Warga RT 3/RW 7 Kampung Kalialang Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, dibuat resah resah dengan kedatangan kawanan monyet ekor panjang. Primata itu memakan buah maupun tanaman sebelum sempat dipanen.
Seorang warga yang tanamannya dirusak kawanan monyet, Agito, mengatakan setiap harinya gerombolan hewan liar tersebut mencuri pisang yang ditanamnya. Tidak hanya itu, tunas pohon pisang bahkan dipatahkan untuk dimakan.
"Setiap hari itu nyuri kalau nggak ada pisang, tanduran-tanduran dipotek, disesepi (dihisap)," kata Agito saat ditemui di rumahnya, Senin (27/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski belum menjadi buah, jantung pisang milik Agito juga tak luput dari keserakahan para monyet. Jantung pisang yang masih berada di pohon pun dimakan monyet.
"Pisang aja masih jantung dimakan, kok, apalagi sudah keluar pisangnya. Itu merusak segalanya," tuturnya.
Tak hanya pisang, ketela yang ditanam Agito pun menjadi sasaran monyet. Agito menyebut, ketelanya dicabut dan dimakan oleh kawanan hewan primata itu. Akibatnya, Agito tidak dapat memanen ketelanya.
"Ketela itu sering dicabuti, nggak bisa panen, masih kecil-kecil dicabuti," sebutnya.
Akibat monyet merusak tanaman pisangnya, Agito pun merugi. Dia menyebut kerugian yang dialaminya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu.
"(Kerugian berapa?) Tergantung, kalau pisangnya yang dirusak itu ada Rp 300 ribu-Rp 500 ribu. Kalau nggak ada pisang, anak-anak gedang dipotek," ungkapnya lesu.
Agito pun harus menjaga tamannya saban hari dari ratusan monyet. Tak jarang dia berkejaran dengan kawanan monyet.
"Sering ini jaga di sini, jaga pisang ini. Setiap hari kedatangan (kawanan monyet) dari sana (samping rumahnya) ke sini (depan rumahnya). Kalau saya grusa-grusa (mengusir) larinya (gerombolan monyet) ke sana (perkampungan). Kalau 150 ada, banyak sekali" sebutnya.
Kondisi tersebut juga diamini oleh Ketua RT 3/RW 7 Kampung Kalialang Baru, Kunjaeri. Dia menyebut, petani yang memiliki lahan di sekitar kampungnya dibuat gusar oleh kawanan monyet.
"Bahkan petani-petani lokal yang sampingan itu sering dibuat istilahnya gusar," kata Kunjaeri.
Para pemilik lahan bahkan tidak dapat menikmati hasil tanamannya. Sebab, kawanan monyet lebih dulu mengambil pisang hingga singkong. Kunjaeri menyebut lahan yang menjadi tegalan di wilayahnya sekitar 3.600 meter persegi.
"Kalau mengganggu untuk khususnya sebagian warga yang menanam di tegalan sampingan itu, ya, mengganggu. Terutama pisang, singkong, itu sebelum waktunya untuk panen sudah hilang dahulu. Kalah duluan daripada monyetnya," sebutnya.
Warga Usir Monyet Pakai Katapel-Mercon
Kunjaeri menerangkan monyet-monyet tersebut sudah lama masuk ke perkampungannya. Mulanya hanya sejumlah ekor monyet saja yang datang.
"Ini dari bulan ke bulan ini sudah mulai meningkat, lah. Jadi saya melihat awalnya itu hanya satu, dua, mungkin satu yang tidak dapat jatah makan dari induknya sana turun ke bawah. Setelah sampai ke lingkungan sini ternyata kok banyak sekali asupan makanan," kata Kunjaeri ditemui di rumahnya, Senin (27/4/2026).
Hingga 6 bulan belakangan, Kunjaeri menyebut, satu kelompok monyet yang datang bisa mencapai 50-100 eko. Dia menyebut kelompok monyet itu datang diduga diajak oleh kawanan monyet lainnya. Adapun monyet yang datang memiliki ekor panjang.
"Malah sudah mencapai bahkan 50-100 monyet datang ke sini," sebutnya.
Para monyet itu biasa masuk perkampungan pada siang hari. Bahkan, monyet-monyet tersebut nongkrong di pos ronda kampung.
"Terus terkait dengan turun ke warga, mulai sekarang malah banyak sekali (monyet) yang berani bermain-main di pos ronda jaga warga," kata Kunjaeri.
Tak hanya ke pos ronda, monyet tersebut juga naik ke atap rumah hingga mengacak-acak tempat sampah milik warga. Kunjaeri menduga, kedatangan para monyet dipicu kebutuhan akan makanan.
"Kadang ada di atap genting. nah itu terkadang cari-cari makanan. Kadang itu ngorak-ngarik sampa. Itu yang menjadi risiko gangguan sebetulnya," ungkap Kunjaeri.
Kunjaeri menyebut, gerombolan monyet tersebut datang dari arah selatan. Dia menduga monyet-monyet tersebut datang dari wilayah Goa Kreo.
"Menurut sebagian warga yang mereka tahu itu dari arah selatan. Otomatis kalau dari arah selatan kaitannya dengan, mungkin, di Gua Kreo," sebutnya.
Warga pun sempat berkejaran dengan rombongan monyet itu. Warga sempat menyulut mercon dan dilempar ke gerombolan monyet.
"Sempat ada sekitar 50-an itu kejar-kejar warga bahkan sampai di apa serang pakai apa itu kembang api mercon itu kan jadi kayak perang zaman '45 gitu," jelas Kunjaeri.
Upaya menghalau monyet untuk datang tidak hanya dengan menggunakan mercon, warga juga menggunakan jaring maupun katapel agar monyet tidak masuk kampung.
"Kemarin sempat mempersiapkan plinteng (katapel), terus blandring (jaring). Dan kemarin kan mungkin barusan habis Hari Raya kan masih punya stok kembang api atau mercon gitu," sebutnya.
Warga lainnya, Agito, mengatakan monyet yang paling besar naik ke atap rumahnya. Dia menyebut, monyet yang paling besar tidak takut manusia.
"Kalau yang besar naik ke sini (atap rumah), nekat dia. Kalau digusar-gusar (diusir) nekat. Banyak (yang datang) yang besar-besar berani sama orang," sebutnya.
Agito pun menggunakan katapel untuk mengusir para monyet yang datang. Dia menyebut monyet yang datang seperti monyet yang bisa digunakan untuk topeng monyet. Dia berharap ada langkah dari pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
"Pakai katapel biar pergi. Monyetnya seperti topeng monyet. Harapannya, ya, biar monyet itu nggak ke sini gimana pemerintah gitu, ditangkap, dikembalikan ke habitatnya, biar nggak ke sini, biar nggak meresahkan orang kampung," katanya.
Pantauan detikJateng di lokasi, tidak satu pun monyet yang terlihat di perkampungan tersebut. Sementara warga masih beraktivitas seperti biasa.











































