Kawanan Monyet Serbu Sukorejo Semarang, Diusir Pakai Ketapel-Mercon

Kawanan Monyet Serbu Sukorejo Semarang, Diusir Pakai Ketapel-Mercon

Muhammad Iqbal Al Fardi - detikJateng
Senin, 27 Apr 2026 16:27 WIB
Pos ronda RT 3/RW 7 di Sukorejo, Ngaliyan, Kota Semarang, tempat biasa monyet datang, Senin (27/4/2026).
Pos ronda RT 3/RW 7 di Sukorejo, Ngaliyan, Kota Semarang, tempat biasa monyet datang, Senin (27/4/2026). Foto: Muhammad Iqbal Al Fardi/detikJateng
Semarang -

Keresahan menghinggapi warga RT 3 RW 7 Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang. Gerombolan monyet menyerbu permukiman, memakan sisa makanan, hingga naik ke atap rumah warga.

Ketua RT 3 RW 7 Kalialang Baru, Kunjaeri (58), mengatakan monyet-monyet tersebut sudah lama masuk ke kampungnya. Mulanya hanya sejumlah ekor monyet saja yang datang.

"Ini dari bulan ke bulan ini sudah mulai meningkat, lah. Jadi saya melihat awalnya itu hanya satu, dua, mungkin satu yang tidak dapat jatah makan dari induknya sana turun ke bawah. Setelah sampai ke lingkungan sini ternyata kok banyak sekali asupan makanan," kata Kunjaeri ditemui di rumahnya, Senin (27/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hingga 6 bulan belakangan, Kunjaeri menyebut, satu kelompok monyet yang datang bisa mencapai 50-100 ekor. Dia menyebut kelompok monyet itu datang diduga diajak oleh kawanan monyet lainnya. Adapun monyet yang datang memiliki ekor panjang.

ADVERTISEMENT

"Malah sudah mencapai bahkan 50-100 monyet datang ke sini," sebutnya.

"Itu lumayan panjang ekornya. Kemarin di pos ronda saya dekat ya, kurang lebih 15 meteran lah saya lihat. Dari mulai induknya sampai anaknya sampai mungkin keluarga besarnya turun di situ semuanya. Macam-macam, tapi ekornya agak panjang," imbuhnya.

Monyet itu biasa masuk perkampungan pada siang hari dan juga nongkrong di pos ronda kampung.

"Mulai sekarang malah banyak sekali (monyet) yang berani bermain-main di pos ronda jaga warga," kata Kunjaeri.

Monyet tersebut juga naik ke atap rumah hingga mengacak-acak tempat sampah milik warga. Kunjaeri menduga, kedatangan para monyet dipicu kebutuhan akan makanan.

"Kadang ada di atap genting. nah itu terkadang cari-cari makanan. Kadang itu ngorak-ngarik sampah. Itu yang menjadi risiko gangguan sebetulnya," ungkap Kunjaeri.

Kunjaeri menyebut gerombolan monyet itu datang dari arah selatan. Dia menduga monyet-monyet tersebut datang dari wilayah Goa Kreo.

"Menurut sebagian warga yang mereka tahu itu dari arah selatan. Otomatis kalau dari arah selatan kaitannya mungkin dengan Goa Kreo," sebutnya.

Warga pun sempat berkejaran dengan rombongan monyet itu. Warga sempat menyulut mercon dan dilempar ke gerombolan monyet.

"Sempat ada sekitar 50-an itu kejar-kejar warga bahkan sampai diserang pakai kembang api mercon itu, kan jadi kayak perang zaman '45 gitu," jelas Kunjaeri.

Upaya menghalau monyet tidak hanya menggunakan mercon, warga juga menggunakan jaring maupun katapel agar monyet tidak masuk kampung.

"Kemarin sempat mempersiapkan plinteng (katapel), terus blandring (jaring). Dan kemarin kan mungkin barusan habis Hari Raya kan masih punya stok kembang api atau mercon gitu," sebutnya.

Warga lainnya, Agito, mengatakan monyet yang paling besar naik ke atap rumahnya. Dia menyebut, monyet yang paling besar tidak takut manusia.

"Kalau yang besar naik ke sini (atap rumah), nekat dia. Kalau digusar-gusar (diusir) nekat. Banyak (yang datang) yang besar-besar berani sama orang," sebutnya.

Agito pun menggunakan katapel untuk mengusir para monyet yang datang. Dia menyebut monyet yang datang seperti monyet yang bisa digunakan untuk topeng monyet. Dia berharap ada langkah dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

"Pakai ketapel biar pergi. Monyetnya seperti topeng monyet. Harapannya, ya, biar monyet itu nggak ke sini gimana pemerintah gitu, ditangkap, dikembalikan ke habitatnya, biar nggak ke sini, biar nggak meresahkan orang kampung," katanya.

Halaman 2 dari 2
(apu/dil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads