BKSDA Bakal Pasang Jebakan untuk Tangkapi Monyet di Sukorejo Semarang

BKSDA Bakal Pasang Jebakan untuk Tangkapi Monyet di Sukorejo Semarang

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Kamis, 30 Apr 2026 17:47 WIB
BKSDA Jateng bakal tangkapi monyet-monyet yang masuk permukiman warga di Sukorejo Semarang. Monyet yang tertangkap akan dievakuasi ke Nusakambangan.
Ilustrasi monyet. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJateng
Semarang -

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah (Jateng) telah menyiapkan langkah penanganan jangka pendek terkait masuknya kawanan monyet ke permukiman Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Adapun penanganan jangka pendeknya yakni dengan memasang jebakan.

"Untuk jangka pendek ini kita datang itu sosialisasi juga, kita mengedukasi juga, masangkan yang jebak (jebakan)," kata Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Jateng, Nova Indri Hapsari, saat ditemui detikJateng, di Kantor BKSDA Jateng di Kelurahan Manyaran, Kecamatan Semarang Barat, Kamis (30/4/2026).

Jika monyet tersebut tertangkap, Nova mengatakan, pihaknya bakal merelokasi hewan primata tersebut ke Pulau Nusakabangan di Cilacap. Selain itu, dia menegaskan masuknya kawanan monyet ke permukiman perlu ditangani lintas instansi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nanti kalau satwanya sudah tertangkap nanti kita jemput untuk kita relokasi di belakang terus kita pindahkan ke tempat yang lainnya. Kita punya satu pulau yang kebetulan kawasan kami itu Nusakambangan," sebutnya.

Nova mengatakan, terdapat predator alami monyet di Nusakambangan seperti ular sanca hingga macan tutul. Dengan begitu, ekosistem monyet bakal bekerja secara alami.

ADVERTISEMENT
Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Jateng, Nova Indri HapsariKepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Jateng, Nova Indri Hapsari Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng

"Di sana ada predatornya, macan tutul, ular sanca, macan kumbang. Jadi, di mana di situ ada predator, di situ ada pakan. Ya itu akan bekerja secara alami. Ya, yang jelas itu akan jadi pakannya si macan-macan yang ada di Nusakambangan," bebernya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Konservasi Lingkungan Hidup DLH Kota Semarang, Priyatna, menambahkan pihaknya bakal survei ke lokasi hari ini.

"Hari ini kita langsung survei ke lokasi kondisi sebenarnya kaya apa, nanti tindakannya apa. Kita belum bisa matur (menyampaikan) yang harus kita lakukan apa. Kita harus koordinasi dengan kelurahan dulu," kata Priyatna.

Kawanan Monyet Serbu Kampung Sukorejo

Diberitakan sebelumnya, kawanan monyet menyerbu RT 3/RW 7 Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati. Ketua RT 3/RW 7 Kampung Kalialang Baru, Kunjaeri, menerangkan monyet-monyet tersebut sudah lama masuk ke perkampungannya. Mulanya hanya sejumlah ekor monyet saja yang datang.

"Ini dari bulan ke bulan ini sudah mulai meningkat, lah. Jadi saya melihat awalnya itu hanya satu, dua, mungkin satu yang tidak dapat jatah makan dari induknya sana turun ke bawah. Setelah sampai ke lingkungan sini ternyata kok banyak sekali asupan makanan," kata Kunjaeri ditemui di rumahnya, Senin (27/4/2026).

Hingga 6 bulan belakangan, Kunjaeri menyebut, satu kelompok monyet yang datang bisa mencapai 50-100 eko. Dia menyebut kelompok monyet itu datang diduga diajak oleh kawanan monyet lainnya. Adapun monyet yang datang memiliki ekor panjang.

"Malah sudah mencapai bahkan 50-100 monyet datang ke sini," sebutnya.

Para monyet itu biasa masuk perkampungan pada siang hari. Bahkan, monyet-monyet tersebut nongkrong di pos ronda kampung.

"Terus terkait dengan turun ke warga, mulai sekarang malah banyak sekali (monyet) yang berani bermain-main di pos ronda jaga warga," kata Kunjaeri.

Tak hanya ke pos ronda, monyet tersebut juga naik ke atap rumah hingga mengacak-acak tempat sampah milik warga. Kunjaeri menduga, kedatangan para monyet dipicu kebutuhan akan makanan.

"Kadang ada di atap genting. nah itu terkadang cari-cari makanan. Kadang itu ngorak-ngarik sampah. Itu yang menjadi risiko gangguan sebetulnya," ungkap Kunjaeri.

Kunjaeri menyebut, gerombolan monyet tersebut datang dari arah selatan. Dia menduga monyet-monyet tersebut datang dari wilayah Goa Kreo.

"Menurut sebagian warga yang mereka tahu itu dari arah selatan. Otomatis kalau dari arah selatan kaitannya dengan, mungkin, di Gua Kreo," sebutnya.

Warga pun sempat berkejaran dengan rombongan monyet itu. Warga sempat menyulut mercon dan dilempar ke gerombolan monyet.

"Sempat ada sekitar 50-an itu kejar-kejar warga bahkan sampai di apa serang pakai apa itu kembang api mercon itu kan jadi kayak perang zaman '45 gitu," jelas Kunjaeri.

Upaya menghalau monyet untuk datang tidak hanya dengan menggunakan mercon, warga juga menggunakan jaring maupun katapel agar monyet tidak masuk kampung.

"Kemarin sempat mempersiapkan plintheng (katapel), terus blandring (jaring). Dan kemarin kan mungkin barusan habis Hari Raya kan masih punya stok kembang api atau mercon gitu," sebutnya.




(afn/aku)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads