Kalau yang ketiga itu pertama sebelum hujan dinding sebelah roboh. Setelah hujan deras (4 Mei) baru itu dapur, kamar, kamar mandi itu hilang," lanjutnya.

Menurut Sabar, longsoran tersebut sebenarnya terjadi sejak 2019. Dia menyebut ada satu rumah warga yang terdampak longsor pada 2019.

"Kalau ditarik lebih jauh itu di tahun 2019 itu ada satu rumah yang roboh. Selang 6-7 tahun ini sudah mulai lagi," kata Sabar.

Sementara itu warga yang rumahnya retak akibat longsor, Sri Wahyuni (43) mengatakan tanah longsor terjadi sejak Maret lalu. Namun, longsoran yang berdampak terhadap rumah warga terjadi sejak 1 Mei.

"Awalnya sih cuma sedikit, lama-lama menyebar, sejak Maret, parahnya itu baru-baru aja. Yang Maret itu cuma longsor saja, tidak kena rumah," ujar Sri.

Pada 1 Mei, Sri mengatakan, dirinya sedang berada di rumah. Sementara itu kakaknya yang bernama Markonah berada di rumah sendiri.

Saat mendengar bunyi tanah longsor, Sri lantas keluar. Dia langsung memanggil Markonah untuk keluar rumah. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

"Keluar, kan dengar ada bunyi longsor, pas ambruknya rumah kakakku itu aku pas di depan rumah. Kakakku pas di belakang, tak teriakin langsung keluar. Tidak ada (korban jiwa). Kejadiannya 1 Mei," terangnya.

Sri berharap adanya solusi terbaik untuk warga terdampak longsor. Dia juga berharap adanya relokasi yang tidak jauh dari tempat tinggalnya.

"Semoga mendapat solusi yang terbaik buat kita. Harapan sih ada (relokasi), tapi jangan jauh-jauh," pungkasnya.



(dil/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads